BDPK Chapter 62

Featured Image

Akhir tahun sudah semakin dekat, Perusahaan Fu Pei perlahan-lahan mulai berada di jalurnya. Karena keterbatasan tenaga, Momo dan Chen Xiaoxi sering lembur sampai larut malam. Hari Natal, Tahun Baru, Festival Musim Semi, Valentine…. Beberapa hari besar itu telah membuat Perusahaan kecil Desain Kemasan Hadiah mereka ini jungkir balik. Momo kembali ke pekerjaan lamanya untuk membuat slogan pada kemasan hadiah, ditambah dengan memegang akuntansi perusahaan. Terkadang juga merangkap sebagai seorang copywriter. Kapitalis ini benar-benar mengeksploitasi tenaga rakyat, walaupun Kapitalis itu adalah temannya sendiri. Rasa tidak tahu malu yang dimiliki oleh seorang Bos selalu di luar batas nalar karyawan-karyawannya.

Slogan yang Momo tulis hanya berupa kata-kata pendek, seperti: Semoga sinar matahari pagi menyinari wajah Anda; Semoga Anda bisa merasakan aroma angin; Semoga Anda menerima telepon dari orang yang Anda harapkan; Semoga Anda tidak ketinggalan Bus; Apakah Anda menyadarinya? Rambut Anda hari ini sedikit lebih panjang; Di hari ketika Anda menerima hadiah, udara pasti terasa lebih segar daripada biasanya…..

Sebenarnya cukup aneh, kata-kata pendeknya ini digabunkan dengan desain kemasan hadiah berwarna pastel yang dibuat oleh Chen Xiaoxi dan mereka mendapat banyak pujian dari pelanggan. Pesanan masuk satu demi satu, bahkan mulut Fu Pei sudah tidak mampu menjawabnya. Momo dan Chen Xiaoxi yang menyedihkan, begitu sibuknya sampai keriput di wajah mereka juga sudah hampir muncul.

Lembur lagi, malam itu Momo dan Chen Xiaoxi mengistirahatkan kepala mereka di atas meja sambil bermain-main mengeluarkan busa dari mulutnya. Fu Pei masuk dengan membawa makanan ringan, dengan hati-hati tertawa, “Dua wanita cantik kesayanganku, hamba mengantarkan makanan untuk kalian. Silahkan katakan apabila ada yang ingin disampaikan, hamba akan berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkannya.”

Momo dan Chen Xiaoxi bahkan terlalu malas untuk menatapnya, tidak bergerak di atas meja.

Fu Pei meletakkan makanan dan bertanya dengan sopan, “Momo, kamu ingin makan apa?”

“Aku mau pulang.”

Fu Pei pura-pura tidak mendengar, menoleh ke Chen Xiaoxi, “Xiaoxi, kamu ingin makan apa?”

“Aku juga mau pulang. Aku sudah lembur selama satu minggu, aku bisa mati mendadak.”

Fu Pei berusaha menenangkan, “Bagaimana kalau begini, setelah menyelesaikan semua pesanan bulan ini, sebelum liburan musim semi, kita akan luangkan waktu seminggu untuk liburan musim semi.”

Kedua orang itu berusaha keras untuk menimbulkan sedikit semangat, mengangkat kepala mereka dari meja untuk makan makanan ringan.

Momo keluar dari kantor dengan tubuh terhuyung, Gu Weiyi dengan sigap menangkap tubuhnya dan mengerutkan keningnya, “Ini sudah sedikit keterlaluan.”

Momo bersandar di pundaknya, “Aku sudah tidak punya kekuatan untuk memarahi bos, gendong aku sampai rumah….”

Gu Weiyi menghela napas dan berjongkok, lalu mengangkatnya. Dia menimbangnya dengan tangannya dan berkata pada dirinya sendiri, “Brengs*k, dia jadi kurusan.”

Momo berkata dengan lemah, “Bapak Ilmuwan yang terhormat, aku mendengarmu mengumpat kata-kata kasar.”

“Peluk yang erat, pejamkan mata dan tidur sebentar.” Gu Weiyi berkata dengan suasana hati yang kurang baik.

“Oh…..” Momo memejamkan matanya dengan patuh, Gu Weiyi berjalan selangkah demi selangkah, terasa seperti di atas ayunan, Momo dengan mudah tertidur.

Fu Pei menarik tirai jendela dan mendesah. Dia berbalik dan terkejut oleh wajah Chen Xiaoxi yang terlihat sedih. Dia mengelus dadanya sambil berkata, “Chen Xiaoxi, kamu ingin membuatku kaget sampai mati ya.”

Chen Xiaoxi berkata tanpa ekspresi, kecepatan bicaranya sangat lambat, “Kamu sendiri yang terlalu serius mengintip momen antar-jemput yang penuh kehangatan itu sehingga tidak memperhatikan kehadiranku.”

Fu Pei merasa malu sampai marah, “Bukankah kamu bilang mau pulang, kenapa masih belum pulang?”

Chen Xiaoxi masih tanpa ekspresi, kecepatan bicaranya semakin melambat, “Aku juga seorang gadis, sudah begini larut malam. Apalagi kamu punya mobil, memberikanku tumpangan bukankah sudah seharusnya?”

“Lalu, bagaimana cara kamu pulang setiap kerja lembur?”

Chen Xiaoxi masih tanpa ekspresi dan berbicara dengan lambat, “Naik taksi.”

“Kalau begitu ya pulang saja naik taksi.”

Chen Xiaoxi masih tanpa ekspresi dan berbicara dengan lambat, “Mahal, apakah kamu akan memberikan penggantian biaya?”

Fu Pei meraih kunci mobil di atas meja dan berkata, “Aku tahu, aku akan mengantarmu pulang.”

Chen Xiaoxi masih tanpa ekspresi dan berbicara dengan lambat, “Terima kasih.”

Fu Pei memandangnya dengan serius, “Chen Xiaoxi, bisakah kamu jangan menunjukkan ekspresi seperti orang mati begitu?”

Chen Xiaoxi, tanpa ekspresi, berbicara semakin lambat, “Tidak ada pilihan lain, aku memiliki seorang bos yang tidak punya hati nurani, aku bahkan terlalu lelah untuk berekspresi.”

Fu Pei seakan menelan lalat, “Aku tahu aku salah.”

Setelah melewati musim sibuk, akhirnya Momo dan Chen Xiaoxi bisa menikmati liburan.

Momo baru saja menghabiskan satu hari di rumah. Hari ini Gu Weiyi melayaninya seakan sedang melayani Ibu Suri, kemudian setelah selesai makan Gu Weiyi memberitahukan sebuah hal yang sangat di luar dugaan, “Aku memberitahu mamaku, lusa kita akan pulang.”

“Ki, Ki, Kita?” Momo terlihat bahagia, padahal aslinya tergagap.

Gu Weiyi menatapnya dengan aneh, “Bukankah kamu sudah bertemu dengan orang tuaku, untuk apa begitu terkejut?”

Momo sangat cemas, terus menerus berkata, “Tidak sama… tidak sama… ini jelas tidak sama…”

Gu Weiyi melihat tingkahnya menjadi kesal dan berkata, “Kenapa kamu begitu gugup?”

Momo sudah hampir menangis, “Aku juga tidak tahu kenapa aku begitu gugup…..”

Gu Weiyi mengangkat bahu, “Terserah kamu. Lagipula, kamu gugup pun tetap harus pergi. Tidak gugup juga harus pergi, aku sudah berpesan dengan baik kepada mereka.”

Keesokan harinya, Momo dan Gu Weiyi naik ke atas pesawat. Begitu turun pesawat, Momo merasa kedinginan sampai berputar-putar di posisinya. Gu Weiyi tertegun menatap pemandangan ini dari sampingnya, “Kan aku sudah bilang kampung halamanku sangat dingin, menyuruhmu memakai pakaian yang lebih tebal kamu tidak mau.”

Momo memakai sebuah gaun berwarna krem, kaus kaki wol dan sepasang sepatu boot berwarna cokelat. Dia terlihat sangat imut dan cantik. Meskipun Gu Weiyi berkomentar bahwa pakaiannya seperti ‘orang yang sudah tua dan berusaha untuk terlihat seperti anak muda’, tetapi dia masih percaya bahwa pakaian seperti itu akan menimbulkan kesan yang baik terhadap orang tua Gu Weiyi, terutama Papa Gu Weiyi. Pria tua yang begitu serius, biarkan saja dia melihat bahwa masa muda itu begitu menyenangkan.

Momo tidak menyangka sebelum bertemu dengan orang tua Gu Weiyi, dia sudah hampir mati kedinginan. Dingin seperti ini sama sekali tidak bisa dibayangkan sebelumnya olehnya yang tumbuh besar di daerah Selatan. Dinginnya seakan menusuk ke dalam tulang dan kemudian menyebar sampai ke seluruh tubuhnya. Dia merasa seakan dia adalah orang yang tidak kuat dengan cuaca dingin.

Awalnya Gu Weiyi masih menertawakannya, kemudian dia melihat bahwa dia benar-benar kedinginan sampai begitu lambat untuk meresponnya. Dia menariknya ke dalam pelukannya dan memeluknya di dalam mantelnya, “Apakah begitu berlebihan, nanti setelah di atas mobil tidak akan dingin lagi. Mamaku bilang akan ada sopir yang datang menjemput kita.”

Momo ingin bertanya kenapa sopir itu masih belum datang juga, tetapi bibirnya bergetar dengan hebat. Jadi dia hanya membenamkan wajahnya di dada Gu Weiyi untuk meningkatkan suhu tubuhnya dan mengencangkan pelukannya di pinggang Gu Weiyi,

Gu Weiyi tertawa sampai dadanya bergetar. Suara tawa itu hanya terdengar samar-samar di telinga Situ Mo. Dia berkata, ‘Situ Mo, sifat childish-mu ternyata baru bisa dijinakkan oleh cuaca dingin.”

Setibanya di rumah Gu Weiyi, Momo berpikir bahwa orang tuanya telah menunggu di rumah untuk waktu yang cukup lama. Tak disangka, hanya ada seorang pengurus rumah yang bernama Bibi Zhou yang menunggu mereka di rumah. Dia menyambut mereka dengan sangat hangat dan menawarkan mereka untuk makan dan minum sup.

Momo minum sup jahe buatan Bibi Zhou sambil melihat ke sekeliling rumah Gu Weiyi. Rumah berstruktur Duplex dengan dua lantai, tetapi sepertinya tidak ada hawa manusia di dalam rumah ini.

Setelah Momo selesai minum sup, lidahnya yang kaku mulai pulih. Dia berkata, “Rumahmu sangat tenang ya.”

BDPK Chapter 61
BDPK Chapter 63

Leave a Reply

Your email address will not be published.