DAM 186 – Terima kasih untuk kemarin (6)

Featured Image

Dia segera menelan ludahnya dan menahan kata-kata yang hampir diucapkan. Dia memaksa dirinya mengalihkan matanya dari bayangannya ke sebuah lukisan di dinding tepat di depannya. Melihatnya pergi, aku bahkan ingin menghentikannya … Sikapnya yang begitu patuh dan menjauhiku, apakah itu yang aku inginkan?

Mengapa tiba-tiba membenci satu-satunya harapanku dan ingin bersamanya? Gu Yusheng tiba-tiba menjadi kesal. Tanpa Qin Zhi’ai berada di ruang tamu, dia mengambil kotak rokok di atas meja tanpa ragu, menyalakan c****u, dan memasukkannya ke mulutnya.

Aroma c****u meredakan sentimennya. Melalui asap yang melayang di udara, dia menatap langit-langit putih, bertanya pada dirinya sendiri dalam kebingungan dari lubuk hatinya — mengapa aku menebak-nebak lagi? Continue reading “DAM 186 – Terima kasih untuk kemarin (6)”

DAM 185 – Terima kasih untuk kemarin (5)

Featured Image

Qin Zhi’ai memperhatikan bercak besar darah kering di punggung Gu Yusheng. Qin Zhi’ai menatap Gu Yusheng. Dia memperhatikannya melihat keluar jendela dengan pandangan damai.

Dia tidak ingin mengganggunya, jadi dia diam-diam meletakkan botol obat di atas meja kopi dan menguji suhu air di baskom. Dia memperhatikan airnya agak dingin. Dia diam-diam membawa baskom ke kamar mandi dan menambahkan air panas ke dalamnya.

Continue reading “DAM 185 – Terima kasih untuk kemarin (5)”

DAM 184 – Terima kasih untuk kemarin (4)

Featured Image

Gu Yusheng melepas kemeja yang basah kuyup dan melemparkannya  ke lantai dekat pintu. Di atas meja kopi ada baskom yang mengepul. Gu Yusheng, dengan tubuh bagian atasnya telanjang, berdiri di samping sofa, membungkuk dan membasuh dirinya dengan handuk.

Melihat Gu Yusheng tidak memperhatikannya, dia berdiri di dekat pintu kamar utama dan diam-diam menatapnya di ruang tamu. Setelah meremas handuk, dia melihat ke cermin dan mulai menghapus noda darah di tubuhnya. Dia tidak bisa melihat punggungnya atau bergerak dengan mudah dengan satu bahu terluka, jadi dia hanya membersihkan asal.

Continue reading “DAM 184 – Terima kasih untuk kemarin (4)”

DAM 183 – Terimakasih untuk kemarin (3)

Featured Image

“Apa yang terjadi? Mengapa kamu berdarah?” Pengurus rumah tidak bisa mengurus Qin Zhi’ai saat ini. Dia berjalan melewati depan mobil, berlari ke sisi penumpang dan bertanya, “Kenapa terluka padahal baru keluar? Lukanya dalam dan mudah terinfeksi. Tuan Gu, apakah sudah hubungi dokter?” Pengurus rumah mengomel.

Dia tidak menyadari dia perlu memanggil dokter sampai dia menyelesaikan pertanyaan terakhirnya. Dia segera mengeluarkan ponselnya dari sakunya.

“Aku akan memanggil Dr. Luo dan memintanya datang sesegera mungkin.” Ketika pengurs rumah memanggil dokter, dia pindah pintu mobil. “Tuan Gu, bisakah keluar mobil lebih dulu? Aku akan mengambil obat untukmu agar tidak berdarah.” Continue reading “DAM 183 – Terimakasih untuk kemarin (3)”

DAM 182 – Terimakasih untuk kemarin (2)

Featured Image

Duduk di samping Gu Yusheng, Qin Zhi’ai menatap tangannya di kompartemen sarung tangan. Dia mencari-cari di dalamnya dan menemukan korek api, kemudian menyerahkannya.

Dia tampak bingung, lalu mengambilnya, tetapi saat akan menyalakan rokok di mulutnya, dia tiba-tiba ingat bahwa dia batuk saat merokok di dalam mobil sebelumnya, jadi dia berhenti.

Dasar pengacau … Gu Yusheng bergumam. Lalu dia memutar kepalanya membuang rokok di antara bibirnya ke dalam laci, melemparkan korek api ke dalamnya dan menggerakkan matanya ke jalan lagi. Continue reading “DAM 182 – Terimakasih untuk kemarin (2)”

DAM 181 – Terima kasih untuk kemarin (1)

Featured Image

Detak jantung Qin Zhi’ai sepertinya berhenti. Dia tidak merespons apa pun. Otaknya belum bereaksi terhadap suara keras itu. Dia mendengar suara keras itu sebelum Gu Yusheng mendorongnya.

Dia terhuyung mundur beberapa langkah dan menatap Gu Yusheng sebelum menenangkan diri. Ada luka panjang di pundaknya. Darah mengalir keluar dan menodai kemejanya dalam waktu sangat singkat. Salah satu orang dalam setelan hitam yang tergeletak di lantai mengambil pisau dari suatu tempat dan bergegas menuju Gu Yusheng.

Adegan berdarah dan kejam ini adalah salah satu yang sepertinya hanya terjadi di acara TV. Qin Zhi’ai terkejut dan takut melihatnya di kehidupan nyata. Mata pria berjaket hitam itu melotot. Dia memotong pisaunya dengan sangat cepat. Continue reading “DAM 181 – Terima kasih untuk kemarin (1)”

FG 185 – Pencuri

Featured Image

Suaranya terhenti karena putus asa menyaksikan bibinya mengambil cacing pasir dengan sumpitnya, memasukkannya ke dalam mulutnya, dan perlahan-lahan mengunyahnya. Mengapa? Benda ini terlihat sangat menjijikkan. Bagaimana bibinya, yang berstatus bangsawan, dapat menerima itu?

“Mhm! Sangat segar dan lembut. Ayah baptismu memuji cacing pasir tanpa henti dalam surat-suratnya. Aku sudah lama ingin mencicipinya. Masakan Xiaocao sangat enak. Aku sangat suka hidangan ini.” Nyonya Fang mencoba dua suap lagi sebelum meluangkan waktu memujinya.

Xia Furong sangat kesal, “Bagaimana orang yang mulia dan anggun seperti bibiku suka memakan cacing?” Continue reading “FG 185 – Pencuri”

FG 184 – Membantunya tenang

Featured Image

“Terima kasih, ibu baptis!” Yu Xiaocao bersikap tidak sopan. Ginseng berusia seratus tahun tidak dianggap langka baginya karena ia sudah memiliki ginseng berusia lima ratus tahun di rumah. Tetapi dia akan mengingat kebaikan ibu baptisnya. Jika dia memiliki sesuatu yang baik di masa depan, dia pasti akan membaginya dengan ibu baptisnya!

Xia Furong merasa lebih tidak senang. Tidak mudah mendapatkan ginseng berumur seratus tahun. Mereka baru saja bertemu orang malang ini di desa, tetapi dia benar-benar membujuk bibinya!

Saat berbicara, mereka sudah tiba di ladang semangka keluarga Xiaocao. Yu Hai saat ini memuat dua gerobak dengan semangka. Dia harus membawa dua gerobak semangka ini ke kota nanti. Tidak ada orang lain di Keluarga Yu yang mengemudikan kereta, jadi dia harus meminta sepupu laki-lakinya yang lebih tua, Yu Xi, untuk membantu.

Continue reading “FG 184 – Membantunya tenang”

FG 183 – Berkompetisi untuk saling mendukung

Featured Image

Jalan menuju Desa Dongshan tidak terlalu mulus dan sangat bergelombang. Xia Furong merasa mual. Dia muram dan menyimpan kebencian dalam hatinya, ‘Apa yang salah dengan bibiku? Dia tidak ingin tinggal di rumah yang bagus di kota, malah datang ke pedesaan yang miskin dan terpencil ini. Itu semua karena si celaka itu. Jika dia tidak mengatakan paman tinggal di Desa Dongshan selama ini, bibi mungkin sudah menetap di kota!”

Ah! Xia Furong membenturkan kepalanya ke jendela kereta.. Gadis kecil itu menutupi kepalanya yang sakit dan menatap bibinya, Nyonya Fang, dengan air mata berlinang.

Nyonya Fang pernah berlatih dengan suaminya sebelumnya. Tidak peduli seberapa bergelombang jalanan, dia tetap duduk tegak seperti patung.

Continue reading “FG 183 – Berkompetisi untuk saling mendukung”

FG 182 – Keramahan

Featured Image

Nyonya Fang melirik keponakannya. Benar saja, putra kedua Pangeran Jing, Zhu Junxi, sedang berbicara dengan seseorang yang tampaknya menjadi manajer. Saat ini, ada beberapa orang pedagang, keluar dari restoran dengan kecewa.

“Lupakan saja, aku akan mentraktirmu di Restoran Fulin! Ayah baptismu pernah menyebutkan ada beberapa restoran yang sudah lama berdiri di Kota Tanggu dan memiliki hidangan khas. Kamu bisa mengundang kita ke Restoran Zhenxiu lain kali.” Mereka baru saja bertemu, tetapi Nyonya Fang merasakan semangat kebaikan gadis kecil ini. Karena itu, dia menawarkan cara untuk keluar dari situasi canggung ini.

Yu Xiaocao tersenyum tulus pada ibu baptisnya, memegang tangannya, dan melangkah ke pintu masuk utama Restoran Zhenxiu. Continue reading “FG 182 – Keramahan”