BMK 12. Mengenal Sheina

Featured Image

[JOANNA]

Camila ingin mengejar Matheus yang dilihatnya keluar ballroom, tetapi Luiz menahan tangannya. “Berikan dia waktu, Sayang.” Camila mengangguk dan kembali duduk ditempatnya. Ada keheningan panjang di antara meja kami. Sungguh menulikan telinga. Banyak pertanyaan yang berkeliaran di pikiranku. Aku ingin bertanya pada mereka, apa yang terjadi, namun tak ada suara yang keluar dari mulutku.

Hingga Luiz berbicara, “Joanna, cari dia, pastikan dia pulang dengan selamat.” Aku mengangguk dan beranjak untuk menemukan Matheus. Aku menemukannya di balkon, sendirian, jauh dari keramaian. Dia hanya berdiri, menatap kosong pemandangan malam kota New York. Aku melihatnya dari jauh; dia tidak mengatakan apa pun, tapi aku merasakannya, aku bisa merasakan lukanya. Aku berbalik kembali ke ballroom untuk mengambil dua gelas anggur.

Aku kembali padanya dan memberikannya segelas anggur. Dia menatapku, dan aku masih bisa melihat lukanya. Ya, ini benar-benar melukainya. Tapi dia meraih segelas anggur dan kembali menatap pemandangan di luar.

“New York di malam hari selalu menawan,” kataku.

“Keindahan New York adalah ketika kau dikelilingi sesuatu yang tidak kau miliki,” jawabnya tanpa menatapku.

“Keindahan New York membuatmu berpikir kau bisa memilikinya.”

Dia menatapku dengan mata berkilau. “Suasana yang canggung,” ujar kami bersamaan. Kami tertawa bersama.

“Aku tidak percaya kau bisa melihatnya.” Aku tidak percaya dia bisa melihat jenis film seperti itu.

“Salahkan Marco. Dia memberiku banyak copian DVD-nya. Aku melihatnya sesekali, dan sedikit menyukainya.”

“Sedikit,” ulangku menekan.

“Ya, sedikit.

Aku merasa senang. “Kau mengingat kisahnya dan kau bilang padaku kau hanya sedikit suka?”

Dia menyeringai. “Kau lebih memesona dari pada New York.”

Aku merona. Mengapa aku selalu merona hari ini! “Aku tidak.”

“Ya, memang. Itu kenapa semua orang menyukaimu.”

Kecuali kau. Kataku pada diri sendiri. Aku tersenyum dan mengabaikannya.

“Matheus,” Kami menoleh ketika suara halus itu datang. Itu Shiena.

Aku tahu, saat itu seharusnya aku tidak disini, jadi aku berencana meninggalkan keduanya, tapi Matheus meraih tanganku dan menahannya. Dia menggenggamnya erat, hingga hampir mematahkan tanganku.

Sheina semakin mendekat. “Matheus, ayo kita berbicara. Kumohon.”

Matheus meremas tanganku lebih kuat, seolah dia menyerap kekuatan dariku. “Sheina, aku bahagia untukmu. Ini sesuatu yang kau inginkan. Kami harus pergi. Aku harus bertemu klien besok.”

“Matheus, kumohon…,” Sheina hampir memohon.

“Ngomong-ngomong, pesta yang hebat.” Kami berbalik, ketika Matheus mengabaikannya. Aku menengok ke belakang melihatnya, dia menangis.

Aku melewati ballroom ketika berjalan keluar. Henrico melihat kami dan aku memberinya isyarat bahwa kami akan pergi. Dia mengangguk; tidak bertanya dan membalas isyaratku agar menghubunginya.

Kami sedang duduk diam di dalam limousin ketika Matheus meraih kedua tanganku. Menenangkan dirinya dan mencoba untuk tenang. “Terima kasih, Joanna.”

Aku mengerutkan kening. “Untuk apa?”

“Untuk, tidak pergi.”

“Kau menggenggam tanganku seperti kau akan menghancurkan tulangku. Bagaimana aku bisa pergi?”

“Aku melakukan itu?”

“Ya, kau melakukan itu.”

“Maaf untuk itu.”

“Bukan masalah.”

Kami sampai di ruang tamu penthouse ketika dia meminta dibuatkan secangkir kopi. “Bisakah kau membuatkanku kopi?”

“Tentu. Aku hanya akan berganti dulu.”

“Ya.” Aku berbalik ke kediaman pegawai. “Dan ngomong-ngomong, Joanna.” Aku berbalik melihat wajahnya. “Terima kasih telah menjadi pasanganku. Kau sangat cantik; kecantikan bisa benar-benar di abaikan. Tapi kau terlihat cantik secara alami.”

“Terima kasih.” Aku tersenyum padanya.

Aku pergi ke kediaman pegawai dan menutup pintu di belakangku. Aku bersandar pada pintu yang tertutup. Apa aku baru saja mendengar dia mengatakan, kecantikan alami? Oh, Astaga!

Aku mandi cepat dan meraih beberapa pakaian bersih. Aku keluar dengan piyamaku dan membuat kopi untukku dan Matheus.

Aku pergi ke kamaranya dan melihatnya berdiri di samping meja. Dia membuka tirai kaca jendela apartemennya, yang memperlihatkan pemandangan malam New York yang cantik. Dia menatap kosong pemandangan itu, lagi.

“Matheus,” Aku mengulurkan kopinya.

“Terima kasih.”

Kami menyesapnya. “Duduklah, Joanna.” Dia menunjuk sofa di ruangannya.

Aku duduk ketika dia kembali menatap jendela lagi. “Apa yang paling kau sukai dari New York, Joanna?” tanyanya tanpa melihatku.

“Keluargamu,” jawabku sesuai kenyataan.

Dia mengerutkan kening.

“Kalian semua. Kalian sangat baik padaku, seolah aku adalah bagian dari keluarga. Aku tidak tahu jika kau tidak menyukainya. Membuatku tidak terlalu merindukan rumah. Rasanya aku seperti di rumah. Jika bukan karena keluargamu, aku sudah akan pulang ke rumah.”

“Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Tapi aku masih harus mengucapkan terima kasih. Kau menyayangi mereka, karenanya mereka juga menyayangimu.”

Aku menganggukkan kepala.

Lagi, ada keheningan yang lama. Aku telah menghabiskan kopiku dan berencana untuk keluar dari kamar. “Selamat malam, Matheus.”

“Joanna, jangan pergi. Temani aku, tolong.” Kalimat itu lagi, hanya saja kali ini, namaku di sebut di awal dan ada kata ‘tolong’ di akhir. Aku tidak mengatakan apa-apa, tapi tetap duduk.

Dia menaruh cangkir di meja samping tempat tidur. “Joanna, aku tahu apa yang kulakukan Jumat kemarin, dan-”

“Berhenti, Matheus. Jangan membahasnya.”

“Tapi, Joanna, aku ingin bilang-”

“Ku mohon,” Aku berdiri. “Ayolah Matheus, kau harus segera tidur.” Dia manatapku lekat. “Tolong berbaringlah sekarang, Matheus.”

“Joanna, aku minta maaf memanggilmu dengan namanya. Tolong, aku minta maaf.” Aku merasa seperti terlempar saat itu. Aku tidak mengatakan apa-apa. Tidak bisa mengatakan apa-apa. “Aku membencinya. Sialan! Aku membencinya karena meninggalkanku. Aku benci mengingatnya. Aku membenci semua tentangnya. Aku membencinya!” Dia menangis dihadapanku. Aku merasa sakit, ini seperti dia menyembunyikan luka itu untuk waktu yang lama.

Aku memiliki dorongan untuk memeluknya. Dia menangis di pundakku. Untuk waktu yang lama. Aku mengusap punggungnya dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.

“Matheus, tidak apa-apa. Kau bisa beristirahat sekarang.”

Dia berbaring di tempat tidur. Aku menyelimutinya. “Selamat malam, Matheus.”

“Joanna, jangan pergi. Tetaplah bersamaku, tolong.” Kata-kata itu lagi.

“Baiklah,”

Aku menemaninya hingga dia tertidur.

Aku meraih beberapa selimut dan membuat diriku nyaman di sofa. Dia tidur dengan nyenyak. Aku menutup mataku untuk tidur, ketika aku mendengar teleponku berbunyi.

“Halo!” Itu Henrico.

“Bagaimana keadaannya?” suaranya terdengar khawatir.

“Dia sedang tidur sekarang.”

“Bagus. Aku ada di dalam lift. Aku akan tiba sebentar lagi. Sampai jumpa.” Dia menutup teleponnya.

Aku keluar dengan pelan dari kamar Matheus untuk menemui Henrico. Aku melihatnya di ruang tamu. Dia nampak terkejut melihatku keluar dari kamar Matheus.

Wajah khawatirnya berubah menjadi seringai jahat. Aku tahu benar apa yang ada dalam pikirannya.

Aku meraih sebuah banta sofa dan melemparkannya padanya. “Kau benar-benar brengsek!”

Dia menangkap bantal itu dan menertawakanku. “Astaga, untuk apa itu?”

“Aku tahu apa yang kau pikirkan.”

“Aku tidak berkata apa-apa, Adik kecil.”

“Bagaimana bisa kau begitu pintar mengerjaiku?” Dia tertawa lebih keras.

“Okay,” dia mengangkat tangannya. “Salahku, Adik kecil. Jadi, ceritakan sekarang. Apa yang terjadi di antara kau dan kakakku di kamarnya?”

“Kedengarannya jahat untukku,” aku menghela napas. “Okay, jadi begini,” Aku menjelaskan apa saja yang terjadi di kamar Matheus tadi.

Henrico hanya mengangguk dan mengangguki semua yang kukatakan. Dia tersenyum kecil di wajahnya.

“Bagaimana bisa kau tidak percaya padaku?”

“Aku percaya padamu,” katanya masih tersenyum.

“Okay, sekarang giliranmu bercerita. Siapa sebenarnya Sheina di hidupnya?”

Yah… kau hanya harus tahu mengenai Matheus.”

“Aku mendengarkan.”

“Matheus itu seperti Ayah. Dia adalah cerminan Ayah. Dia tampan, selalu memutar matanya, dia menangis hanya karena film. Dia sangat romantis. Dia pergi keluar bersama Ibu setiap akhir pekan ke toko. Dia sangat pintar dan lucu. Dia mudah dikerjai. Setelah lulus dari Harvard, dia di kirim untuk mengelola kantor kami di Brazil untuk di latih. Kami sebenarnya adalah orang Brazil. Hotel pertama kami di bangun di Brazil. Ayah ingin berkembang, karenanya mereka memilih untuk kemari, New York, itulah alasan kami tumbuh dan besar di New York. Tapi ketika Matheus bekerja di Brazil, dia bertemu Sheina. Dia jatuh cinta begitu dalam padanya.”

Aku terdiam.

“Lalu?” Aku memberinya isyarat untuk melanjutkan.

“Matheus adalah jenis lelaki membosankan. Dia tidak pernah mengencani siapa pun selama kuliah. Dia sangat romantis seperti Ibu. Syukurlah, aku tak sepertinya,” katanya, menggelengkan kepalanya. “Jadi, Shiena adalah cinta pertamanya. Mereka benar-benar saling mencintai. Mereka berdansa tanpa musik, berciuman di bawah hujan, menonton film di bioskop, berdansa di bawah cahaya bulan, dan mereka melihat matahari terbit.”

“Okay, lanjutkan.”

“Lalu setelah empat tahun kebersamaan mereka, mereka memilih untuk menikah, semua orang sangat senang. Pernikahan paling besar di Brazil. Sheina adalah model terkenal di Brazil dan kabar pernikahan itu menjadi berita di semua tempat. Tapi pada hari pernikahan, ketika mereka hampir mengatakan ‘aku bersedia’, Sheina melarikan diri.”

“Oh!” Aku tidak tahu harus berbicara apa.

“Matheus berusaha mencarinya, ingin tahu alasannya. Tapi dia tidak muncul, bahkan orang tuanya tidak pernah tahu dimana dia berada. Setelah tiga bulan mencarinya, Matheus menyerah, tapi dia tidak kembali hampir setahun. Matheus punya ketakutan ditinggalkan. Aku tinggal di dalam kamarnya dan tidak pernah keluar. Tapi dia masih ketakutan pada kesendirian. Dia akan selalu mengatakan ‘jangan pergi’.”

Aku mengangguk dan dia melanjutkan.

“Ibu selalu bersamanya. Setelah setahun, Matheus akhirnya keluar dari kamarnya. Dia meminta pada Ayah untuk mempercayakannya kantor yang ada di New York. Matheus yang lama kembali, kecuali kebahagiaanya. Di tambah dia menjadi seorang penakluk wanita. Aku sebenarnya tidak pernah melihat dia tersenyum sejak saat itu. Itu kenapa, aku tidak percaya ketika kau bilang dia tersenyum padamu.”

“Keluarga Ferreira adalah teman. Bahkan setelah apa yang terjadi di antara Matheus dan Sheina, keluarga kami tetap berteman. Malam ini, adalah pertama kalinya dia melihat Sheina setelah sekian lama.”

“Itu menjelaskan segalanya,” gumamku.

“Kau tahu, Joanna. Tadi pagi saat sarapan, ketika kau mengambilkan makanan ke dalam piringnya, dan dia membalas bergurau, serta tertawa, itu adalah kakakku yang sebenarnya.” Dia mengambil napas panjang. Air mata jatuh menuruni pipinya. “Dan aku menyadari betapa aku merindukannya. Aku merindukan kakakku, Joanna.” Dia menatap mataku lurus. “Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi aku harus berterima kasih padamu. Aku merasa seperti kau membawa kembali kakakku yang hilang.” Dia meraihku dan memelukku erat.

“Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak benar-benar melakukannya, Henrico.”

“Aku tahu, tapi aku tetap berterima kasih padamu.” Dia masih menangis. Kenapa semua orang menangis dipelukanku malam ini?

Aku mengusap punggungnya. “Berhenti menangis, Kakak. Kau nampak benar-benar mengerikan.”

Dia tersenyum padaku sekarang. “Kau suka padanya?”

Aku menatap tajam padanya. “Tentu saja tidak.”

“Ayo kita buat perjanjian,” serunya bersemangat.

“Perjanjian apa?”

“Aku akan membantumu bersama Matheus. Dan kau membantuku untuk bersama Maye.”

Aku tertawa kecil. “Perhatikan bibirku, Kakak. Tidak ada perjanjian.” Itu berarti ‘Tidak’.

“Apa?”

“Kau mendengarku.”

“Kenapa?”

“Karena dia adikku.” Aku tertawa menatapnya.

“Itu tidak adil.”

“Kau harus pergi sekarang. Sampai jumpa.”

Dia mencium keningku. ” Sampai jumpa, Adik kecil.”

“Hati-hati di jalan.”

Aku tersenyum menatapnya keluar melalui pintu.


Halo guys, ini alex.iteba.

sedikit info; mulai dari bab ini, terjemahan telah di ambil alih, dan di kerjakan oleh Deera.

Didukung ya deeranya 🙂 . Thank you.

Alex.iteba.

BMK 11. Bertemu Sheina
BMK 13. Chek Bonus

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

Leave a Reply

Your email address will not be published.