BMK 15. Penthouse

Featured Image

[MAYE]

“Apa yang kau inginkan?” aku bertanya seolah ingin memakannya. Aku sekarang berbicara dengan Henrico Gomes di Skype. Setelah menguntitku di facebook dan mencoba menghubungiku sampai sekarang. Aku memilih untuk berbicara dengannya, ketika dia berkata padaku mengenai hari ulang tahun kakakku yang akan tiba dalam tiga minggu.

“Ini tentang Joanna,” katanya sambil menyeringai padaku. Terlihat sangat bodoh menurutku.

“Baiklah, jika ini bukan tentangnya aku tidak akan berbicara denganmu.”

“Aku punya sebuah rencana kejutan ulang tahun untuknya.”

“Lalu, apa hubungannya denganku?” tanyaku sarkastik.

“Kau harus membantuku,” katanya terlihat sedikit jengkel denganku.

“Kau punya semua yang kau butuhkan, kenapa kau membutuhkanku?” tanyaku, masih sarkastik.

“Karena kau adiknya dan dia bekerja keras di sini untuk membantu seluruh keluargamu dan aku akan sangat percaya bahwa itu tidak akan terlalu berlebihan jika kau membantuku dengan kejutannya.” Dia kini nampak marah.

Dia mengerti intinya. “Okay baiklah. Aku minta maaf.” Aku menenangkan diriku. “Sekarang apa?”

Aku mendengarkan ucapannya dan semua rencananya.

“Bagaimana menurutmu?” tanyanya.

Aku menghela nafas panjang. “Aku setuju dengan rencananya, tapi tentang bagianku, aku akan memikirkannya.”

Dia terlihat kecewa. “Tentu, hanya beritahu aku.”

“Terima kasih. Sampai jumpa.”


[JOANNA]

Matheus dan aku pergi ke penthouse lebih cepat siang ini untuk mempersiapkan makan malam dan mengirimkan barang kami. Nyonya Santos dan pekerja yang lain sudah siap pagi ini. Ketika lift terbuka, pemandangan tak biasa penthouse terlihat olehku.

“Apakah kita mendatangi penthouse yang salah, Matheus?” tanyaku. Aku sangat yakin aku menekan lantai yang benar pada lift.

“Ku kira tidak,” katanya dengan senyum padaku. “Sebenarnya ini keterlambatan renovasi yang panjang. Ketika kami memperoleh property ini dua tahun yang lalu, kau hanya akan melihat seperti sebelumnya. Tapi sekarang, ku pikir ini sudah sesuai dengan seleraku.”

Aku memutar pandanganku pada renovasi penthouse. Desain yang lama sudah hilang. Sekarang berganti menjadi desain gaya modern, dengan susunan jendela lebar terbuka yang bisa memaksimalkan pemandangan cantik kota khususnya pada malam hari. Keistimewaannya hampir di semua tempat terdapat pintu kaca; pintu itu membuat ruangan terlihat lebih luas. Perabotannya sudah diganti dengan warna modern seperti cream, coklat kelabu dan biru terang. Ruang pekerja dipindahkan ke bagian lain. Ketika aku masuk ke ruang tamu, sekarang terlihat lebih santai dengan bantal dimana-mana. Ruangannya masih di tempatnya, tapi dindingnya berubah menjadi dinding kaca yang tertutup dengan gorden.

Aku pergi ke dapur untuk mendapati bagaimana perubahannya. Aku terpesona ketika aku melihat perubahan yang terjadi pada tempat favoritku di penthouse. Ini bukan lagi dapur biasa. Ku pikir semua yang peralatan dapur sudah tersedia. Aku berjalan menghampiri untuk melihat ruang makan. Aku berada di sisi lain ruang tamu. Kau bisa melihat pemandangan kota yang mengagumkan dari jendela lantai ini melalui dinding kaca.

“Apa kau menyukainya?” Aku tersadar ketika mendengar Matheus berbicara.

“Bagaimana mungkin kau bisa membuat renovasi ini dalam dua minggu?” tanyaku dengan jujur terkesan.

“Aku punya caraku,” jawabnya sambil tersenyum.

“Kau benar-benar hebat.” Aku tersenyum padanya. Sejak kami pindah ke kediaman dua minggu yang lalu, Matheus menjadi orang yang berbeda. Semua orang terlihat menyadarinya. Aku bisa melihat dia kembali tersenyum pada pegawai yang ditemuinya di sepanjang jalan, menurut pengakuan Grace; dia tidak pernah melihat ini dalam dua tahun ia bekerja untuk Matheus.

“Ayo, aku akan menunjukkan sesuatu padamu.” Dia membimbingku ke lobi. Dia memimpinku ke pintu kaca yang sangat bagus, dimana dulu itu adalah kediaman pekerja. Ada pintu lainnya. Dia membukanya.

Dan boom! Itu adalah ruang bioskop dengan selusin kursi dan sebuah perangkat televisi lengkap berukurat seratus inchi dan home theatre di tengah ruangan. Ada sebuah panggung dan peralatan band lengkap di sampingnya. Di sisi lain ada mini bar; di sampingnya terdapat tumpukan CD dan DVD film tersusun berdasarkan kelompoknya. Rahangku seakan terjatuh ketika melihat pemandangan itu.

“Ayo melihatnya lain kali, tapi pertama kau harus melihat ini.” Kami pergi keluar dan membuka pintu lain. “Jadi aku bisa bergabung bersamamu ketika berlari.” Whoa! Sebuah gym! Dengan semua perlengkapan gym yang bisa kau bayangkan.

Aku kehilangan kata-kata ketika aku melihatnya. Kenapa aku memiliki perasaan bahwa dia melakukan semua renovasi ini untukku?

“Ini adalah bagian utamanya.” Dia membawaku ke area lobi. “Lihat itu?” dia menunjuk pada langit-langit.

“Itu adalah langit-langit, dengan warna biru laut yang sangat bagus.”

“Tidak, perhatikan lebih dekat.”

Aku memusatkan mataku menatap langit-langit.

“Oh, astaga!” Tidak butuh waktu lama sebelum aku menyadari apa itu. Aku memeluknya tanpa sadar. “Ini benar-benar luar biasa.”

Dia menunjuk tangga di samping area penerimaan. Dengan gembira aku mengambil tangga dan mencapai bangunan atap dengan kolam renang besar yang sangat bagus. Di sampingnya ada sebuah Jacuzzi yang besar. Samar-samar bayangan itu bisa memberikan pemandangan menenangkan. Aku bisa melihat ada satu ruang dinding kaca dengan sentuhan interior Asia.

“Apa kau menyukainya?”

“Yeah! Kita bisa berlomba di sini, kan?”

“Ya, sebenarnya ini dibuat agar aku bisa latihan dan mengalahkanmu untuk pertama kalinya,” ujarnya, tertawa sambil melihatku.

“Kau tidak bisa mengalahkanku, jadi ‘pertama kali’ yang kau maksud tidak akan pernah terjadi.”

“Bagaimana jika aku benar-benar mengalahkanmu?” tanyanya.

“Itu tidak mungkin terjadi,” balasku menggodanya.

“Bagaimana jika itu terjadi?

“Apa yang kau inginkan?”

“Sepanjang hari bersamaku,” jawabnya dengan senyuman. Tapi aku menemukan situasi ini sangat aneh.

“Apa?” tanyaku, benar-benar bingung.

“Kau akan menghabiskan 24 jam seluruh waktumu denganku, dan kau hanya akan mengatakan ya padaku. Kau tidak akan bertanya kemana kita akan pergi. Kau hanya akan berkata ya,” jelasnya. Dia masih tersenyum seperti dia benar-benar bersemangat untuk membuat hal itu terjadi.

“Tidak setuju.”

“Apa kau takut? Ku kira kau tumbuh besar di pasifik?” tanyanya. Itu adalah isyaratnya.

“Okay, baiklah.”

“Bagus, ayo turun. Ku pikir cateringnya akan tiba sebentar lagi,” ujarnya.

Aku melihat bayanganku di depan kaca yang menampakkan aku mengenakan gaun baruku. Elle memilih gaun ini yang termasuk salah satu koleksi pakaian kasual-nya yang jarang dipakai. Sebuah gaun tanpa lengan berwarna kuning telur, dengan dengan potongan V pada bagian punggung yang terbuka. Aku memasangkannya dengan sandal wedges tiga inchi. Aku mengaplikasikan make up sederhana mengikuti sebagaimana ajaran Elle cara mengenakannya.

Dengan potongan baru rambut pendekku, sekarang nampak sosok yang lebih ramping, aku merasa seperti aku orang yang benar-benar berbeda. Sebenarnya aku menghargai orang yang kulihat di depan kaca. bagaimana aku mendeskripsikan diriku? Yeah, aku benar-benar terlihat segar.

Aku menaruh kacamata baruku dan keluar dari kamarku di kediaman pekerja dan melihat Nyonya Santos.

“Hai, Nyonya Santos!” sapaku padanya.

“Selamat malam Joanna, kau terlihat manis. Tuan Gomes sudah menunggu di ruang tamu.”

“Terima kasih Nyonya Santos.”

Aku berjalan keluar dari pintu keluar kediaman pekerja. Dari lobi, aku bisa melihat Matheus melewati dinding, duduk di atas sofa. Aku tersenyum menatapnya, apa dia sangat bersemangat sekarang, biasanya akulah orang yang mengetuk pintu kamarnya. Aku mungkin bersiap-siap terlalu lama.

“Hai, Matheus, kau datang lebih awal.”

Dia berdiri dan berbalik padaku. Dia mengenakan kaos polo lengan panjang berwarna kuning terang. Mungkin ini pertama kalinya aku melihatnya dalam pakaian itu. ku pikir dia akan mengenakan setelannya yang biasa.

“Hai, Joanna. Gaun itu memancarkan kecantikanmu.”

Aku bisa merasakan pipiku memanas.

“Aku tidak ingin membantahnya,” aku tersenyum padanya. “Aku akan memeriksa cateringnya, permisi.”

“Mereka bilang mereka dalam perjalanan. Ku pikir mereka akan tiba dalam sepuluh menit.”

Aku mengecek pada ruang makan dan meyakinkan bahwa semuanya sempurna. Aku kembali ke Matheus di ruang tamu.

“Sudah siap; aku hanya akan menunggu mereka di lobi. Aku akan menghubungimu ketika mereka datang.” Aku berputar kembali untuk pergi ke lobi.

“Joanna, tunggu. Aku akan menunggu denganmu di luar.” Dia berjalan dengan cepat mendekatiku.

Aku mengangguk dan berjalan bersamanya ke lobi dan berdiri di depan pintu lift. Tiba-tiba aku merasakan perasaan canggung menunggu bersamanya. Seperti kami benar-benar adalah pasangan, mempersiapkan makan malam di rumah kami. Aku mengambil napas panjang, dan dia mendengarnya.

“Untuk apa itu?” tanyanya menyelidik.

“Ku pikir mereka di sini.”

Kami melihat pada lift, seperti dugaan, itu benar-benar terbuka dan menampakkan Luiz, Camila dan Henrico yang datang.

Mereka terlihat tertarik melihat kami berdua di sini. Kami saling bertegur sapa.

Seperti biasa, Henrico memecah suasana dengan gayanya dalam pernyataan menindasnya. “Jadi, sejak kapan kalian berdua harus mengenakan pakaian berpasangan.”

Matheus membalasnya dengan kasar. “Jangan mulai, Henrico.”

Dia mengangkat tangannya. “Tidak. Tapi aku harus bilang, adik kecilku semakin cantik setiap harinya. Biarkan aku menebak, si lesbian itu yang memilihkan gaunmu.”

“Ya, kakak, dan dia bukan seorang lesbian.”

Kami pergi untuk melihat penthouse. Kekaguman menguasai seluruh percakapan.

“Ini benar-benar seperti bayanganku bagaimana Matheus akan merenovasi rumah. Yah, kecuali untuk kolam renang di atap. Bagian itu benar-benar mengejutkan mengingat Matheus tidak pernah menyukai renang sebanyak itu,” ujar Henrico dengan seringai jahatnya lagi.

Yah, dia menyukai berenang belakangan ini.” Camila membela putranya.

“Dan ku pikir tempat ini benar-benar sangat ‘Matheus’. Sesuai seleranya. Memiliki kolam renang tidaklah buruk. Itu akan baik untuk kesehatannya,” Luiz menambahkan.

Henrico mengangkat tangannya. “Okay.”

Setelah makan malam mewah, para lelaki pergi ke bar dan mengambil sedikit minuman. Aku dan Camila duduk di meja dekat kolam renang dan melakukan sedikit percakapan.

“Aku tidak bisa percaya kau adalah Joanna yang sama yang melangkah masuk ke rumah kami. Kau terlihat muda dan bahagia.” Camila mengatakannya dengan tersenyum bahagia menatapku.

“Terima kasih untukmu, keluargamu. Kau benar-benar sangat baik padaku.”

“Tidak, Joanna, terima kasih padamu. Kau membawa kembali Matheus padaku. Aku berharap dia akan tetap begitu.”

“Camila, Matheus hanya kembali pada dirinya yang dulu sebagaimana katamu, itu pilihannya. Tidak ada hubungannya hal itu denganku.”

Ada keheningan panjang di antara kami.

Kemudian dia bertanya, “Sayang, hubungan apa yang kau miliki dengan Matheus?”

Aku tidak tahu apa maksud sebenarnya dari pertanyaannya itu. “Maaf, aku tidak mengerti maksudnya?”

“Sayang, kita berdua tahu apa yang terjadi antara Matheus dengan asisten sekertaris sebelumnya, maksudku– “

“Oh, Tuhan! Tidak!” aku benar-benar syok bahwa dia bahkan berpikir begitu. “Oh, maaf Camila. Maksudku, tentu saja tidak.”

“Sayang, aku tidak bermaksud menyakiti. Ini hanya semua berjalan terlalu cepat di antara kalian. Aku tahu kau cukup umur untuk mengatur perasaanmu. Aku hanya tidak ingin salah satu dari kalian terluka.”

Aku menghela napas. Aku, diriku sendiri bahkan bingung dengan bagaimana perasaanku pada Matheus. “Camila, tidak ada apa-apa di antara aku dan Matheus dan tidak akan ada apa-apa. Aku hanya memikirkan hubungan pekerjaan kami akan semakin baik dan sekarang ini benar-benar baik sebagaimana mestinya.”

“Aku senang mendengarnya. Dan apa pun yang ada di antara kalian, ini benar-benar berefek baik untukmu. Kau terlihat cantik, maksudku berbeda. Aku susah mengenalimu ketika aku memasuki penthouse.”

“Terima kasih, Camila.”

BMK 14. Perubahan
BMK 16. The 'So'

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

Leave a Reply

Your email address will not be published.