BMK 1. Pertemuan

Featured Image

-JOANNA-

 “Maaf, Pak Gomes?” Aku duduk di kursi di depan meja eksekutif Luiz Gomes, bosku selama hampir dua tahun. Aku merasa hancur karena perintahnya.

“Ya, kau mendengar aku benar Joanna, mulai besok, kau akan melapor ke penthouse Matheus, kau akan menjadi asisten pribadi barunya.” Dia tersenyum.

“Apa anda tidak mau saya lagi Pak Gomes?” Saya khawatir jika ada hal yang salah yang telah saya lakukan agar Tuan Gomes melempar ku ke anaknya. Aku tahu Gomes muda itu kejam, jahat, tidak bahagia dan ya, benar-benar tampan. Aku menghapus kalimat terakhir dalam pikiranku.

“Tidak, Joana, kau masih akan bekerja dengan perusahaan yang sama, Matheus hanya membutuhkan asisten pribadi yang baru, karena kau akan bekerja dengan nya, aku sarankan kau membawa barang-barang mu ke rumah staf di penthousenya malam ini. Bersiaplah dan temui dia jam 6 pagi.” Asisten pribadi keluarga biasanya tinggal bersama keluarga di rumah staf. Sejak Camila dan Luiz Gomes tinggal di rumah besar tersebut, Joanna tinggal bersama mereka di rumah staf, rumah besar tersebut. Gomes ‘adalah majikan yang baik. Mereka bermurah hati saat memberi gaji. Mereka adalah salah satu pemilik hotel terbesar di New York dan mereka memiliki lebih dari seratus hotel di seluruh dunia. Keluarga nya adalah salah satu keluarga terkaya Forbes. Putra mereka, Matheus dan Henrico adalah salah satu miliarder termuda, juga menurut Forbes.

(Forbes = Majalah terkenal dunia yang mendokumentasi kehidupan/bisnis/perkembangan social ekonomik 10% masyarakat terkaya dunia. Mereka yang biasanya mengeluarkann daftar top 10 orang terkaya dunia, top 10 wanita terkaya bisnis media, top 10 perusahaan tercanggih, dll dsb)

“Tapi bagaimana kalau dia tidak menyukai ku?” Aku sadar akan reputasi Matheus. Aku sering mendengarnya dari orang tuanya, melihatnya di TV dan membacanya di majalah. Selain berkencan dengan selebritis dan supermodel terkenal, dia juga memiliki keanehan untuk memacari sekretarisnya. Dia tahu mereka memiliki semacam pemeriksaan fisik dan mungkin qualifikasi s*****l yang Joanna tahu, tidak akan pernah dia lewati.

“Oh Joanna,” seru Pak Gomes. Dia selalu baik padaku dan sebenarnya pada semua orang. Aku bahkan bertanya-tanya mengapa Matheus tumbuh dengan dinding di sekelilingnya. Dia selalu tak bisa didekati. Aku mendesah. Aku tahu Tuan Gomes mengerti kekhawatiran ku. “Jangan khawatir, jika dia menendangmu keluar, kau selalu bisa bekerja untukku dan Camila.”

Aku tersenyum dan mengangguk. Aku mendapati diriku kehilangan kata-kata untuk diucapkan. Aku hanya pegawai keluarga tapi pasangan itu tidak pernah memperlakukan ku secara berbeda. Mereka selalu memperlakukan ku sebagai bagian dari keluarga mereka.

“Jadilah diri sendiri Joanna, kami menyukaimu seperti itu, dia juga akan menyukaimu.”

Keesokan harinya (6AM)

Aku berdiri di samping meja sarapan menunggu Matheus Gomes bangun. Aku diinstruksikan oleh Ibu Santos untuk menunggu di sana karena biasanya di mana Matheus akan bertemu dengan asisten pribadinya. Ibu Santos, kepala pelayan rumah tangga, bersama kedua putrinya dan suaminya sebagai supir, bekerja untuk Matheus. Keluarga ini bekerja dengan para Gomes sepanjang hidup mereka. Aku tinggal bersama mereka di rumah staf.

Setelah beberapa menit, aku melihat Matheus menuju ke arahku. Dia tampak terkejut melihat ku. Meski mengerutkan kening, aku masih menganggapnya lucu dan sangat tampan. Dia setengah telanjang dengan celana piyamanya. Aku bisa melihat dadanya dan bahunya yang sempurna. Dia tampak begitu gagah sehingga tidak ada kekuatan yang bisa membuatnya berlutut. Aku tahu rahangku terjatuh dan benar-benar terpesona. Dia memiliki mata abu-abu yang menyilaukan itu, dalam, mencolok dan seksi. Aku dalam masalah, aku tidak pernah berpikir dia akan menjadi setampan ini.

“Kau siapa?” Dia berkata dengan suara keras.

Aku merasa ada air dingin yang dilemparkan ke tubuh ku. Aku sadar kembali dan memperhatikan apa yang harus aku lakukan. “Selamat pagi Pak Gomes, saya Joanna Castillo, asisten pribadi anda yang baru. Apakah ada yang ingin anda lakukan?”

Matheus menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Rambutku diikat. Aku memakai kacamata berbingkai gelap yang biasa. Aku mengenakan blus tanpa lengan putih dengan blazer hitam dan celana hitam lurus. Matheus masih menatapku dan untuk pertama kalinya dalam hidupku aku begitu sadar dengan penampilanku. Tiba-tiba aku menyalahkan orang tua ku karena tidak memberi ku gen yang baik dan menyalahkan diri sendiri karena tidak mendengarkan Nyonya Gomes saat dia menyuruh ku untuk melakukan diet dan olahraga.

“Jika tidak ada pak, saya bisa meminta Ibu Santos untuk melayani sarapan anda. Maukah anda–” Matheus mengangkat tangannya dan memberi isyarat agar berhenti.

Dia menatap kosong ke arahku. “Duduklah,” katanya dengan suara nyaring.

Aku sedikit terkejut. Sekarang aku seekor anjing peliharaan, pikirku dalam hati. Aku duduk di kursi menghadap Matheus. Aku tidak mengatakan apapun dan menunggu dia untuk berbicara. Dia masih menatapku dengan tajam. Aku merasa seperti es krim perlahan mencair dengan cara dia menatapku. Aku bisa merasakan panas di bagian belakang leherku. Aku merasa sangat tidak nyaman. “Ceritakan sesuatu tentang mu.”

Aku menarik napas dalam-dalam. “Saya telah bekerja dengan orang tua anda hampir dua tahun -” Dia mengangkat tangannya lagi. Aku mengedipkan mataku. Binatang sombong itu. Apakah dia selalu mengangkat tangannya ke arahku?

“Aku sudah tahu itu, aku butuh informasi yang belum aku ketahui Nona Castillo.”

Aku sedikit terkejut dengan formalitasnya. Aku terbiasa dipanggil Joanna oleh Camila dan Luiz Gomes dan bahkan oleh Henrico. “Saya berumur 25 tahun, aku adalah seorang instruktur perguruan tinggi di Filipina sebelum pindah ke sini di New York.”

Matanya tiba-tiba melebar saat mendengarnya. “Seorang guru? Dan orang Asia? Menarik.” Dia menyeringai. Itu mungkin pertama kalinya aku melihat Matheus tersenyum.

“Iya.” Aku berhasil menjawab singkat.

“Apa yang kau ajarkan?” Dia bertanya sambil menatap mataku.

“Akuntansi, saya seorang CPA, tapi saya juga mengajar mata pelajaran lain seperti manajemen dan keuangan.”

Ada secercah cahaya di matanya. Aku tidak yakin apakah itu karena dia terkesan atau yang lainnya. “Apa lagi?” Dia bertanya.

“Tidak ada yang lebih menarik dalam hidupku Pak Gomes. Apa ada sesuatu yang ingin anda ketahui?”

Dia menyeringai. “Kehidupan pribadi mu, Castillo?”

“Informasi itu sudah menjadi milik pribadi Pak Gomes.” Aku mengerutkan kening. Aku ingin pembicaraan ini berakhir.

“Kehidupan s*****l mu? Jika kau ingin spesifik.” Dia menyeringai lagi.

Aku merasakan pipiku memerah. “Saya masih single Tuan Gomes.” Aku melihat ke bawah lantai. Aku tidak bisa menatapnya lagi di matanya. Pria ini mengusirku dari kewarasanku.

Dia terkekeh. “Single, tidak menikah atau lajang, single Ms. Castillo?”

“Single, Pak lajang.” Kudengar dia menertawakan reaksiku. Aku bahkan tidak tahu apa artinya, single, ya single artinya.

“Apakah itu berarti kau tidak memanjakan diri dengan aktivitas s*****l apa pun, Ms.Castillo?”

“Tentu saja,” jawabku singkat. Pikir terlintas dalam pikiranku. Mengapa dia mengajukan pertanyaan yang terlalu pribadi ini? Apakah dia selalu melakukan percakapan seperti ini dengan asisten pribadinya? Lagi pula, apa yang salah dengan menjadi single, single? Berani sekali!

“Joanna!”

Pikiranku berhenti setelah mendengar namanya. Aku dan Matheus melihat ke arah dari mana suara itu berasal. Aku tiba-tiba jadi bersemangat. “Henrico!” Aku berlari ke arahnya dan memeluknya. Aku dengan cepat lupa bahwa aku sedang berbicara dengan atasan ku. Itu adalah Henrico Gomes, adik laki-laki Matheus.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Henrico bertanya saat melihat ku. Dia selalu manis dan baik seperti ayahnya, Luiz. Mereka semua baik padanya, mungkin juga karena Matheus yang baru saja aku temui.

“Aku milik Matheus…, maksud ku, aku asisten pribadi baru milik Tuan Gomes. Kapan kau tiba?” Tanyaku dengan penuh semangat. Sudah lima bulan sejak terakhir aku melihatnya.

“Kemarin sore aku tidak repot-repot menemuimu, aku langsung tidur, aku sangat lelah dengan penerbangan yang panjang.”

“Yah, aku tahu betapa kau benci terbang.”

“Tentu saja, aku harus memberi tahu supir untuk membawa hadiah yang aku beli dari Brasil kepada mu. Kau akan menyukainya.”

“Oh terima kasih.” Aku tersenyum. Aku tahu itu hanya pakaian. Aku juga tahu baju itu tidak sesuai dengan ku. Henrico akan selalu membelikan ku pakaian yang lebih kecil dari ukuran ku. Dia akan selalu mengatakan bahwa aku perlu menjalani diet sehingga aku bisa mengenakan pakaian yang dibelinya.

“Kalian benar-benar dekat?” Matheus bertanya kepada kami dengan mata gelap. Dia tampak kesal dan jengkel.

“Ada apa dengan kakak?” Henrico mendatanginya dan memeluknya.

“Semuanya baik.” Tetap saja dia lebih terdengar jengkel daripada senang. “Kau datang ke Nona Castillo terlebih dahulu sebelum kau bahkan menyapa ku, saudara laki-laki ku.”

Henrico menyeringai. “Jangan konyol kak, Joanna adalah anggota keluarga, Ibu akan selalu memanggilnya, anak perempuan yang tidak pernah dia miliki.”

Matheus menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Nona Castillo masih jauh dari saudari kita, Henrico.”

Keberanian komentar itu sedikit menghina untuk didengar. Kedengarannya seperti dia memberi tahu saudaranya bahwa aku adalah anak bebek jelek di antara angsa emas. Aku berhasil mengabaikan komentarnya.

“Jangan membuat komentar kasar tentangnya kak, ku katakan, dia adalah favorit orang tua kita. Kau tidak akan menyukai apa yang akan mereka lakukan jika kau membencinya.” Dia mencibir.

Aku mengerang. Itu enam bulan yang lalu ketika mantan pacar ku mencampakkan ku karena aku menolak berhubungan s**s dengannya. Itu adalah bulan pertama kami saat mantan pacarku mengajakku kencan. Aku menolak karena kita hampir tidak tahu satu sama lain. Orang itu mengatakan kata-kata buruk kepada ku dan mengatakan bahwa dia tidak benar-benar menyukai ku tapi hanya mengejar ku karena dia ingin berhubungan s**s dengan ku dan dia bahkan mengatakan aku tidak seksi dan cantik. Camila melihatku menangis di kebun sambil menatap air mancur. Aku memberitahu Camila apa yang terjadi. Ketika Luiz tahu tentang hal itu, dia mencari mantan pacarku dan mengikatnya di helikopter yang terbang di udara selama dua jam. Luiz menerbangkan helikopter itu sendiri. Mantan pacar ku hampir meninggal karena ketakutan dan kegelisahan. Ketika Aku tahu apa yang dilakukan Tuan Gomes, aku sangat terkejut. Luiz benar-benar menggunakan waktu selama dua jam untuk menghukum mantan pacar ku. Tuan Gomes baru saja mengatakan kepada ku, “Tidak ada yang boleh mempermainkan mu, Joanna, kami tidak akan mengizinkannya.” Dia tersenyum dan membuatku terdiam.

“Apa maksudmu?” Matheus memelototi saudaranya.

“Jangan coba-coba kakak.” Dia menyeringai. “Yah bagaimanapun, aku hanya pergi menemui mu dan menyuruh mu menemui keluarga akhir pekan ini. Ibu merindukanmu.”

“Aku tahu, Ayah datang ke kantor untuk mengatakan hal yang sama.”

Henrico sangat mirip ayahnya, manis, peduli, penuh cinta dan hampir sempurna. Aku sebenarnya bertanya-tanya mengapa Matheus tampak berbeda di antara pria Gomes.

“Baik.” Henrico memeluk Matheus sebelum pergi. “Sampai ketemu kak.” Dia berjalan ke arahku dan mencium pipiku. “Aku juga akan menemuimu.” Dia memelukku dan berbisik ke telingaku. “Waspadalah padanya. Dia orang gila. Dan tolonglah gadis kecil… berolahraga sedikit, pakaian yang kubeli tidak akan muat.” Dia menertawakan ku.

“Aku akan mencoba.” Aku terkikik. Aku melihat dia dalam perjalanan keluar. Lalu, aku memalingkan kepalaku kembali ke Matheus. Dia menatapku. Kali ini bukan tampilan orang yang kesal. Ini tampilan pria cemburu. Kau berharap Joanna, aku pikir pada diri sendiri.

 


Pojok penerjemah:

Walau penerjemah tidak menyarankan untuk melakukan hubungan s*****l di luar nikah, di buku ini sepertinya banyak pembahasan hal tersebut. Mohon untuk bertanggung jawab terhadap diri masing-masing dan menggunakan kebijaksanaan sebelum mulai membaca. Walau tidak ada larangan tentang membahas hal-hal s*****l secara dewasa dalam humor dan mendidik. seperti idiom itu “malu bertanya sesat di jalan”. 

Penerjemah termasuk seseorang yang percaya bahwa mengetahui info tentang hal-hal yang di larang lebih baik dan bisa menghindari, dari pada mencoba kemudian menyesal. Sexual bukanlah kata tabu, tindakannya lah yang tidak baik jika di lakukan dengan tidak berpikir dua/ tiga kali dulu. Tindakan itu adalah tindaan yang 98% dari manusia pasti akan alami dalam hidupnya. Jangan ragu untuk bertanya tentang hal ini kepada seseorang dewasa yang kalian percaya jika penasaran, dan tidak di sarankan untuk coba-coba.

Setiap kali buku ini akan memposting hal-hal yang terlalu mendetil, kami akan memberi warning di bagian atas bab bersangkutan agar pembaca bisa men-skip jika perlu. 

Terima kasih.

ITeba.

BMK Prologue
BMK 2. Pertemuan Makan Siang

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

Leave a Reply

Your email address will not be published.