ASPSD 89. Masa Lalu Okaa-sama

Featured Image

 [Iris]

(Okaa-sama berarti “Ibu”. Oto-sama berarti “Ayah”. Bab ini adalah dialog antara Iris dan Mellice Armelia.)

Aku menghirup teh ku dengan elegan di ruang tamu.

Biasanya, aku akan menatap bunga hias, dan menenangkan pikiran ku pada kecantikan mereka…. Tapi hari ini, aku tidak bisa tetap tenang. “Fuahh …”

“Ah, Iris-chan, apa yang terjadi? Ada apa dengan wajah sedih itu?” Ibu muncul dengan suaranya yang bercahaya dan lembut.

“Okaa-sama ….”

“Kau, di sana, aku ingin minuman yang sama dengan Iris-chan.” Ibu duduk di sebelahku setelah menginstruksikan pelayan itu. “Istirahat?”

“…….. Mm, aku hanya sedikit lelah.”

“Kau tidak dapat mempertaruhkan hidup mu pada pekerjaan mu. Ugh, kau seperti ayahmu. ” Tawa kecil ‘fufufu ibu itu indah, seperti biasa. Bahkan mengangkat cangkir tehnya ke bibirnya sangat mempesona. Meskipun dia ibu ku, aku merasa tercengang.

“Sungguh, hanya karena kau lelah? Apakah kau memiliki hal lain di pikiranmu?” Mendengar kata-kata Ibu, aku tegang karena terkejut. Apakah seseorang seperti ku benar-benar mudah dibaca?

“… Iris-chan, kau mau jalan-jalan di luar? Jika kau tertutup di dalam ruangan sepanjang hari, pikiran mu akan fokus pada semua hal buruk.” Saat dia berbicara, Ibu merenggut tangan ku, menarik ku ke atas, dan mulai berjalan.

“Eh? Eh?” Meskipun dia memiliki penampilan yang ramping, Ibu secara tak terduga kuat. Dia menyeretku di sepanjang langkahnya. Aku melihat ke belakang, dan para pelayan tampak bingung dan panik. Mereka tidak tahu bagaimana menanggapi tindakannya.

Jadi aku diseret selama beberapa menit lagi. Entah bagaimana, aku naik kereta kuda, dan kami terhuyung ke depan selama sepuluh menit. Kami menaiki tangga batu besar yang menakutkan.

Akhirnya, aku berdiri di atas menara tinggi yang menghadap ke Kota Kerajaan.

“… Cantik sekali….” Aku menghela nafas sebagai apresiasi terhadap pemandangan.

Kami dekat dengan awan mengambang, dan sinar matahari yang hangat menyelimuti tubuh ku. Di bawah kecemerlangan matahari, Kota Kerajaan tampak lebih memikat dari biasanya.

“Mm, memang, Iris-chan.”

“Ibu, ini …”

“Tempat ini, adalah menara pengawas untuk Penjaga Kota Kerajaan. Saat ini, harus berada di bawah tahanan tentara.”

“… Kita diizinkan masuk?”

Sederhananya, ini adalah properti militer. Bahkan sebagai bangsawan, aku terkejut bahwa kami bisa masuk bahkan sebagai warga negara.

“Dengan nama kakekmu, itu mudah.”

Bagi Ibu untuk berbicara tentang hal-hal seperti ini begitu leluasa adalah sesuatu yang harus dihormati tentangnya.

“… Ketika aku masih kecil, aku akan datang ke sini jika sesuatu terjadi pada ku. Jadi aku terbiasa dengan para penjaga.” Ibu tersenyum lembut.

(penerjemah: Sekarang kisah ibunya Iris saat muda juga telah di novel-kan. Judulnya ‘Common sense of a Worrior’!!)

“… ibu, apa yang akan mengganggumu saat itu? “

“Hehehe…. Seperti, ketika aku bertengkar dengan ayah ku, atau ketika aku kalah dalam pertempuran melawan nya.” Ibu terlihat sangat ceria saat dia berbicara.

“Juga, aku akan datang ke sini ketika salah satu mimpiku hancur berantakan.”

“Ibu, mimpi? …….. Ibu, seperti apa …?” Mimpi ibu, Aku tidak bisa membayangkan sama sekali.

Orang ini, dijuluki ‘Bunga Masyarakat’, dipuji dengan hormat dan kagum di seluruh negeri. Aku merasa bahwa apapun yang dia inginkan, dia pasti akan mendapatkannya. Aku tidak dapat membayangkan satu mimpi pun dimana Ibu akan menyerah.

“Saat itu, Aku ingin melayani di bagian militer.”

Pupil ku membesar ketika aku mendengar jawaban yang mengejutkan. “… Di militer?”

“Mm…. Aku dilatih dalam pertempuran sejak usia muda. Itu karena nyawa ibu ku diambil oleh bandit.” Ketika aku mendengarkan cerita yang benar-benar tidak dikenal ini, aku terkejut lagi.

“Duka ayah saya saat itu benar-benar besar. Orang yang memenangkan banyak kemenangan, dan mempertahankan keamanan kerajaannya. Dia tidak akan pernah berpikir bahwa dia akan tidak berdaya untuk melindungi istrinya, dan bahkan terlebih lagi bahwa nyawanya diambil oleh warga yang dia lindungi.”

Dadaku sakit. Seorang pejuang yang mulia…. Penyelamat di medan perang. Kakek ku yang terpuji dan terhormat, tidak mampu melindungi nenek ku dari bahaya. Dan, dia dibunuh oleh seorang warga kerajaan ini….

“Jadi setelah ibuku meninggal…. Aku mulai belajar bertarung. Ayah ku tidak menghentikan ku. Aku tidak belajar sopan santun dan semua yang dipelajari gadis bangsawan lainnya, tetapi sama seperti anak laki-laki berotak otot.”

Aku tidak tahu bagaimana menanggapi pengetahuan baru ini. Percakapan dengan ibuku ini benar-benar mengejutkanku hari ini. Karena, ini adalah Ibu? Untuk berpikir bahwa ibu yang dicap sebagai contoh kamus istri bangsawan, tidak pernah belajar etiket atau kesopanan ketika dia muda.

“… Apakah karena ajaran ayah ku, atau karena aku memang memiliki bakat bawaan, seperti yang diakui ayah ku? Lupakan anak-anak lain seusiaku, aku bahkan tidak pernah kalah pada orang dewasa yang lebih tua dari ayahku. Dalam ingatan ku, dia adalah satu-satunya yang membuatku kalah.” Ibu tersenyum ketika dia berbicara, tetapi mulutku tidak melengkung sedikit pun. “… Aku tidak tahu kapan, tapi aku memutuskan untuk menjadi tentara, dan melindungi negara seperti yang dilakukan ayah ku.”

“… Namun, orang-orang yang mengambil kehidupan Nenek masih menjadi warga negara ini. Kenapa harus….”

“Memang…. Seperti yang kau katakan, aku membenci bandit yang membunuh ibu ku, dan tidak mengerti mengapa ayah ku akan tetap melindungi negara bahkan setelah kematiannya. Kebencian, atau hanya keinginan untuk belajar melindungi diri sendiri? Sejujurnya, aku bahkan tidak tahu alasan mengapa aku dilatih dalam pertempuran hingga hari ini.” Sebuah bayangan jatuh di belakang senyum ibuku.

Di bawah sinar matahari, aku entah bagaimana merasa bahwa seringai Ibu palsu.

“Jadi, mungkin itu sebabnya aku menjadi seperti ini…. Ketika Ayah akhirnya menangkap bandit yang terlibat dalam kasus pembunuhan itu, untuk jangka waktu tertentu, hatiku terasa sangat kosong. Mengapa aku belajar untuk bertarung? Aku kehilangan ambisi ku…. Pada saat itu, aku sering datang ke sini untuk merenung. Mengapa aku mencari pengetahuan tentang cara bertarung ini? Aku merenung, dan kemudian… Berkat panorama yang mempesona di sini, aku membersihkan emosi ku. Lihat….” Ibu menunjuk pada pemandangan yang menakjubkan.

Ada lautan orang, serta jalan-jalan dan jalan yang indah.

“Di masing-masing bangunan ini, ada orang-orang individu…. Karena mereka ‘hidup’, mereka tertawa, menangis, dan memiliki kehidupan sehari-hari mereka sendiri. Aku pikir…. Keindahan apa ini, betapa berharganya ini!”

“Ibu ….”

“Ya, ada orang-orang yang menjadi bandit dan sejenisnya, tetapi ada juga banyak warga tak berdaya. Untuk mencegah sesuatu seperti tragedi keluarga ku untuk menimpa orang lain, untuk mencegah orang-orang menangis dalam kesedihan, untuk melestarikan pemandangan di depan kita sekarang, aku ingin melindungi semua ini bahkan jika itu adalah untuk merendam tangan ku dalam darah segar.”

Suatu sentakan pemahaman yang mendadak melesat menembus hati ku.

“… Kemudian, ibu mempertahankan pola pikir itu sejak kecil …?”

“Mungkin itu karena aku kehilangan ibu ku yang penting, dan tidak ingin kehilangan orang lain, hingga aku memiliki resolusi yang tegas.”

“Ibu ….”

“Tapi, kenyataannya itu kejam. Alasannya, itu karena militer membatasi wanita dari rekrutmen. Seorang lelaki yang kalah dari ku dalam duel mengingatkan ku akan hal itu, dan aku menabrak dinding besi itu. Mimpiku hancur berantakan.”

Orang-orang itu benar-benar…. pengecut. Aku tahu itu semua sudah berlalu, tapi aku masih merasakan amukan kemarahan. Jika aku merasa seperti ini hanya sebagai pihak ketiga, bagaimana perasaan ibu ku saat itu?

“Apakah ibu tidak berpikir untuk menjadi seorang ksatria?” Posisi kesatria terbuka untuk beberapa wanita. Itu adalah untuk melindungi anggota wanita dari keluarga kerajaan.

“Aku tidak mempelajari cara bertarung untuk melindungi keluarga kerajaan. Dan, untuk terus terang, kesatria perempuan hanyalah sebuah hiasan.”

Itu benar. Aku mengangguk. Ksatria wanita tidak membutuhkan banyak keterampilan. Mereka dijauhkan dari pertempuran, karena jika seorang wanita muncul di garis depan, dia akan segera ditargetkan sebagai kelemahan.

“… Dan pada saat itu, aku datang ke sini lagi. Tapi aku benar-benar tidak punya harapan pada saat itu, karena tujuan baruku kembali memudar sekali lagi.”

Keinginannya untuk membalas dendam telah hilang, dan mimpinya telah mati. Setelah mendengarkan masa lalu Ibu, aku mengubah pikiran ku tentang ketidakmampuannya.

“Lalu, aku bertemu ayahmu di sini.”

“Ayah ….”

“Mm. Saat itu, ayahnya masih Perdana Menteri. Dia menemukan tempat ini juga, dan mulai datang secara teratur.”

Saya tiba-tiba berpikir, apakah keamanan menara ini benar-benar baik-baik saja? Yah, selama tidak ada yang tidak dikenal…. Kan?

“Saya menangis tepat di sampingnya, tetapi aah mu tidak memperhatikan ku, dia terus menatap pemandangan. Memalukan untuk memikirkannya sekarang, tetapi aku memakinya nya karena dia mengganggu satu-satunya tempat yang aku sukai.” Ibu mulai memerah, masih bingung dengan pertemuan pertamanya dengan ayahku.

“Tapi, ayamu mengajari ku.”

“Meng.. ajari?”

“Ya. ‘Jika kau akan menyerah sekarang, itu berarti impian mu hanya sebesar ini.’ “.

Melemparkan kata-kata kuat seperti batu ke wanita yang menangis terdengar seperti gaya ayah.

Dan bagi Ibu untuk berbicara tentang memori itu dengan riang, apakah dia hidup sesuai reputasinya.

“Dia bertanya kepada ku: ‘Mengapa, apakah kau melatih diri mu dalam seni bertarung? Untuk mendapatkan kehormatan di dalam tentara? Atau melindungi warga negara? Jika itu karena yang pertama, maka menangislah semaumu. Tetapi jika itu yang terakhir, apakah benar-benar ada alasan untuk menangis?’ Dia berkata kepada ku.”

“… ‘Jika itu yang terakhir, apakah ada alasan untuk menangis’?”

“Ya memang. Ayah mu mungkin bermaksud mengatakan, ‘Kau telah memperlakukan metode dan sasaran mu sebagai hal yang sama.'”

Jadi begitulah, saya mengerti sekarang.

“Ayah mu memberi tahu ku ini, ‘Jika melindungi adalah tujuan mu, maka kau hanya kehilangan satu metode, ada lebih banyak daripada yang dapat kau hitung yang dapat melindungi kehidupan rakyat. Aku sendiri tidak ingin mencapai itu melalui peperangan, tetapi politik…. Tetapi meskipun aku mengatakan itu, aku masih memiliki beberapa cara untuk mencapai tingkat ayah ku.’ Aku merasa sangat terkejut setelah mendengar kata-kata itu …. Dan aku merasa terlahir kembali. Setelah itu, aku mulai berkencan dengan ayahmu, dan mendapatkan rasa hormat yang besar untuknya. Aku jatuh ke sungai cinta bersama ayahmu, dan akhirnya menikah…. Kemudian, aku masuk ke medan perang lain.”

“Medan perang lain?”

“Ya memang. Sosialitas adalah arena yang benar-benar berbeda.” Saat dia berbicara, Ibu tersenyum ringan, dan tampak sangat bangga…. Sosoknya benar-benar menakjubkan. Kemudian, aku mulai tertawa.

Ini sebuah arena, memang.

“… Ibu, aku sangat berterima kasih kepada mu karena telah membawa ku ke sini hari ini. Bisakah aku…. tinggal di sini sebentar lagi?”

“Mm, tentu saja.”

ASPSD 88. Badai Pikiran-Pikiran
ASPSD 90. Keteguhan Hati

Author: RandomAlex

support us by reading this book only at translateindo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.