BMK 13. Chek Bonus

Featured Image

[JOANNA]

Aku menanti Matheus bangun sebelum keluar dari kamar, sehingga dia tidak akan menjadi histeris.

“Selamat pagi, Joanna,” sapanya padaku.

“Selamat pagi, Matheus. Aku akan menemuimu dalam satu jam.”

Aku memutuskan berlari sebelum menyiapkan sarapan untuknya. Aku pergi mandi, lalu menyiapkan sarapan. Aku menyajikannya di meja ketika Matheus muncul dengan pakaian santainya.

“Hai! Kau tepat waktu. Tunggu di sana, aku akan membuatkan kopi.”

Ketika aku selesai membuat kopi, aku memberikannya padanya. Setelah berdoa, aku meletakkan nasi goreng dan bacon di piringnya. Dia menyesap kopinya dan tersenyum padaku.

Aku membalas senyumnya. Setelah apa yang Henrico ceritakan tentangnya; yang tidak tersenyum setelah setahun tinggal di kamarnya, aku merasa sangat canggung melihat senyumnya sekarang.

“Aku melihatmu berlari di treadmill tadi. Jadi, kau benar-benar serius menurunkan berat badan.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Ahm. Aku hanya melihatnya dari monitor CCTV di kamarku. Aku terkejut kau tidak menyadarinya.”

“Oh, benarkah?” yang kumaksudkan, bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya? “Apa kau punya camera CCTV di kamarku?”

Dia menahan tawanya. “Tidak di semua ruangan, Joanna. Hanya semua area penthouse ini dan tempat tinggal pegawai, kecuali kamar tidur dan kamar mandi umum.”

Aku menghela napas lega. “Yah, kau mungkin tidak akan tertarik dengan apa yang ada di dalam kamar mandi.”

“Tepat sekali. Apa kau mau aku membantumu dalam proyek-kurus-Joanna?”

Aku mengerutkan alisku padanya, mencari tahu apakah dia serius. “Ahm. Pertama, ini bukan sesuatu seperti proyek-kurus-Joanna. Kedua, aku tidak berlari di treadmill untuk menjadi kurus, aku hanya ingin menjernihkan pikiranku dan memulai hari dengan benar.”

“Yah, apa pun motivasimu, aku ingin bergabung bersamamu untuk berlari pagi.”

Aku menatapnya lurus. “Aku hanya punya satu treadmill.”

Dia memutar wajahnya, dimana itu nampak imut. “Itu masalah kecil.”

Yah, dia bisa membeli treadmill seperti keinginannya, tambahkan fakta bahwa aku tidak akan bisa menang melawannya dalam masalah ini. “Okay, baiklah. Lalu mari kita buat perjanjian.”

“Perjanjian?” ulangnya.

“Yah, kau mendengarku dengan sangat baik.”

“Perjanjian apa?”

“Ahm, kau hanya bisa ikut berenang bersamaku. Dan kau akan berhenti melakukannya ketika aku mencapai empat puluh satu pound.” Itu artinya, dia hanya bisa menemaniku berenang setiap akhir pekan, karena tidak ada kolam renang di penthouse ini.

( 1 pound/ 1 pon = 0.4 kg. Perhitungannya terlalu sedikit, jika di hitung 41 pon = 18 kg. Tapi kita ikutin saja apa kata penulisnya yah. mungkin maksudnya 41 kg? Metrik berat untuk orang US memang membingungkan.)

“Berapa berat badanmu?”

“Seratus lima puluh lima,” jawabku menahan malu.

“Mari kita buat seratus sepuluh. Sepakat?” katanya dengan senyuman dan mengulurkan tangannya padaku.

Aku meraih tangannya dan setuju pada kesepakatannya.

Phonselku berbunyi, dan itu adalah panggilan Video dari Martin, teman dekatku yang gay. Aku menatap Matheus. “Bisakah aku mengangkatnya? Martin tidak pernah menghubungiku di jam ini kecuali ada sesuatu yang penting.”

“Tentu,” jawab Matheus, melanjutkan makannya.

“Ya, besh?”

“Hai, besh,” sapanya balik.

“Yah, ini Matheus.” Aku memindahkan fokus layar pada Matheus agar Martin bisa melihatnya. “Matheus, ini Martin, alias Marthina.”

“Hai, Marthina, senang berjumpa denganmu.”

“Akhirnya, senang bertemu denganmu juga.” Ekspresi Martin sangat bersemangat.

“Jadi, ada apa? Ini pasti sangat penting.”

“Yah, Ibumu pasti sangat khawatir tentang ini.”

“Apa? Apa yang terjadi? Apa ini tentang anak-anak? Katakan padaku.” Aku benar-benar khawatir mendengar kata-katanya.

“Kau benar-benar anak ibumu. Berhenti bersikap berlebihan,” katanya dengan sikap gemulainya, sebagaimana biasanya.

“Lalu ada apa sebenarnya?” Aku mulai menjadi tidak sabar dengan caranya mengulur waktu.

“Yah, kau berada dalam berita nasional di sini, di Negara kesayangan kita.”

Aku menatap Matheus, sebagaimana dia memberikan perhatian penuh. “Berita apa?”

“Yah, disini dikatakan bahwa, Milyuner New York, Matheus Gomes, CEO dan Presiden dari Gomes Group terlihat bersama seorang gadis Filipina sebagai pasangannya, Joanna Castillo, selama acara yang diselenggarakan oleh salah satu desainer paling terkenal di dunia, Sheira Marie Ferriera. Menurut sumber, Joanna adalah mantan asisten pribadi dari Luiz Gomes, ayah dari Matheus, tetapi kemudian diserahkan pada Matheus Gomes. Matheus sendiri mengenalkan Joanna sebagai manajer proyek.”

Aku kembali menatap Matheus.

“Maaf jika semua menjadi seperti ini, Joanna. Tapi kau harus terbiasa dengan itu. Tentunya, mereka akan melihat kita lebih sering, begitu proyek Filipina ditangani.” Matheus menjelaskan dengan tenang. Seolah dia sudah terbiasa mengatakannya. “Katakan pada ibumu untuk tidak khawatir.”

“Ngomong-ngomong, kenapa Ibu sangat khawatir tentang ini?” Aku bertanya pada Martin.

“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku harus mengatakan tigal hal. Pertama, kau terlihat pada bagian berita selebriti. Dua, kau menjadi terkenal di twitter dengan hastag MatheusandJoanna, dan tiga, kau terlihat bagus di foto itu. Tapi yang pasti, alasan kenapa ibumu khawatir adalah, karena media national terus menghubunginya.”

Aku mengerti sekarang. Namaku akan dihubungkan dengan orang-orang yang sangat kaya, tanpa menyebutkan pebisnis tampan yang seharusnya menjadi topik yang dibicarakan. “Apa yang harus kita lakukan, Matheus?”

“Tidak ada. Hal yang bagus dari ini adalah bahwa kita mendapatkan pengiklanan gratis untuk hotel,” Matheus terangkan.

“Okay,” Aku kembali menatap Martin. “Tolong katakana pada Ibu untuk menghubungiku segera. Dan tidak ada yang terjadi padaku, aku hanya datang ke pesta karena keberuntungan saja.

“Baiklah. Aku hanya menghubungimu agar kau bisa tahu beritanya, besh.”

“Terima kasih, besh.”

Telepon berakhir dan aku kembali menatap Matheus. “Maaf untuk barusan. Ayo kita makan lagi.”

“Ngomong-ngomong, Joanna. Ku pikir kau juga harus tahu, bahwa kau akan menjadi kepala tim kerja pada proyek ini. Aku akan meminta pada Grace untuk memberikanmu berkas kontrak yang baru.”

“Apa pernah bertanya apa aku akan menerima tawaran itu?” tanyaku menyeringai.

“Aku tahu kau akan menerimanya.”

“Bagimana jika aku menolak?” gurauku.

“Aku tidak akan makan sampai kau menerima tawaran itu,” katanya sambil tersenyum.

“Sangat pintar,” ujarku tertawa.

“Hai, love birds!” Henrico tiba-tiba muncul dari belakang kami.

(Love birds = cara untuk bergurau dengan menyindir pasangan, artinya ‘Sepasang Burung Cinta’)

“Kenapa kau datang tanpa pemberitahuan?” tanya Matheus sebal.

“Selamat pagi, Kakak.” Henrico mengabaikan kalimat tidak ramahnya. “Halo, Adik kecil, kau terlihat baik-baik saja, dan gambarmu tampak memenuhi seluruh berita gossip pagi ini.”

“Hai, Kakak, senang melihatmu. And seperti yang Matheus katakan, aku harus mulai terbiasa dengan itu.”

“Ya, itu awal yang bagus.”

“Apa kau mau kopi?” tanyaku menawarkan.

“Tidak, terima kasih. Aku hanya datang untuk mengatakan padamu bahwa aku akan pergi ke Brazil untuk perjalanan bisnis. Aku akan kembali dalam beberapa minggu.”

“Hati-hati dan sampaikan salamku pada nenek.” Matheus berdiri untuk memeluk adiknya. “Hati-hati.”

“Tentu saja. Kupikir aku tidak akan khawatir tentangmu dan memata-mataimu untuk Ibu. Kau terlihat lebih baik. Kupikir tersenyum itu bagus untukmu. Aku berpikir ketika aku kembali dari Brazil, aku bisa melihat kembang api lagi.”

“Jangan mulai,” kata Matheus memperingatkan.

Dia pergi dengan tersenyum penuh makna pada kami, keluar dari penthouse.

Ketika Henrico sudah keluar, Matheus memberiku sebuah amplop putih. Aku memberinya tatapan penuh tanya.

“Bukalah, Joanna.” Perintah Matheus.

Aku membuka amplop putih itu dan menemukan dua cek atas namaku. Satu berisikan seratus ribu dollar dan yang lain berisikan tiga puluh ribu dollar.

“Untuk apa ini?” tanyaku.

“Itu dari kesepakatan kita,” katanya, tersenyum.

“Tiga puluh ribunya untuk?”

“Bonus tambahan?”

“Aku tidak bisa menerimanya.” Aku mendorong cek yang lain padanya.

Dia meraih tanganku, mengirimkan perasaan tersengat aliran listrik padaku. “Anggaplah sebagai bonus kesepakatanmu.”

“Aku tidak menandatangani kontrak apa pun.”

“Kau akan,” ujarnya, tersenyum dengan masih memegang tanganku. “Kau tidak bisa menolaknya. Aku tahu kau bersemangat, karena aku melihat proyek yang kau rancang sendiri akan menjadi kenyataan.”

Aku menyerah, karena aku tahu aku tidak akan menang, dan tangannya membuatku sangat tidak nyaman. “Terima kasih.”

“Tidak, Joanna. Terima kasih.”

BMK 12. Mengenal Sheina
BMK 14. Perubahan

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

Leave a Reply

Your email address will not be published.