BMK 14. Perubahan

Featured Image

[HENRICO]

Setelah perjalanan bisnis selama dua minggu di Brazil, aku pulang ke kediaman. Aku memiliki penthouse baru, hanya dua blok dari penthouse Matheus, tapi aku lebih suka pulang ke rumah tempat Ayah dan Ibu. Aku tiba larut malam, ketika aku melihat mobil Matheus dalam garasi besar kami.

Ketika aku bangun pagi untuk berlari, aku melihat Matheus dan Joanna berlomba di kolam renang. Melihat pemandangan itu, sepertinya Joanna yang memimpin. Dia selalu menjadi perenang yang baik; aku selalu mendapati-nya berenang di tengah malam. Untuk catatan, aku tidak pernah menang darinya di beberapa kesempatan dimana aku mengajaknya berenang, dia selalu mengatakan padaku, ‘Aku tumbuh besar di Pasifik.’

Aku hanya mengamati mereka dari jauh. Perubahan sikap Matheus sekarang sangat jauh dari Matheus yang ku lihat selama ini. Dia terlihat bahagia. Lebih tepatnya, ketika dia berbicara dengan Joanna di kolam renang.

Aku pergi mendekat untuk menyapa mereka. “Hai, Kakak, dan kau juga Adik kecilku.” Keduanya memutar kepala melihatku. Joanna berlari padaku ketika dia melihatku. Dia mengenakan pakaian renang one-piece hitam, lebih ramping, seksi dan lebih berani. Ku pikir dia kehilangan banyak berat badannya dalam dua minggu sejak aku tidak melihatnya.

“Hai, Kakak, penindas nomor satuku. Bagaimana Brazil?” Dia bertanya dengan penasaran padaku.

“Kau nampak menakjubkan.” Matheus mendekat untuk menyapaku. Dia bahkan nampak lebih baik sekarang dibandingkan dua tahun terkahir ini. “Hai, Kak! Kau juga nampak lebih baik.”

“Jangan menyanjungku, Henrico,” kata Joanna. “Sungguh, Joanna terlihat lebih baik, berapa pound yang kau hilangkan?”

“Ku pikir dua puluh. Terakhir kali dia berdiri di atas timbangan kemarin, dia kehilangan delapan belas pound.” Matheus menjawab cepat. “Kami pindah kemari sehari setelah kau pergi ke Brazil. Aku berencana merenovasi penthouse. Kami akan di sini untuk dua minggu lebih. Aku menemani Joanna setiap pagi untuk berenang, membantunya dalam proyek-kurus-Joanna. Dia benar-benar melakukannya dengan baik. Kami membalik dietnya, dari makan banyak di malam hari, kami makan makan banyak di pagi hari, tidak ada nasi di malam hari. Lalu, memperbanyak air dan buah, tentunya.”

Aku hanya menatap Matheus selama dia berbicara. Aku bahkan tidak bertanya detailnya, tapi dia menjelaskannya. Aku hanya tetap mengangguk dan terus mengangguk padanya.

“Ku pikir kau tidak akan menang dari Joanna mulai sekarang.”

“Tidak, aku hanya tidak membuat perlombaan serius, tapi aku akan membuat diriku sendiri menang, mungkin minggu depan.” Matheus menjawab dengan mempertahankan dirinya. Dia benar-benar tampak bodoh dengan gerakannya.

“Tidak, kau tidak akan pernah menang dariku.” Joanna menyeringai pada Matheus. “Ingat,”

“Aku tumbuh besar di Pasifik,” seru keduanya bersamaan dan tertawa.

Aku hanya menatap keduanya yang nampak senang. Mereka menjadi semakin dekat sejak dua minggu terakhir aku tidak di sini? “Apa ada sesuatu yang terjadi di antara kalian yang aku tidak tahu?”

Keduanya menatapku terkejut. Mencoba membuka mulut mereka dan mungkin mencoba menjelaskan setelah mereka menyadari bahwa aku menyadari ada sesuatu yang telah terjadi. “Tentu saja tidak,” jawab Matheus cepat.

“Okay, aku akan bertemu dengan kalian saat sarapan.” Aku meninggalkan keduanya dengan seringai jahat. Aku menatap ke belakang dan melihat keduanya kembali menyelam dan berlomba.

Aku tersenyum sendiri. Sejak Joanna pindah bekerja pada Matheus, keduanya berubah.

Matheus terlihat lebih ramah dan cerah; maksudku sosoknya tidak lagi nampak keras sebagaimana dulu. Dia masih orang yang sama kejamnya, tapi kapanpun ada Joanna di sekitarnya, dia tidak bisa tetap keras seperti dulu. Sosok Joanna nampaknya membuat suasana hatinya baik. Dia sekarang tersenyum, dan ya, dia berbicara sekarang, banyak, dan bukan tenang bisnis. Bisa dipastikan, kakakku kembali.

Joanna, di sisi lain, dia menjadi lebih terbuka. Dia dulu begitu pemalu. Saat pesta, dia nampak benar-benar berbeda. Tidak hanya karena gaunnya, atau sihir apa pun yang digunakannya untuk menutupi perut besanya, dia terlihat sangat cantik malam itu, hingga aku hampir tidak bisa mengenalinya. Dia begitu percaya diri, bukan karena dia bersebelahan dengan Matheus yang hebat, tapi karena Matheus membuatnya merasa begitu.

Ketika aku berlari, aku menyadari bahwa ulang tahun Joanna akan tiba dua minggu lagi. Aku punya sebuah ide.

Ketika aku sampai di kediaman, meja telah terisi. Aku melihat Matheus dan Joanna keluar dari dapur.

“Telurnya benar-benar terlihat lebih baik kali ini. Tidak buruk,” kata Joanna, tertawa menatap Matheus.

“Yeah, aku cepat belajar.” Matheus balik tersenyum, mereka bertingkah seolah hanya mereka di dalam ruangan. “Ku pikir kita harus melihat sebuah film lagi di bioskop. Aku berpikir Marsha Reyes punya film baru, kita bisa mendapatkan tiket VIP untuk malam pembukaan.”

Aku tertawa mendengar ide Matheus yang menawari Joanna sesuatu seperti itu. Dia benar-benar sangat terpesona padanya.

“Tidak, aku lebih baik berada di bioskop kediaman. Paling tidak, tidak ada reporter,” jawabnya dengan tersenyum.

Kapan mereka akan menyadari keberadaanku? Aku penasaran.

“Kita bisa menyewa seluruh gedung bioskop,” tawar Matheus. Dimana aku berpikir itu sangat berlebihan.

“Itu sangat berlebihan,” seru Joanna. Tepat sekali.

“Ada yang mencuri dengar.” Itu adalah suara Ibu yang datang. Matheus dan Joanna, keduanya memuar kepala padaku.

Aku berbalik pada Ibu dan Ayah. “Selamat pagi, Bu, Ayah.” Aku mencium keduanya dan mengembalikan perhatianku pada Joanna dan Matheus. “Aku tidak mencuri dengar, Bu. Mereka hanya tidak menyadari kehadiranku. Kedengarannya seperti banyak hal terjadi sejak dua minggu aku tidak ada di sini.” Aku memberi mereka seringai nakalku.

“Jangan asal mengartikan apa pun yang kau lihat.” Matheus menjawabku dingin. Dia terlihat sangat marah, dimana, bagiku, itu sangat lucu.

“Oh,” seruku menyeringai. “Baiklah, jika memang seperti itu, kurasa aku harus mencarikan Joanna seorang kekasih. Biar ku pikir,” Aku bertingkah seperti aku memeriksa sesuatu di phonselku. “Ku pikir yang satu ini akan sempurna, tampan, kaya dan pria yang sopan. Jadi, Adik kecil, kosongkan jadwalmu untuk makan malam jumat nanti. Aku yakin Matheus tidak akan keberatan.” Aku menatap Matheus. Dia melihatku seperti dia mencoba untuk menikamku hingga mati.

“Siapa orang itu?” tanya Matheus, mencoba menahan diri agar tidak terdengar seperti seorang suami yang cemburu.

“Hmmm, aku tidak akan mengatakannya padamu. Itu akan menjadi kencan buta,” jawabku menggoda. Dia akan mengutukku untuk ini.

“Bagaimana jika Joanna terluka. Bagaimana jika pria itu melukainya?” Sekarang suaranya terdengar histeris.

“Kak, dia tidak akan terluka. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang akan memberi kesempatan pada Luiz Gomes untuk mencabut hak warisnya atasku,” ujarku menegaskan.

Luiz tertawa mendengar rencanaku. “Hanya pastikan Joanna pulang ke rumah dengan selamat. Selain itu, ini hanya masalah waktu sampai Joanna menemukan seseorang.”

“Yeah, ku pikir akan ada seseorang yang mengagumi kecantikanmu dan sisi barumu. Ku pikir kegiatan pagi yang kau lakukan bersama Matheus benar-benar bekerja.” Aku benar-benar tidak sabar melihat apa yang akan terjadi.

“Okay, mari kita hentikan pembicaraan ini. Aku selesai, jadi kurasa kita bisa mulai makan.”


[MATHEUS]

Aku duduk di meja ruang rapat di kantorku, di gedung Gomes, ketika Joanna masuk melewati pintu. Dia masih dengan tatanan rambutnya yang biasa, kemeja berwarna putih sebagai dalaman, blazer hitam, celana dan kacamata berbingkai gelap. Baju yang dikenakannya tampak kebesaran sekarang, itu menunjukkan dia kehilangan beberapa berat badannya secara signifikan.

“Matheus, ada beberapa revisi desain untuk tiga hotel di Filipina, menunggu persetujuanmu. Aku sudah memeriksanya, ku pikir beberapa perbaikan akan menjadi lebih baik. Apa kau mau aku menyusun penawaran untuk kontruksi atau kita akan mengontrak secara langsung Kontruksi Montes?”

Aku hanya mendengarkan, tapi sebenarnya tidak menangkap semua perkataannya.

“Pak?”

“Oh, maaf.”

“Apa kita punya masalah?” tanyanya terdengar khawatir.

“Jam berapa sekarang?” tanyaku tiba-tiba.

Dia melirik jam tangan di lengannya. “Dua lebih seperempat.”

“Katakan pada sopir, kita akan pergi dalam sepuluh menit.”

“Maaf?” dia bertanya padaku seolah dia tidak mendengar ucapanku.

“Ya, kau mendengarku dengan jelas. Aku akan menunggumu di luar.”

Aku segera meninggalkannya dan membawa beberapa kertas yang perlu ku periksa dan meletakkannya di dalam tas kerjaku.

Hampir jam tiga sore ketika kami sampai di The Elle M. Fashion, sebuah butik yang khusus menyediakan pakaian dan asesoris untuk pekerja wanita. Sebuah toko pakaian milik Marielle Montes, saudari Marco yang lebih muda. Joanna melemparkan tatapan ‘kemana-kita-akan-pergi’ di sepanjang perjalan kami. Aku hanya mengabaikannya. Sekarang kami di sini, dia nampak mengagumi beberapa pakaian cantik disekitarnya.

Seorang pelayan wanita mendekatiku ketika kami memasuki butik.

“Selamat siang, Pak, saya Loreen. Ada yang bisa saya bantu?”

“Ya, aku butuh pakaian kerja untuknya,” kataku dengan menatap Joanna. “Apa Marielle di sini?”

“Ya, Pak. Bisakah saya tahu nama anda?” dia memanggil pelayan lain yang kebetulan berada di dekatnya.

“Matheus Gomes.”

“Terima kasih, Pak.” Dia menatap sales lain itu. “Tolong katakana pada Nona Marielle, Tuan Matheus Gomes ada di sini mencarinya.” Kemudian dia kembali menatapku. “Silahkan duduk, Pak, Bu, sebelah sini.”

Joanna menatapku, tapi aku hanya memberinya senyuman. Aku mengambil tempat duduk di kursi yang pelayan tadi tawarkan padaku.

“Mat!” Aku tahu itu adik Marco, Marielle. Aku berbalik padanya. “Senang melihatmu. Seperti hampir seabad sejak aku tidak melihatmu.” Dia terlihat sangat bersemangat melihatku. Khusus untuk fashion, dia berbeda. Dia benar-benar menyangkal berkali-kali tentang masalah gossip lesbian-nya. Aku tidak pernah melihatnya memakai pakaian yang didesainnya. Dia selalu memakai celana panjang atau pendek dan kaos polos. Biasa dan sederhana. Tapi dia cantik, sangat cantik.

“Hai, Elle. Senang bertemu denganmu juga.”

“Apa yang membawamu kemari?” dia tidak menungguku untuk menjawab. “Pertama, dia pasti sangat special.” Aku melihat kilat di matanya. Dia benar-benar terlihat senang untukku. Elle sudah seperti adik perempuan untukku. Yeah, dia seperti adik perempuan yang tidak pernah kumiliki. Marco selalu mengira aku menyukainya. Sebenarnya, ya, tapi bukan dalam hubungan romantis.

“Tidak juga,” jawabku dengan senyuman.

Dia mengerutkan dahi. “Tidak bisa dipercaya. Untuk seorang Matheus Gomes, Presiden dan CEO Gomes Group, bujangan paling di cari, yang terkenal dengan kekayaan dan ketampanannya, merendahkan diri untuk mengunjungi toko kecilku dan berbelanja untuk seorang teman. Aku sulit untuk percaya bahwa; dia BUKANLAH orang yang spesial.”

“Hey, aku berbelanja dengan Ibu, kau tahu itu.”

“Yeah, kau berbelanja bersama ibumu, dan hanya untuk ibumu,” balasnya cepat. Dia benar-benar menggodaku dan membuatku sangat tidak nyaman.

“Tuan Gomes, bagaimana dengan ini, Pak?”

Suara dari pelayan membuatku dan Elle berbalik untuk melihat orang yang dimaksudnya. Terlihat Joanna, berdiri dengan malu-malu dalam balutan setelan kerja berwarna merah marun tanpa lengan yang memeluknya erat tubuhnya. Dia terlihat elegan dalam pakaian itu. Baru sekarang aku menyadari seberapa banyak berat badannya hilang.

“Oh, hai.” Elle menyapa Joanna. Joanna menatapku, seolah bertanya padaku siapa dia. “Hai, aku Marielle. Kau bisa memanggilku Elle.”

Joanna tersenyum padanya. Yeah, ini bahasa para gadis, mereka saling mengerti satu sama lain. “Aku Joanna, Joanna Castillo. Aku asisten pribadi Matheus.”

“Oh, Joanna yang menutup kesepakatan dengan investor Jepang. Aku mendengar banyak tentangmu.” Elle terlihat terkejut melihatnya, dimana Joanna tampak bingung dengan informasi itu.

Aku dengan suka rela menjelaskan padanya. “Dia adalah adik Marco, Marielle Montes.”

“Oh, ini kejutan,” seru Joanna.

“Ahmmm, bisakah aku membawa Joanna sebentar?” tanya Elle. Dia berbicara tanpa suara yang seolah berkata, aku akan memastikan makeover-nya.

“Tentu,” jawabku. Aku diam-diam memberikan kartuku padanya, dimana dia terlihat sangat senang, seolah dia mendapatkan boneka baru untuk di dandani.

“Joanna, aku akan menemuimu di kediaman. Anthony akan kesini untuk menjemputmu nanti.”

“Tapi, Matheus,” dia telihat khawatir.

“Kau akan baik-baik saja. Sampai nanti.”

Aku meminum wine sambil menunggu Joanna. Yeah, kenapa juga aku menunggunya?

“Dimana gadis kecil itu?” Henrico datang tidak lama kemudian. Dia benar-benar seperti Ayah yang datang tiba-tiba.

“Dia bersama dengan Elle.”

“Elle?” tanyanya.

“Marielle, adik Marco,” jawabku.

“Si lebian?” tanyanya sambil tertawa.

“Dia tidak lesbian,” jawabku keberatan.

Dia mengabaikanku. Elle dan Henrico tidak bisa berada di satu tempat bersama, mereka membenci satu sama lain.

Aku mendengar pintu depan terbuka. Mungkin itu Joanna. Aku berjalan ke luar ke pintu depan untuk melihat siapa yang datang.

Lalu Joanna datang. Dalam balutan gaun bertali spageti berwarna peach. Dia masih menggunakan kacamatanya, tapi sekarang dengan bentuk yang menonjolkan hidung dan pipinya. Rambutnya terlihat sangat halus dan bersinar. Rambut panjangnya berganti, itu tidak di potong pendek hanya di atas lengannya. Meski terlihat gelap, aku bisa tahu warna barunya, coklat terang. Dia terlihat muda, hebat dan sangat bagus, bukan, memikat, maksudku,… sangat bagus.

Sopir datang dengan tas berlabel The Elle M.

Henrico menepuk lenganku dan memegang rahangku untuk menutup mulutku yang terbuka. “Kunang-kunang bisa masuk,” dia menyeringai padaku. “Aku harus bilang, si lesbian itu benar-benar punya selera fashion yang bagus. Dan ya, kau sudah seharusnya mengganti isi lemari pakaianmu, terlihat kebesaran untukmu, bisa-bisa di sangka sakit. Fashion baru ini cocok untukmu. Aku suka rambutmu.”

“Terima kasih, Kak. Dan sebenarnya, Elle bukan seorang lesbian.” Dia berbalik menatapku. “Ini, terima kasih. Aku akan membayar kembali semua ini padamu. Aku memaksa.”

“Itu tidak perlu, Joanna.” Aku ikut bersikeras.

“Ya, Adik kecil, Matheus akan mendapatkannya kembali dalam beberapa detik.” Henrico berbalik menatapku dengan membuat wajah bodoh. “Dia hanya mempersiapkanmu untuk kencan minggu ini, benarkan Matheus?”

Henrico masih menatapku dan aku hanya memiliki sedikit kesabaran untuknya. Aku mengabaikannya.

“Ngomong-ngomong Joanna, perbaikan penthouse akan selesai besok. Kita akan pindah hari rabu. Tolong persiapkan catering untuk makan malam kecil dengan keluarga untuk acara keramahan rumah baru.”

“Okay, Matheus.”

“Terima kasih. Aku juga harus meninjau untuk revisi, kita tidak akan punya penawaran untuk kontruksi, tapi hubungi semua perusahaan kontruksi internasional untuk pengajuan proposal.”

“Okay.”

Dia tersenyum.

BMK 13. Chek Bonus
BMK 15. Penthouse

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

Leave a Reply

Your email address will not be published.