BKYB: Volume 2 Chapter 1.1

Featured Image

Chapter ini diterjemahkan oleh Kak Anis / Cichicuit

Editor: June | Proofreader: Kak Glenn

Happy reading!

Volume 2 Chapter 1.1

Di luar hujan.

Rintik hujan yang mengenai jendela meluncur turun seperti air mata, meluncur ke bawah dan menuruni permukaan dalam aliran yang jernih.

Banyak bangunan di sisi timur Kota Taichung semuanya memiliki gaya yang berbeda karena dibangun pada waktu yang berbeda.

Sisi timur memiliki gedung pencakar langit besar yang baru dibangun beberapa tahun yang lalu. Yaitu Kompleks Lu.

Tengah malam saat telepon berulang kali terdengar di rumah orang tertentu, kemudian terputus, dan secara otomatis beralih ke pesan suara.

“Halo, ini rumah Yan Si. Pemilik telepon saat ini tidak ada di rumah, silakan tinggalkan pesan. Jika Anda dari tim forensik, tekan satu untuk meninggalkan pesan. Jika Anda dari tim investigasi kejahatan, tekan dua untuk meninggalkan pesan. Jika Anda berasal dari departemen lain di kepolisian, tekan tiga untuk meninggalkan pesan. Jika Anda adalah teman dekat, tekan delapan untuk meninggalkan pesan. Terakhir, jika Anda berasal dari kelompok scammer (seseorang yang melakukan penipuan), ikuti instruksiku: letakkan ponselmu dan benturkan kepalamu ke dinding tiga kali, kemudian tutup telepon dan panggil polisi untuk menyerahkan diri. Ini akan meringankan hukumanmu sedikit ketika tertangkap. Aku memberkatimu, amin. Saat Anda mendengar bunyi bip, silakan tinggalkan pesan. Terima kasih telah menelepon, mari bertemu lain kali.”

Lalu diikuti bunyi bip.

“Ah Si, bisa kau ganti mesin penjawabmu supaya tidak penuh dengan omong kosong?” Si penelepon meninggalkan pesan suara yang terdengar marah persis di mana mereka ingin menghancurkan telepon.

“Ini Yu Xia. Informasi yang kau minta kemarin akan tiba hari ini. Aku pergi mencarimu, tapi kau tidak ada di kantormu, jadi aku akan meminta Yu Kecil untuk memberikannya kepadamu besok. Itu saja, dah.”

Sekitarnya segera sunyi lagi.

Dengan bunyi klik, pintu kamar mandi di sebelah ruang tamu terbuka.

Yan Si mengenakan kemeja putih sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Dia melirik mesin penjawab telepon dan tersenyum.

Karena Yan Si mulai membantu tim forensik bulan lalu dan tidak ada apartemen yang tersedia, dia meminta kepala untuk membantunya membereskan pengurusan tempat tinggal. Harga yang sangat menguntungkan, dia bisa mendapatkan bangunan yang cukup bagus ini.

Dia mengambil sebotol jus dari lemari es dan duduk di sofa sambil menghubungkan kembali telepon. Ujung yang lain segera mengangkat. “Halo? Ini Yan Si. Bos, Yu Kecil keluargamu akan datang besok? Sekitar jam berapa? Camilan seperti apa yang dia sukai, dan minuman seperti apa? Aku akan bersiap untuk menyambutnya.”

Suara tidak senang Yu Xia datang dari ujung telepon, “Kau tidak boleh menculik anakku!”

“Oh, tapi Ah Yin dan Yu Kecil-mu sangat menggemaskan. Tidak bisakah kakak ini menyuruh mereka datang dan bermain lagi?” Yan Si memutar-mutar botol jusnya sambil menatap dinding putih salju di depannya.

Setetes air meluncur turun dan perlahan mulai meresap.

“Apa kau seorang paman mesum?” Yu Xia mendengus dingin.

“Kasar sekali.” Yan Si meneguk minumannya sambil menatap pola basah yang perlahan-lahan hampir hilang di dinding. “Baiklah, aku akan menyiapkan beberapa kue kecil dan menunggu Yu Kecil datang nanti.”

“Jangan melakukan pelecehan s*****l pada anakku!”

“Heh, seolah aku punya hobi seperti itu.”

“Siapa tahu?”

Suara seseorang memberikan laporan bisa terdengar di belakang. Sepertinya Yu Xia kemungkinan besar bekerja lembur malam ini. “Aku akan berhenti main-main denganmu, kita masih punya pekerjaan yang harus dilakukan di sini. Aku akan tutup telepon dulu, dah.”

“Terima kasih atas kerja kerasmu. Sampai jumpa.”

Setelah menutup telepon, Yan Si mempelajari noda air yang terbentuk di dinding ruang tamu. Permukaan putih salju tidak terlihat dengan warna kuning-oranye pudar saat tetesannya meresap dan mulai menyebar.

Wajah buram perlahan muncul di dinding.

Wajah seorang wanita.

Tetesan jatuh dari matanya.

“Maaf, tapi aku bukan bekerja di bidang itu. Kalau kau meninggal karena Teofani (T/N: penampakan dewa kepada manusia), silakan coba dengan seseorang yang benar-benar bisa mengerti, oke?” Dia berdiri dari sofa dan melemparkan botol minuman ke tempat sampah kecil di sudut.

Wajah di dinding itu menjadi semakin jelas.

Yan Si dengan dingin memelototi wajahnya yang bengkok, agak tidak senang. Lagi pula, tidak ada yang suka goresan aneh dan tidak dikenal muncul di dinding rumah mereka.

“Kau….”

Tiba-tiba, suara aneh terdengar, dan ruangan itu langsung tenggelam dalam kegelapan.

Dia menyipitkan matanya dan melihat apa yang tampak seperti bayangan tak berbentuk perlahan mendekatinya.

Ini benar-benar situasi yang menjemukan.

Dia mengangkat telepon di sampingnya dan menekan nomor. Setelah beberapa kali berdering, suara samar pria paruh baya yang mengantuk bertanya apa yang dia inginkan di tengah malam.

“Halo? Pemilik rumah, rumahmu bocor!”

***

6:10 pagi.

“Kacau, kacau! Aku ketiduran!”

Padahal masih pagi. Yu Tong baru saja mulai menyiapkan sarapan saat dia mendengar teriakan yang mengguncang dunia datang dari kamar seseorang. Suara bantingan terdengar saat orang itu menyerbu keluar dari kamar mereka, bergegas ke kamar mandi, lalu melemah ketika suara berisik dari mengobrak-ngabrik barang bercampur gumam umpatan. Kebisingan itu bahkan bisa dikatakan spektakuler.

“Ayah, hari ini aku tidak akan sarapan. Dah.” Orang itu mengambil ranselnya, jelas waktunya terbatas, dan mulai bergegas menuju pintu depan.

“Berhenti di sana.”

Kata-kata ini membuat Yu Yin yang berlari panik segera membeku di tempat.

“Ayah, apa Ayah perlu sesuatu dariku? Aku benar-benar tidak punya waktu.” Yu Yin melompat dari satu kaki ke kaki lainnya sambil mengusap rambutnya. Pun, dia tidak benar-benar sampai hati merusak tatanan rambutnya.

“Kurasa hari ini kau tidak perlu pergi kerja sebelum lewat jam tujuh?” Yu Tong memecahkan sebutir telur ke dalam wajan dan dengan elegan melepaskan kacamatanya agar tidak berkabut saat dia beralih menyiapkan roti dan sup.

“Itu benar, sekarang jam 7:10. Aku ketiduran! Aku akan sarapan di luar, jadi aku pergi dulu. Sampai jumpa!” Dia mengenakan sepasang sepatu tenis sedapatnya di dekat pintu dan mulai melangkah keluar—

“Sekarang baru jam 6:10.”

Yu Yin berhenti di jalan.

6:10?

Dia mengangkat tangan untuk melihat arlojinya. Jarum menit baru saja bergerak maju sedetik. 6:11.

“….”

“Cepat kemari dan sarapan.” Yu Tong membalik telur di wajan saat dia dengan tegas menyatakan kata-kata ini dengan dominasi mutlak.

Yu Yin menjatuhkan tasnya dan menendang sepatunya sebelum melenggang kembali ke ruang tamu. Dengan suara tumbukan, dia jatuh ke sofa. “Bikin kaget saja….” Yu Yin pikir dia akan terlambat di hari pertama kerjanya.

Setelah mendengar keributan di lantai bawah, pintu kamar lain di lantai dua terbuka. Yu mengusap matanya yang mengantuk dan berjalan ke kamar mandi sambil menguap. Setelah beberapa lama, dia pun berjalan keluar dan duduk di ujung sofa lalu mulai tertidur lagi.

“Yu Kecil, kemarilah dan bantu aku bawakan sarapan.” Yu Tong menjulurkan kepalanya keluar dari dapur dan melambaikan tangannya.

Yu segera berjalan mendekat dan membawa sepiring besar roti ke meja makan.

“Ah Yin, apa kau menggantikan guru di sekolah dasar?” Yu Tong bertanya sambil mengeduk sup.

“Oh, ya. Teman guru kami mengambil cuti tiga minggu. Karena dia guru seni & kerajinan yang dikontrak, setelah beberapa diskusi sekolah setuju mereka akan mencari seseorang untuk mengajar sementara untuk tiga kelas. Bagian menggantikan dipercayakan padaku.” Ini sebenarnya sangat menguntungkan dirinya. Karena Yu Yin memiliki hubungan yang cukup baik dengan orang-orang di sekolah, dia mengobrol santai dengan guru saat guru tersebut bertanya apa dia tertarik untuk mendapatkan uang saku. Karena Yu Yin kebetulan ingin membeli sesuatu, dia setuju.

“Lalu bagaimana dengan pekerjaan aslimu?”

“Waktunya tidak bertentangan. Pekerjaan asliku hanya membantu di kantor, dan ditetapkan setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis dari jam 2 sampai 8 malam saat aku tidak memiliki kelas. Pekerjaan pengganti ini hanya untuk dua sesi setiap Senin pagi selama tiga minggu. Mereka tidak bentrok.” Yu Yin sudah menghitung waktunya. Dia berdiri dan berjalan untuk membantu menata meja makan.

“Selama kau pikir bisa melakukannya, tidak apa-apa,” Yu Tong mengangguk. Dia tidak pernah mencoba menghentikan Yu Yin dari bekerja.

Dia menaruh telur dari wajan ke piring. “Oh ya, pamanmu tidak akan pulang hari ini. Kudengar dia akan melakukan penyelidikan di luar, jadi kalian berdua harus ingat untuk membawa kunci saat keluar.”

“Oke.”

Yu Yin mengangkat kepalanya dan melihat Yu yang tidak melakukan apa-apa, mengambil buku dan duduk untuk membaca. Yu sudah berada di rumah ini selama hampir sebulan sekarang, dan sepertinya dia selalu membaca buku-buku itu. Yu beralih dari membaca bukunya sendiri ke bacaan Ayah, lalu bacaan Paman. Entah seberapa banyak dia benar-benar meresapi? Dan lagi, buku-buku Ayah dan Paman sebagian besar adalah teks asli (T/N: Maksudnya adalah teks dalam bahasa asli, bukan terjemahan)!

“Huh, apa kau tidak merasa buku-buku ini sangat rumit?” Yu Yin bertanya sambil duduk di sebelah Yu.

Yu menatapnya dan menggelengkan kepala, lalu mengangkat buku menunjukkan judul di sampulnya, Dongeng Hans Christian Andersen dengan Analisa.

Yu Yin tiba-tiba merasa kulitnya merinding.

“Xiao Yu belum lama ini mendapat nilai penuh pada ujian sastra dan bahasa di sekolahnya.” Yu Tong berjalan membawa sup. Dia tersenyum saat menatap kedua anak laki-laki itu dan melanjutkan, “Ah Yin, kau harusnya introspeksi diri.” Saat Yu Tong tengah melakukan pekerjaan administrasi, melihat-lihat dokumen terkait dengan kasus, dia tentu saja melihat nilai dan catatan sekolah Yu, jadi dia bisa memastikan kemampuan Yu.

Yu Yin mengusap hidungnya dan mendengus, “Kemampuan semua orang berbeda. Aku suka merancang sesuatu.” Siapa bilang merancang sesuatu membutuhkan keterampilan membaca yang kuat? Yang diperlukan hanyalah pikiran yang kreatif dan unik!

“Baiklah, aku tahu. Kalian berdua sebaiknya cepat makan. Ah Yin, pastikan jammu sendiri.” Yu Tong mendesak dua anaknya yang nakal itu setelah meletakkan sup.

“Baik.”

Yu Yin melirik arlojinya. Sekitar pukul 6:35, jadi dia masih punya banyak waktu sarapan tanpa tergesa-gesa. “Oh ya, Ayah, apa Yu belum boleh pergi ke sekolah?”

Yu saat ini duduk di sebelahnya, menyerahkan mangkuk dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasanya.

“Aku sudah mendiskusikannya dengan Pamanmu. Itu tergantung Yu apakah dia mau atau tidak. Kalau dia mau, dia bisa bergabung dengan sekolah menengah yang berafiliasi dengan universitasmu semester depan. Dengan begitu, jika ada yang salah, akan lebih mudah untuk mencari bantuanmu,” Yu Tong menjawab sambil mengingat kembali diskusi baru-baru ini. Dengan senyum hangat, dia bertanya, “Bagaimana menurutmu? Ah Yin.”

“Terserah, tidak ada bedanya bagiku,” Yu Yin mengangkat bahu. Bangunan perguruan tinggi dan sekolah menengah Li Dong terpisah, jadi bukan berarti mereka akan terus bersama. Yu jadi bersekolah di kampusnya benar-benar tidak berpengaruh baginya.

“Oh? Aku terkejut, siapa itu yang sebelumnya begitu kukuh memprotes Yu Kecil bergabung dengan keluarga kita~” Yu Tong menggoda putranya.

“Ayah, berhenti bicara hal-hal yang tidak masuk akal.” Yu Yin berbalik saat merasakan wajahnya menghangat. Sekarang dia memikirkannya, dia juga merasa terlalu picik saat gigih menentangnya. Cukup lucu saat dia pikir betapa tak baik sikapnya.

“Hah, siapa yang bertingkah bodoh lebih dulu?”

“Cukup!”

***

Setelah bercanda sebentar, tepat jam 7 pagi Yu Yin keluar.

Karena hari ini hari pertama, dia harus mengabarkan dulu ke sekolah dasar. Dia tidak harus pergi sepagi ini untuk dua kelas berikutnya.

“SD Swasta Qiao Yuan….” Yu Yin melirik panduan pendaftaran di tangannya. Lalu dia mengenakan helmnya, memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, dan menjalankan motornya.

Dia dengar bahwa anak-anak sekarang sulit untuk diajar, tapi dia hanya akan menggantikan tiga kelas… ditambah mereka sudah kelas tiga, jadi tidak mungkin seburuk itu, kan?

Tepat ketika dia menyalakan mesin dan motornya melintas ke depan, mendadak muncul seseorang di hadapannya dengan jempol ke atas (bermaksud ikut menumpang). “Yu? Apa yang kau lakukan?” Dia menyipitkan matanya. Untung dia belum sepenuhnya ngebut, kalau tidak dia akan membuat orang lain lenyap.

Yu menyerahkan apa yang ada di tangannya.

Benda itu terlihat akrab semakin Yu Yin mempelajarinya. Tiba-tiba, dia ingat apa itu. ‘Jimat’ yang dia dapatkan saat insiden kucing kuwuk waktu itu?

Setelah menyerahkan jimat, Yu berbalik dan lari.

“Hei …. Oi!” Yu Yin tidak tahu mengapa Yu memberikan ini padanya sekarang. Tapi sudah terlambat, jadi setelah melirik jimat itu lagi, dia hanya memasukkannya ke dalam ranselnya tanpa pikir panjang dan menjalankan pedal gas. Dia bisa memikirkannya setelah dia mengabarkan sekolah.

SD swasta dan perguruan tinggi berada di ujung berlawanan rumahnya, jadi jalannya berkebalikan dari arah biasanya.

Setelah melintasi pusat kota, dia melewati kolam berukuran sedang. Meskipun bisa dikatakan sebagai ‘kolam’, tapi tampak seperti kolam yang dipenuhi sampah. Bahkan ada bau aneh keluar dari sana…. Setelah mengitari kolam, dia tiba di sekolah dasar sekitar lima menit kemudian.

Kampus ini berukuran sedang, dengan taman bermain bundar sekitar 200 meter di sekelilingnya. Ada tujuh atau delapan ring bola basket serta lapangan tenis kecil, panggung, dan terakhir gedung sekolah.

Saat Yu Yin meninjau sekolah dasar, dia tiba-tiba merasa….

“Rindu sekali.” Tahun-tahun masa mudanya memudar.

Setelah memarkir motornya, ia mengeluarkan dokumen untuk ditunjukkan kepada penjaga keamanan, yang terlihat tidak sepenuhnya percaya padanya. Dia kemudian bertanya di mana kantornya dan menyusuri jalan untuk menjumpai seseorang untuk melapor terlebih dahulu.

Baiklah, dia tahu mewarnai rambutnya itu tidak sopan. Dia menggaruk rambut cokelatnya dan mengangkat bahu.

Setelah menemukan kantornya, Yu Yin menemukan hanya ada satu guru wanita di dalam. Dia terlihat berusia sekitar 30 tahun dan memiliki penampilan yang rapi dan bersih. Satu lirikan saja sudah cukup menjelaskan bahwa dia adalah seorang guru yang cerdik. “Um… permisi, aku mencari penasihat akademik kelas empat tingkat tiga. Aku Yu Yin, yang akan menggantikannya hari ini.”

Guru perempuan itu berbalik, “Itu aku.”

Table Of Content

BKYB: Volume 2 - Prolog
BKYB: Volume 2 Chapter 1.2

Leave a Reply

Your email address will not be published.