BDPK Chapter 30

Featured Image

Tanggal 1 Juni, semua orang merayakan Hari Anak Internasional, tetapi Momo tidak dapat merasa bahagia. Terutama karena hari keberangkatan Gu Weiyi sudah ditetapkan, tanggal 22 Juli. Dengan kata lain, waktu yang bisa mereka habiskan bersama tinggal 21 hari. Dikurangi waktu dia pergi bekerja, dan Gu Weiyi pergi melakukan eksperimen di Lab, kemungkinan mereka hanya punya waktu setengah bulan untuk bersama.

Hari ini artis yang belakangan ini sedang banyak bekerja sama dengan perusahaan Momo, Lin Zhicun, berencana untuk berkunjung ke Panti Asuhan. Awalnya jadwal syuting iklan mereka sedang cukup padat, merencanakan hari ini untuk pergi ke tempat lain bukanlah hal yang mudah. Tetapi, karena orang ingin melakukan kegiatan amal, hal baik semacam ini bahkan perusahaan juga tidak berani menghalanginya. Oleh karena itu, Momo dan Tie Ge yang telah bekerja keras beberapa waktu ini bisa mendapatkan libur satu hari. Liburan di akhir pekan seperti ini, Momo menerimanya dengan senang hati. Andai saja Gu Weiyi tidak usah pergi melakukan eksperimen di Lab pada hari itu, pasti Momo akan lebih merasa senang. Sayangnya, libur yang didapatkan hari ini, tidak dapat dihabiskan bersama-sama.

Gu Weiyi yang mengetahui bahwa Situ Mo libur, sangat ingin berada di rumah untuk menemaninya. Apalagi Eksperimen yang dia kerjakan bersama Lu Jianshi sudah hampir selesai. Saat sedang akan menelepon kebetulan dia bertemu dengan Profesor di Lab. Profesor itu memberikan sedikit bimbingan, dengan semangat sains dan jiwa kemanusiaan yang sangat tinggi. Gu Weiyi tidak punya pilihan lain, selain benar-benar membimbing Lu Jianshi menyelesaikan eksperimen-nya sampai akhir.

Saat Gu Weiyi naik bus, dalam pikirannya terbayang wajah Situ Mo yang mengantarkan dia keluar rumah dengan wajah yang sedih. Dia duduk di atas sofa ruang tamu dan berkata, “Apakah kamu bisa pulang untuk makan siang bersama denganku?”

Sejak Gu Weiyi berangkat sampai sekarang Momo masih pada posisi yang sama, duduk menyusut di sofa dan melamun. Belakangan ini, dia semakin merasa tidak mampu berpisah dari Gu Weiyi. Kalau dia sedang sibuk, agak sedikit lebih baik. Ketika sedang senggang, rasanya hatinya sakit sampai ke paru-paru. Perasaan seperti ini juga entah sampai kapan baru bisa terbiasa. Bagaimana dia bisa melanjutkan hidup kalau dia sudah pergi ke Amerika?

Saat pikirannya sedang berkecamuk, dia mendengar suara bel pintu. Momo mengangkat kepalanya dan tidak bergerak. Siapa tahu itu adalah Lili Jie yang akan mengirimkan mi dingin atau pangsit dingin. Dia dengan kesal menyumpahi Gu Weiyi yang selalu mempesona, dan pintu terbuka.

Gu Weiyi membuka pintu dan masuk, “Kamu sedang di rumah kenapa tidak membuka pintu?”

Momo menghela napas lega, “Apa ada barang yang tertinggal?”

Gu Weiyi menatap wajahnya yang tidak bersemangat, dia yakin bahwa keputusannya untuk pulang adalah benar. Dia menariknya untuk bangkit dari sofa dan mendorongnya ke kamarnya, “Kamu yang ketinggalan, cepat pergi ganti baju.”

Momo yang didorong memalingkan kepala untuk bertanya, “Untuk apa ganti baju? Apa hari ini kamu tidak perlu ke Lab? Kamu ingin mengajakku pergi main?”

Gu Weiyi mendengar kegembiraan dalam suaranya, ada sedikit rasa bersalah. Dia mengelus kepalanya dan berkata, “Aku tidak bisa libur, jadi kamu pergi bersamamu ke Sekolah. Nanti siang aku akan mengajakmu pergi makan Ikan Acar di dekat Sekolahku.”

Momo merasa senang, bersorak dan memberikan sebuah pelukan kepadanya. Dia pun bergegas ke kamar untuk berganti pakaian.

Gu Weiyi tersenyum dan menggelengkan kepala, benar-benar sangat mudah dibujuk.

Momo dengan hati-hati mengintip ke dalam Lab, menjulurkan kepala dan menariknya kembali. Gu Weiyi yang di belakangnya melihat tingkahnya yang konyol seperti pencuri dan mengetuk kepalanya, “Masuk saja.”

Mata Momo bersinar, “Bolehkah?”

Entah mengapa, tatapan mata si pencuri kecil ini mengingatkannya kepada tikus kecil yang dipelihara oleh Fakultas Teknik Kimia. Dia tersenyum dan berkata, “Boleh, nanti kamu akan bertemu dengan yang sejenis denganmu.” Setelah mengatakannya dia masuk ke dalam Lab.

Momo bergegas untuk menyusul, begitu memasuki pintu dia melihat seorang gadis yang sangat cantik sedang menatapnya. Dia diam-diam berpikir, apakah ini yang dimaksud ‘sejenis’ dengannya? Apakah maksudnya dia cantik? Dia yang memiliki pikiran seperti itu merasa sangat senang, tertawa lebar dan menarik lengan baju Gu Weiyi untuk minta diperkenalkan.

“Ini adalah Lu Jianshi, adik kelas yang sedang melakukan Eksperimen bersamaku.” Gu Weiyi menunjuk seorang gadis yang memakai jubah putih, menepuk kepala Momo lalu membawanya untuk diperkenalkan pada Lu Jianshi, “Ini Situ Mo, pacarku.”

Momo merasa nama orang ini tidak asing, tetapi dia tidak bisa mengingatnya. Dia hanya tersenyum canggung, “Hai.”

Lu Jianshi dengan kuat menahan kepanikan di hatinya dan menarik sebuah senyum, “Hai.”

Momo menunjuk jubah putih yang dia kenakan, “Apakah kalian semua harus memakai ini? Kamu memakainya dengan sangat elegan.”

Lu Jianshi yang belum sadar dari shock therapy-nya, hanya mengangguk tanpa ekspresi.

Momo melihat bahwa orang ini tidak terlalu suka mengobrol, dia berbalik dan berbicara dengan Gu Weiyi, “Kenapa kamu tidak memakai jubah putih?”

Gu Weiyi mengeluarkan kunci dari sakunya dan menyerahkannya kepada Momo, “Di luar pintu ada deretan loker, lokerku nomor 311. Ini kuncinya, tolong bawakan bajuku kemari. Di dalam loker juga ada buku, kalau kamu bosan boleh membacanya.”

Momo mengangguk dan berlari untuk pergi membuka lemari. Mencari bajunya, kemudian membolak-balikkan buku-buku di dalam lemari itu. Dia pasti sudah gila kalau mau membaca buku ‘Semi-Conductor Material‘ dan ‘Heat Treatment of Metal Materials’.

Dia kembali ke Lab untuk memberikan baju itu kepada Gu Weiyi, dan dia pun langsung memakai jubah putihnya. Dia berkata kepada Situ Mo, “Kamu tunggu aku di sini, aku akan mulai melakukan eksperimen.”

Melihatnya akan berjalan masuk ke dalam Lab, dia menarik tangannya, “Lalu apa yang harus aku lakukan di sini?”

“Kamu berjalan-jalan saja di sekitar sini, di sana ada yang memelihara tikus putih. Kamu boleh pergi bermain dengan mereka.” Gu Weiyi menunjuk ke sudut ruangan. “Aku sebentar lagi akan selesai, hanya membimbingnya saja.”

“Oh.” Momo melihat ke sekeliling, melepaskan tangannya dan menghela napas, “Kalau begitu kamu harus cepat selesai ya.”

Tangan Lu Jianshi yang sedang memegang tabung reaksi sedikit gemetar. Akhirnya dia tidak bisa lagi menahan lonjakan emosi di hatinya. Dia berkata, “Kakak Senior, pacarmu sangat cantik. Kenapa tidak pernah membicarakan tentang dia sebelumnya?”

Gu Weiyi mengambil klem tabung reaksi dan menjepit tabung reaksi dari tangan Lu Jianshi. Memanaskannya di atas Kompor Spirtus, lapisan uap mulai muncul di dinding kaca tabung. Dia menunjuk uap di tabung itu dan berkata, “Jika tabung reaksinya tidak benar-benar kering, itu akan mempengaruhi hasil akhir dari percobaan ini.”

Lu Jianshi mengangguk, dia sebelumnya tidak akan membuat kesalahan tingkat rendah seperti ini, hari ini dia benar-benar tidak normal.

Gu Weiyi dengan lembut mendorong pintu sampai terbuka dan mendekati Situ Mo. Dia sedang membungkuk untuk menggoda tikus kecil itu.

“Nasib kalian terlalu sial, apakah ilmuwan ini memberikan racun kepada kalian?”

“Zhi… zhi….”

“Aku pikir juga begitu, di kehidupan selanjutnya lebih baik kalian jangan jadi tikus. Jadi kucing akan lebih baik.”

“Zhi… zhi….”

“Kalian masih ingin jadi tikus? Kalau begitu jadilah tikus abu-abu, jangan yang berwarna putih. Walaupun tidak selucu yang putih, tetapi kalian tidak akan ditangkap untuk eksperimen.”

“Zhi… zhi….”

“Benar ya, kenapa di seluruh dunia menggunakan tikus putih untuk percobaan?”

“Zhi… zhi….”

“Zhi… zhi….”

“Ah, bertanya kepada kalian juga kalian tidak tahu, payah. Sangat membosankan, aku bosan sampai mengajak kalian berbicara, tidak aneh aku dibilang polos, ceria, dan luar biasa.”

Gu Weiyi hanya terbatuk lalu menarik ikatan ekor kuda di belakang kepalanya. “Menggunakan tikus putih karena gen tikus putih lebih mirip dengan gen manusia. Selain itu warnanya murni, perubahan yang terjadi akibat percobaan akan lebih terlihat jelas. Situ Mo, kamu sangat kekanak-kanakan.”

Momo memutar kepalanya dan melihatnya, “Kamu yang kekanak-kanakan, eksperimen-nya sudah selesai belum? Apakah sudah bisa pergi makan ikan acar?”

Dia melingkarkan kunci kuda itu di jarinya dan dengan lembut mendekatinya, “Belum, aku keluar untuk melihat interaksimu dengan keluarga tikus itu.”

Momo meliriknya, “Jangan menarik rambutku, aku sudah susah payah mengatur modelnya.”

Gu Weiyi menolak melepaskan, “Apakah seperti ini masih model?”

Momo mengulurkan tangan untuk menarik rambutnya, tetapi dia tidak mau melepaskannya. Dia menggunakan cara lain, “Aduh, sakit..”

Lu Jianshi menatap kedua orang di luar itu melalui kaca Laboratorium. Dia menarik rambutnya, dia cemberut dan ingin menariknya kembali, tetapi dia tidak mau melepaskannya. Lalu dia berkata dengan wajah manja, dia pun tersenyum dan melepaskan rambutnya. Lalu mengelus kepalanya dengan mesra.

Lu Jianshi tiba-tiba merasa bahwa senyumnya terlihat sangat aneh. Bukan karena biasanya dia tidak tersenyum, tetapi senyumnya selalu terkesan sopan dan formal. Tidak seperti sekarang, dia hanya tersenyum tanpa alasan.

Gu Weiyi kembali lagi ke dalam Laboratorium dan menemukan bahwa adik kelasnya sedang dalam keadaan linglung. Memanggilnya beberapa kali, tetapi dia tidak menjawab. Eksperimen selalu menjunjung tinggi ketelitian dan ketepatan, dia sangat tidak puas dengan sikapnya. Dia berkata dengan nada kurang menyenangkan, “Lu Jianshi, jika hari ini kamu sedang tidak fokus sebaiknya tidak usah dilanjutkan.”

Lu Jianshi menatapnya dengan tatapan kosong, “Oh?”

Gu Weiyi menunjuk pada dosis pewarna yang sedang berada di tangannya, “Jika kamu sedang dalam keadaan tidak fokus, jangan sia-siakan percobaan kita selama ini.” Dia bahkan sudah mengorbankan waktu untuk menemani pacarnya hanya untuk datang membimbingnya.

Lu Jianshi terkejut dengan nada bicaranya yang tinggi, sibuk menggumamkan permintaan maaf, “Maaf…aku akan lebih memperhatikannya.”

Gu Weiyi mengangguk, “Dosis pewarna harus dikurangi setengah, saat mencampurkan warna harus perhatikan nilai PH.”

Situ Mo sedang menyandarkan kepalanya di atas meja, mendengar suara pintu Laboratorium didorong terbuka dan mendongak. Mereka berdua berjalan keluar dari Lab, yang satu di depan dan yang satu di belakang. Wajah Gu Weiyi tanpa ekspresi, tetapi rahangnya mengeras, sangat terlihat jelas bahwa dia sedang marah. Lu Jianshi menggigit bibir bawahnya, terlihat seperti sudah akan menangis.

Momo yang tidak tahan melihat ekspresi aneh dua orang ini, secara otomatis menyapa, “Eksperimen-nya sudah selesai?”

Gu Weiyi menggelengkan kepala, “Tidak usah dilanjutkan, ayo kita pergi makan.”

Momo: “Kenapa tidak dilanjutkan?”

Lu Jianshi berkata dengan suara berbisik, “Aku merusak koloid yang sudah berhasil diwarnai. Maafkan aku.”

Gu Weiyi menatapnya dingin, “Nanti siang juga sebaiknya tidak usah dilanjutkan lagi, tunggu kamu sudah bisa fokus baru dikerjakan lagi.”

Momo mencolek pinggangnya, “Adik kelas, kamu jangan sedih. Dia tidak bermaksud seperti itu.”

Gu Weiyi memelototinya seakan berkata, ‘Aku memang bermaksud seperti itu’

Momo tidak peduli kepadanya, dia tersenyum dan berkata pada Lu Jianshi, “Apakah kamu merasa takut padanya sampai tidak bisa mengerjakannya dengan baik? Bagaimana kalau kita pergi makan siang bersama? Sedikit memahaminya, maka tidak akan takut lagi padanya. Ayo kita pergi makan ikan acar bersama-sama, apakah kamu suka makan?”

Lu Jianshi terpana oleh antusiasme-nya, “Iya, aku suka.”

“Kalau begitu, ayo pergi bersama.” Momo begitu saja membuat keputusan.

Gu Weiyi menghela napas, belum pernah melihat orang yang usil seperti ini.

BDPK Chapter 29
BDPK Chapter 31

Leave a Reply

Your email address will not be published.