KMM 101. Apa Ini Shen Xitong?

Featured Image

Bab sebelumnya

“Kenapa Xitong belum kembali?” Mater Shen bertanya, “Apakah dia tidak tahu jika ada tamu di rumah hari ini? Bagaimana rasanya ada keluarga besar yang menunggunya?” Nada bicara Tuan Shen tenang, tetapi masih bisa mengenali ketidakpuasan dari kata-katanya.

Atmosfer menjadi terasa dingin. Chu Yunrong berhenti dan tersenyum. “Aku baru saja menelponnya dan dia bilang jalanan macet, tapi dia akan segera datang.”


Continue reading “KMM 101. Apa Ini Shen Xitong?”

S3M 19. Kesadaran

Featured Image

Pada awalnya, Wei Wei tidak menganggap turnamen itu penting. Meskipun Da Shen belum pernah terlambat, tapi untuk terlambat beberapa menit itu masih dianggap  normal. Namun, ketika menit berlalu dan pada pukul 7:45, Wei Wei mulai panik. Meskipun Wei Wei tahu Nai He tidak online, tapi dia tetap mengirim pesan.

“Apa kau disana?”

Continue reading “S3M 19. Kesadaran”

KMM 100. Tamu (2)

Featured Image

“Xiao Tong dan Xiao Xuan datang dari mana?” Chu Yunrong bertanya dengan lembut dan tersenyum dengan sayang.

“Kami dari Beijing.” Kata Yu Xiaoxuan. “Bibi, anda lebih cantik dari pada di TV. Apa bibi tahu, ibu saya sangat menyukai anda. Jika dia tahu saya bertemu langsung dengan anda, dia pastinya akan iri.”

Continue reading “KMM 100. Tamu (2)”

S3M 18. Final

Featured Image

Die Meng menyapa Wei Wei terlebih dahulu: “Wei Wei.”

Wei Wei: “Die Meng, kau juga ikut kompetisi?”

Die Meng: “Tentu saja, aku harus ikut dalam kompetisi besar seperti ini.”

Continue reading “S3M 18. Final”

KMM 99. Tamu (1)

Featured Image

“Sesuatu terjadi pagi ini, dan membuatku terlambat. Maaf ya, kalian sudah menunggu lama?” Ujar Shen Junyu dengan senyuman. Di luar gerbang sekolah, Shen Junyu berdiri di samping mobilnya dan melihat tiga orang keluar dari sekolah.

Melihat dewa laki-laki di depannya, Yu Xiaoxuan sudah menghilangkan ketegangan di kamar asrama sebelumnya, dan wajahnya memerah. “Tidak, kami baru saja bangun.”

Fang Tong diam-diam memutar matanya.

Kelihatannya gerakan kecil ini tidak benar-benar dilihat oleh Shen Junyu. Seulas senyum muncul dan dia membuka pintu belakang. “Silahkan masuk mobil”

Nada seorang gentleman, apalagi gerakan bak gentleman itu, membuat hati Yu Xiaoxuan berdebar ribut, Ini benar-benar karena aura gentleman sejati dari Shen Junyu.

Shen Qinglan duduk di kursi samping pengemudi. Shen Junyu baru masuk ke dalam mobil dan menyerahkan sebuah tas ke Shen Qinglan, “Ini special dibuat oleh Nyonya Song pagi ini. Aku takut kau belum makan.”

“Kau telat, Kami sudah makan.” Kata Shen Qinglan tanpa emosi.

Shen Junyu mendesah tak berdaya, “Makan saja sebagai cemilan.”

“Apa kau tidak membiarkan kami makan siang?” Kata Shen Qinglan

Tangan Shen Junyu berhenti, meletakkan tas itu di samping, dan menggosok rambut Shen Qinglan, “Kau gadis yang tidak punya hati nurani.”

Shen Qinglan tidak menampilkan emosi. Fang Tong dan Yu Xiaoxuan melihat interaksi kedua saudara kandung tersebut, ada sentuhan ke-iri-an di mata mereka, mereka anak satu-satunya, tidak memiliki saudara kandung dalam keluarga. Mereka tidak merasakan apapun sebelumnya, tapi melihat sepasang adik kakak Keluarga Shen berhubungan baik dan tanpa beban, memiliki kakak laki-laki tiba-tiba terlihat seperti  suatu hal yang sangat bagus.

Tempat tinggal Keluarga Shen sedikit jauh dari sekolah mereka, apalagi kemacetan di jalan, memakan waktu dua setengah jam  sebelum sampai di gerbang Keluarga Shen.

Fang Tong dan Yu Xiaoxuan tidak berani bicara duluan, tapi Shen Junyu orang yang humoris dan berbicara lagi dengan mereka. Segera, Fang Tong dan Yu Xiaoxuan menjadi rileks.

Mereka baru saja sampai di pintu masuk rumah Keluarga Shen, dan melihat beberapa laki-laki membawa senjata di gerbang.

Fang Tong dan Yu Xiaoxuan segera menjadi waspada. Membayangkan satu hal, dan melihat  langsung apa yang kau bayangkan  adalah hal yang berbeda.

Shen Junyu memberhentikan mobilnya dan menurunkan jendela mobilnya. Orang di gerbang memberikan hormat dan membiarkan mereka melewati gerbang.

“Merak disana bukan untuk memeriksa identitas? Aku sudah mengeluarkan kartu identitasku.” Yu Xiaoxuan memegang kartu identitas di tangannya dan sedikit bingung.

“Tidak perlu, karena aku yang membawa kalian masuk,” Kata Shen Junyu dengan tersenyum lembut.

Sampai di tengah jalan, Shen Qinglan mulai istirahat dengan menutup matanya. Sudah sangat terlambat ketika dia pulang tadi malam, dan dia berkali-kali bermimpi. Di setiap mimpinya, ada Fu Hengyi. Karena itu, dia bangun berkali-kali akibat mimpinya, ditambah dia bangun pagi sekali. Jadi, dia mengantuk sekarang.

Baik Fang Tong dan Yu Xiaoxuan melihat keluar jendela di sepanjang jalan. Penghijauan di halaman sangat bagus. Ada banyak sekali tanaman hijau di mana-mana. Meskipun itu sudah akhir musim gugur dan banyak sekali daun yang sudah berguguran, masih ada beberapa pohon yang masih rimbun.

Setelah mengemudi selama lima menit, mobil berhenti di depan tiga bangunan bersejarah

“Kita sampai.” Kata Shen Junyu dan memarkirkan mobilnya.

Shen Qinglan adalah yang pertama kali keluar dari mobil. Fang Tong dan Yu Xiaoxuan mengekor di belakang gan mendongak melihat gedung yang kaya atmosfer bersejarah. Ketegangan mereka yang sebelumnya hilang akhirnya keluar  lagi.

“Qinglan, Junyu, kalian pulang.” Seorang wanita mengenakan cheongsam menyapa mereka dengan senyuman, pertama menyapa sang kakak dan Shen Qinglan, kemudian melihat Fang Tong dan Yu Xiaoxuan lagi, dan tertawa: “Kalian berdua teman sekelas Qinglan, benar? Ayo masuk.”

“Ini ibuku,” Kata Shen Qinglan.

Fang Tong dan Yu Xiaoxuan memanggil, “Bibi”.

Chu Yunrong lebih muda dan lebih cantik dari pada yang mereka lihat di TV.

“Benar-benar dua gadis yang cantik.” Kata Chu Yunrong  dengan penuh kasih sayang.

Fang Tong dan Yu Xiaoxuan tersennyum dengan malu. Dibandingkan dengan Shen Qinglan, mereka berdua tidak cantik.

“Kakekmu sudah menunggu lama,” kata Chu Yunrong, melihat kea rah Shen Qinglan. Nadanya tenang, tidak menyalahkan, tapi lebih ke pernyataan.

“Kemacetan yang membuat kami lama.” Shen Qinglan berkata dengan kalem.

Fang Tong dan Yu Xiaoxuan merasa sedikit bersalah. Faktanya, mereka seharusnya sampai satu jam yang lalu, jika saja mereka tidak keluar dari mobil dan membeli beberapa hadiah.

Chu Yunrong tidak mengatakan apa-apa tentang kemacetan di Beijing.

“Qinglan, ayo kita lepas sepatu dulu,” Yu Xiaoxuan berdiri di pintu dan berkata dengan sedikit khawatir.

Chu Yunrong melambaikan tangannya,  “Kau tidak perlu  melepas sepatumu, masuk saja.”

Shen Qinglan tidak mengatakan apa-apa, dia hanya berjalan masuk dengan sepatu tetap dipakai.

Shen Junyu, yang niatnya ingin mengganti sepatu, memberikan seulas senyum dan mengikuti adiknya. “Kita tidak perlu melepas sepatu di rumah, ayo masuk.”

Fang Tong dan Yu Xiaoxuan melihat pemilik rumah tidak mengganti sepatu mereka, jadi mereka masuk dengan lebih berani.

Melihat ini, Chu Yunrong sedikit terkejut. Untuk pertama kalinya, Shen Qinglan bergaul dengan teman-temannya. Dia tidak menyangka anaknya penuh perhatian. Dia kelihatannya…tidak memahami putrinya.

Chu Yunrong mendesah ringan, di hatinya, dia mengingat apa yang suaminya katakan sebelum kembali ke ketentaraan, bahwa dia harus benar-benar memperhatikan dengan baik putrinya.

“Kakek, aku pulang.” Shen Qinglan memasuki ruang tamu dan menyapa Tuan Shen yang duduk di ruang tamu.

“Kau baru saja datang. Tolong Tanya teman-temanmu untuk duduk atau berdiri atau apapun yang ingin mereka lakukan.” Wajah serius Tuan Shen memnuculkan sebuah senyuman, jelas memiliki suasana hati yang baik saat ini.

Fang Tong dan Yu Xiaoxuan berdiri di samping, menahan diri. Dua tangan kecil Yu Xiaoxuan terus meremas satu sama lain. Meskipun Fang Tong terlihat lebih tenang dari Yu Xiaoxuan, matanya yang terus berkedip menunjukkan kalau dia juga gugup.

“Kakek, ini Fang Tong, dan ini Yu Xiaoxuan, merka teman-temanku. Ini kakekku.”

“Kakek…Shen…baik.” Fang Tong dan Yu Xiaoxuan tergagap.

“Kakek, kau menakuti gadis kecil ini.” Shen Junyu berkata dengan tersenyum.

Kakek Shen terkejut, “Aku menakutkan….bagaimana bisa aku menakuti orang?”

“Tidak, Kakek Shen sangat baik. Kami terbiasa melihat anda di TV, tapi akhirnya kami melihat anda langsung, jadi kami gugup.” Kata Fang Tong dan merona.

Kakek Shen tersenyum, “Oh, nak, jangan gugup. Aku kakek Lan Lan, bukan orang lain.”

“Ya, jangan gugup, ayo, minum jus dulu.” Chu Yunrong datang dan membawa dua gelas jus.

Yu Xiaoxuan dan Fang Tong  dengan cepat mengambil jus dengan kedua tangan.

“Terima kasih Bibi.”

Shen Qinglan diberikan secangkir teh. “Terimakasih bu.”

Master Tua Shen dan Chu Yunrong bisa melihat pembawaan Fang Tong dan Yu Xiaoxuan. Sangat bagus, mereka bisa melihat ketulusan di kedua mata mereka. Ketika mereka memasuki rumah Shen, mereka tidak melihat sekeliling dengan sembarangan kecuali saat mereka pertama kali masuk karena penasaran.

Kedua tetua Shen ini puas. Meskipun mereka berharap  Shen Qinglan akan lebih banyak berkomunikasi dengan teman-temannya, dia juga berharap teman-temannya adalah orang baik. Sekarang, tampaknya Shen Qinglan memiliki pandangan bagus dalam memilih teman.


Ini fresh from the oven, Kak Jentra ngirim langsung aku translate ^_^

Enjoy!


Ramaikan ig kami @translateindo

Kritik dan sarang di sambut hangat O(∩_∩)O

 

 

S3M 17: Mainan untuk Istriku

Featured Image

Ungkapan klasik “bertemu musuh di jalan sempit,” mungkin digunakan untuk menggambarkan situasi semacam ini.

Wei Wei melihat ke sisi yang berlawanan, dia tidak bisa menahan untuk terkejut dengan lawan mereka  di pertarungan ronde pertama akumulasi poin.

Continue reading “S3M 17: Mainan untuk Istriku”

S3M 16. Bersamaku

Featured Image

Wei Wei buru-buru menjawab semua pertanyaan dari teman-temannya. Selama waktu ini, tidak ada pesan dari Nai He. Wei Wei menggerakkan mouse untuk memblokir saluran dunia dan semuanya menjadi tenang dalam hitungan detik.

Continue reading “S3M 16. Bersamaku”

S3M 15. Sampai Kita Bertemu Lagi di Jianghu

Featured Image

Yu Gong dan Hou Zi Jiu? Memang benar, mereka akan pergi membunuh bos, tetapi bagaimana mereka bisa merebut bos (yang dilawan) orang lain? Wei Wei masih memiliki kepercayaan pada mereka untuk hal seperti ini. Itu mungkin hanya salah paham.

Continue reading “S3M 15. Sampai Kita Bertemu Lagi di Jianghu”

KMM 98. Mengunjungi Keluarga Shen

Featured Image

Gu Yang mengirim Gu Kai ke rumah sakit terlebih dahulu. Setelah dokter memeriksanya, dia menemukan bahwa itu hanya memar dan benjolan, yang tidak serius. Dia dibalut dan diberikan resep beberapa obat untuk mendukung sirkulasi darah dan menghilangkan stasis darah, sudah begitu saja.

(TN: stasis darah = pemberhentian darah)

Sudah terlambat, Shen Qinglan tidak bisa masuk ke sekolah ketika dia tiba di sana, jadi dia tidak kembali ke asramanya, tetapi meminta Gu Yang mengirimnya kembali ke Apartemen Jiangxin.

Dalam perjalanan ke apartemen Shen Qinglan, Gu Yang ingat pandangan Lin Hao sebelum dia pergi dan berkata, “Kakak Ipar, Lin Hao telah menderita kerugian besar hari ini. Dia pasti tidak akan membiarkan hal ini begitu saja. Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?”

“Aku tidak ingin orang lain tahu apa yang terjadi hari ini.” Shen Qinglan memerintah.

Gu Yang mengangguk dengan jelas, “Jangan khawatir, Kakak ipar, kita bertiga tahu tentang ini dan tidak akan mengatakan sepatah kata pun.” Jika keluarga tahu, akan ada masalah baginya dan Gu Kai, “Tapi kakak ipar, Lin Hao tidak akan keluar dan mengatakan apa-apa, kan?”

Alis melengkung Shen Qinglan mengangkat dengan ringan dan berkata dengan tegas, “Dia tidak akan melakukannya.”

Gu Yang juga berpikir begitu, tapi Lin Hao kehilangan wajahnya hari ini. Dia pasti tidak ingin semua orang tahu tentang itu. Kenapa dia mau keluar dan mengatakan sesuatu?

“Ha ha, ini adalah pertama kalinya aku melihat Lin Hao dalam kekacauan seperti itu. Ini benar-benar menghibur.” Gu Yang tidak bisa menahan tawa.

Wajah tanpa ekspresi Gu Kai juga mengungkapkan senyum, menatap Lin Hao yang dipukuli, benar-benar lucu.

Dan faktanya adalah, seperti yang diharapkan Shen Qinglan, Lin Hao tidak bergerak dalam beberapa hari ke depan. Keluarga Lin dan Gu juga menjalankan hari-hari seperti biasa.

Faktanya, Lin Hao tidak ingin mendapat masalah, dia bersembunyi di rumahnya sendiri sekarang dan tidak berani keluar untuk bertemu orang-orang. Akhirnya dia pergi mencari beberapa orang untuk mendiskusikan cara memberi  Shen Qinglan pelajaran. Tapi dia benar-benar bertemu Sun-ge yang membawa beberapa orang untuk memukuli nya tanpa mengatakan apa-apa. Dia dipukuli sampai babak belur, sampai-sampai orang tuanya tidak bisa mengenalinya. Dasar kepala babi, (kalau) dia masih berani keluar, cuma kehilangan wajahnya tidak cukup.

Gu Yang mengirim Shen Qinglan ke gerbang apartemennya dan pergi ketika dia melihatnya memasuki gedung apartemen.

“Gu Kai, bagaimana menurutmu dia mengembangkan keterampilan ini?” Gu Yang membuka mulutnya dan bertanya pada Gu Kai, dia benar-benar tidak tahu bagaimana Shen Qinglan bisa belajar keterampilan mengemudi yang keren dan keterampilan tangkasnya.

Untuk mengatakan bahwa keterampilannya diajarkan oleh keluarga Shen, dia percaya, tetapi gerakan ganas Shen Qinglan, yang langsung menuju ke titik kunci seseorang, satu per satu dia mengalahkan semua pria kuat dalam satu pukulan, meskipun dia terlihat seperti gadis lemah dan lembut, keterampilan semacam ini bukanlah yang diajarkan Keluarga Shen kepada putri mereka.

Gu Yang dan Gu Kai, yang dilatih oleh Master Fu sejak masa kanak-kanak mereka mengatakan, bahwa bahkan mereka tidak bisa melakukannya (gerakan bela diri) kecuali itu adalah Fu Hengyi.

Belum lagi dalam hal balapan, tidak ada seorang pun di Keluarga Shen yang bisa mengendarai mobil balap. Shen Junyu juga tidak pernah menyentuhnya.

“Masalah ini di luar kendali kita.” Gu Kai berkata dengan dingin.

Gu Yang berhenti. Dia hanya ingin tahu dan ingin mengobrol dengannya, kenapa serius sekali.

***

Keesokan harinya pagi-pagi sekali, seperti biasa, Shen Qinglan bangun tidur dan berlari beberapa putaran, lalu dia mandi dan pergi ke kamar tidur.

Ketika dia tiba di asrama, Yu Xiaoxuan dan Fang Tong sudah bangun. Mereka sedang menunggu Shen Qinglan setelah mandi. Berbeda dari biasanya, bahkan Yu Xiaoxuan, yang selalu ceroboh, mengenakan gaun yang sangat feminin hari ini dan memiliki riasan tipis di wajahnya.

“Qinglan, kau akhirnya datang. Aku baru saja akan menelponmu.” Yu Xiaoxuan melihat Shen Qinglan, matanya bersinar cerah.

Shen Qinglan memberi mereka sarapan yang dia bawa “Aku membawakanmu sarapan, makan dulu.”

“Kau ..,” Yu Xiaoxuan memainkan jarinya, “Kapan kakakmu akan datang menjemput kami?”

Karena dia tahu bahwa kakak  Shen Qinglan adalah dewa laki-lakinya, Shen Junyu, Yu Xiaoxuan terlihat sangat bersemangat. Karena dia pikir dia bisa bertemu dewa laki-lakinya hari ini, dia tidak bisa tidur nyenyak dan bangun lebih awal.

Penampilan antusiasmenya begitu jelas sehingga Fang Tong tidak bisa menahan diri untuk bertanya kepadanya, “Bukankah cuma laki-laki? Jangan malu-malu.” Dia mengakui bahwa Shen Junyu benar-benar tampan, dan pada pandangan pertama dia akan merasa seperti “orang asing seperti batu giok dan anak laki-laki tidak seperti yang lain” . Namun, Fang Tong masih mencium bahaya dari pria ini dan intuisinya mengatakan kepadanya bahwa pria ini tidak bisa didekati.

(TN: “Bukankah cuma laki-laki? Jangan malu-malu.”= Ungkapan Tiongkok kuno – diadaptasi dari puisi “Tuan Shi Wushuang” – artinya, perempuan itu sangat cantik dan lelaki itu sangat tampan, lembut dan elegan. Namun kemudian, secara bertahap diperluas untuk menggambarkan kelembutan dan keanggunan pria.)

Mengesampingkan para dewa laki-laki, Yu Xiaoxuan adalah Yu Xiaoxuan, dan ketika dia membuka mulutnya, dia menjawab, “Ya, itu hanya seorang laki-laki. Tetapi ada seseorang yang terjebak sepanjang hari, melakukan tiga panggilan telepon sehari.”

Fang Tong mendengus, tanpa bicara, dia mengerti bahwa Yu Xiaoxuan iri dan cemburu.

“Di mana Wu Qian?” Shen Qinglan yang tidak melihat sosok Wu Qian, bertanya.

Fang Tong mengangkat bahu. “Aku tidak tahu, aku tidak kembali setelah aku pergi kemarin, dan aku tidak mendapat telepon apapun.”

Mata indah Shen Qinglan berkilat. Kemarin dia melihat Wu Qian mengikuti seorang pria.

Fang Tong dan Yu Xiaoxuan bangun pagi-pagi dan berdandan. Mereka tidak punya waktu untuk membeli sarapan, jadi mereka mengambil sarapan yang dibeli oleh Shen Qinglan dan memakannya.

“Qinglan, tidak baik bagi kita untuk pergi ke rumahmu dengan tangan kosong, kenapa kita tidak berhenti sebentar di jalan dan pergi ke mall untuk berbelanja. Seperti apa keluargamu?” Fang Tong tiba-tiba berkata, setelah menghabiskan sarapannya.

Yu Xiaoxuan mengangguk. “Ya, Qinglan, mari kita pergi berbelanja dulu, atau aku akan malu untuk datang.”

Sebenarnya, dia membahas masalah ini dengan Fang Tong kemarin, tetapi karena Shen Qinglan tidak kembali tadi malam, mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk bertanya kepada Shen Qinglan, jadi mereka tidak tahu harus membeli apa. Mereka ingin membeli sesuatu, tetapi mereka takut jika apa yang mereka beli itu tidak memuaskan dan tidak pantas.

Shen Qinglan tidak bisa menahan tawa ketika dia melihat mereka dengan ekspresi gugup. “Keluargaku memiliki segalanya dan kau tidak perlu membawa apa-apa. Kau hanya pergi ke rumahku sebagai tamu. Bukannya meminta kalian  untuk bertemu dengan mertua masa depan kalian.Kenapa gugup sekali?”

Shen Qinglan jarang membuat lelucon.

Sangat disayangkan bahwa baik Fang Tong dan Yu Xiaoxuan dalam keadaan tegang sekarang. Benar-benar tidak ada gairah untuk lelucon.

Benar-benar hanya mengunjungi keluarga Shen sebagai tamu, tetapi keluarga seperti apa keluarga Shen ini? Itu keluarga militer dan politik yang terkenal. Kepala Keluarga Shen adalah tokoh terkenal, dan ada orang yang menemaninya kemanapun dia bepergian. Ibu Shen Qinglan juga seorang pianis terkenal. Meskipun Shen Qinglan mengatakan bahwa ayahnya tidak ada di rumah hari ini, tetapi hanya dua Shen sudah cukup untuk membuat mereka gugup.

“Kakekku adalah penatua yang sangat santai. Meskipun dia memiliki wajah yang serius, dia sangat baik kepada generasi muda. Kemarin dia mendengar bahwa aku akan membawa pulang teman-temanku, jadi dia tinggal di rumah hari ini terutama menunggu kalian.” Shen Qinglan awalnya ingin menghibur kedua temannya, tetapi perkataannya malah menjadi bumerang. Mendengar ini, wajah kecil Fang Tong dan Yu Xiaoxuan hampir kusut menjadi boneka roti kukus.

“Qinglan, apakah sudah terlambat bagi kita untuk tidak pergi sekarang?” Yu Xiaoxuan bertanya.

Shen Qinglan melambaikan ponselnya, “Sepertinya sudah terlambat.”

Yu Xiaoxuan melihat nama ID penelepon dengan jelas dan jatuh di atas meja dalam keadaan lemah. Bahkan kegembiraan melihat dewa laki-laki segera lenyap.

“Lupakan saja, bukankah kita hanya akan bertemu orang tua dari teman kita, dan tidak akan berperang, apa yang membuatmu gugup?” Fang Tong menggertakkan gigi, dengan wajah murah hati.


Enjoy!


Follow ig kami Ig : @translateindo

Tolong dimatikan addblock nya, untuk men-support para penerjemah kami ^_^

Saran dan kritik dipersilahkan, Lya disini siap membenahi ^_^

-Thanks in Advance-

[maxbutton id=”39″ ]

S3M 14. Quest yang Menyiksa

Featured Image

Ketika menyangkut gosip, kecepatan mengetik Lei Shen Ni Ni bertambah dua kali lipat: pesan lain langsung tiba: “Mereka berada di Kota B. kebetulan. Wei Wei, apa kau di sana?”

[Wei Wei]: “Mm, aku belajar di Kota B”

Continue reading “S3M 14. Quest yang Menyiksa”