ASPSD 81. Keyakinan Sei 4

Featured Image

[ Iris]

“… Kau mengatakan itu, tapi seorang wanita yang meninggalkan perusahaan sekitar waktu yang sama dengan ku kembali bekerja. Bahkan, dia ada di sana!” Damme menunjuk seorang wanita yang berpakaian seperti pelayan di kasir, dan dia gemetar menanggapi.

Tepat ketika aku akan muncul dan menjawab Damme, janji ku dengan Ryle datang ke pikiran dan aku menahan diri.

Sei berjalan untuk melindungi gadis itu dari pandangan, dan kemudian dia berbicara, “… Dia sedang cuti hamil. Karena dia mengajukannya, saya disadarkan akan keadaan, dan memberinya izin jelas untuk kembali. Ini adalah hal yang sepenuhnya berbeda dari anda; jadi, kenapa anda menanyakan tentang dia?”

“… Yah, huh. Aku tidak tahu apakah itu untuk cuti hamil atau apa pun, tetapi ada banyak wanita di perusahaan ini yang hanya melayani untuk menyimpan barang-barang atau bekerja di bagian pendaftaran. Dan meskipun wanita itu bisa kembali, aku entah kenapa tidak bisa. Perusahaan ini jelas rentan terhadap favoritisme … atau apakah kau yakin bahwa itu tidak berdasar? Bagaimana dengan anda dan wanita di sana itu?” Damme berkata.

Aku terpaksa menekan dorongan untuk menanggapi klaim keterlaluannya dengan setiap serat keberadaan ku. Tubuhku gemetar karena marah ketika aku mencoba, sekali lagi, menahan doronganku untuk membalas. Dalam perut ku menyala dengan kesal, lapar untuk memperbaiki pernyataannya.

Ini merupakan penghinaan terhadap perusahaan; itu adalah penghinaan terhadap Sei; itu adalah penghinaan yang menghina semua wanita yang bekerja.

Ah, untuk alasan apa lelaki ini memprovokasi ku? Mungkin ini waktunya untuk melatih kekuatan dari seorang putri duke, mirip dengan waktu di Akademi.

Menahan lidahku … tidak mungkin. Namun, segera setelah aku membuka mulut untuk membiarkan perasaan ku meletus dari nya, sebuah suara kasar berbunyi di seluruh ruangan.

“… Jangan meremehkan kemampuan seorang wanita. Mendengarkan omong kosong yang tidak masuk akal mu memuakkan.” Dida dan Sei menatap tajam pada Damme. Dida memperkuat cengkeramannya pada Damme, yang wajahnya sekarang melekuk kesakitan.

“Membawa barang dagangan, akuntansi … Yah, mereka memang tampak seperti pekerjaan monoton. Tetapi karena pekerjaan yang sama itulah toko berfungsi dengan baik. Dari sudut pandang saya, pekerjaan yang anda lakukan dan kerjakan sama pentingnya. Hirarki pekerjaan bukanlah segalanya. Bagaimanapun, dia adalah anggota penting dari tenaga kerja kami, mampu melakukan pekerjaannya dengan efisiensi, kompetensi, dan kemahiran.” Sei menambahkan.

“Ow, ow, ow, ow! Itu menyakitkan !! “Damme lebih fokus pada rasa sakit daripada wawasan Sei.

“Ups, kesalahanku. Ketika pengutukan terhadap perempuan Damme mencapai telinga ku, aku masuk ke kondisi amarah yang tidak enak dilihat.” Permintaan maaf Dida tidak ditujukan ke Damme, melainkan, pada Sei karena menyela. Sei menerima permintaan maaf Dida dengan senyum pahit.

“Setelah pensiun, Anda menerima uang pensiun dan bonus; tetapi tinggalkan perusahaan untuk selamanya. Itu berbeda dengan cuti karena orang yang dituju pasti akan kembali setelah periode ketidakhadiran mereka berakhir.” Kemudian, Sei berpaling ke pelayan dan berkomentar: “Pertama-tama, dalam dokumen yang menerima tanda tangan ketika kami merekrut orang, jelas dinyatakan bahwa cuti dan pensiun berbeda. Kami juga menjelaskannya sebelumnya … Anda mendengar penjelasannya, lalu anda masih meninggalkan perusahaan, benar?”

“Ya, begitu. Ketika Tuan Sei bertanya mengapa saya ingin berhenti, dia menanyakan alasan saya. Saya mengatakan kepadanya tentang sebentar lagi akan melahirkan seorang anak, dan kebutuhan untuk merawat bayi yang baru lahir. Kemudian Tuan Sei bertanya kepada saya tentang apa yang akan saya lakukan setelah merawat bayi itu. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya akan mencari pekerjaan baru. Tepat setelah saya mengatakan itu, Tuan Sei mengusulkan agar saya mengambil cuti tanpa meninggalkan perusahaan untuk selamanya. Sejujurnya, ini sangat merepotkan untuk mencari pekerjaan baru, dan saya sangat berterima kasih kepada Tuan Sei karena menawarkan saya pilihan untuk kembali setelah pergi untuk waktu yang singkat. “Pelayan itu menjelaskan.

Penonton tersentak kaget dan terkejut.

Sistem cuti absen itu baru, yang dilaksanakan sepenuhnya oleh perusahaan kami. Reaksi dari penonton masuk akal; itu wajar saja. Butuh waktu cukup lama untuk diperkenalkan dan diimplementasikan.

“Benar-benar? Luar biasa!! Saya juga ingin bekerja di sini! Kami tidak bisa bertahan hanya dengan gaji suami kami, dan masalah anak itu sendiri sulit untuk dikatakan … ” Seseorang berkomentar.

“Pasti. Saya akan menaruhnya dalam istilah umum: pada dasarnya, saya harus berhenti dari pekerjaan saya setiap kali saya melahirkan seorang anak; Namun, di perusahaan ini, setelah melahirkan, saya dapat kembali dan bekerja dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Sungguh memalukan bahwa perusahaan ini adalah satu-satunya yang menggunakan sistem itu!” Hadirin lain menambahkan.

Para pelanggan wanita berpikiran sama, menyetujui dalam pikiran mereka. Tidak diragukan lagi, sulit bagi perempuan untuk bekerja di bawah kondisi yang keras seperti itu.

Meskipun perempuan yang bekerja di Jepang menghadapi masalah yang sama tentang kesetaraan gender, hal ini lebih parah di sini karena kurangnya hak-hak perempuan.

Akan lebih baik jika ada keluarga yang bisa di andalkan disini, tetapi sebagian besar rakyat kerajaan memiliki banyak anggota keluarga. Selain itu, tidak ada tempat yang dapat mengasuh anak-anak.

Dalam hal apapun, mungkin bagus untuk membuat fasilitas seperti kamar bayi bagi wanita yang bekerja.

Pelayan berkomentar, “Terima kasih. Dengan kata lain, apa yang Damme katakan adalah tuduhan dan fitnah terhadap perusahaan kita.”

Sei mengucapkan terima kasih kepada pelayan itu dan baru kemudian suasana dingin yang ia keluarkan akhirnya berakhir.

Namun; “Setelah keluar dari perusahaan, anda menjadi mandiri. Namun, saya tidak pernah bermaksud untuk membatasi kebebasan anda, bahkan jika anda bergabung dengan perusahaan yang terpisah. Artinya, sampai anda menyebabkan keributan di toko ini. Sekarang, anda adalah … ” Sei berbalik untuk menghadapi Damme lagi, tapi matanya cukup dingin hingga menusuk jantung. Damme gemetar dalam menghadapi tatapan Sei.

“Keadaan ini tidak akan pernah terjadi lagi. Kali ini, saya akan menghentikan penjaga dari membunuhmu. Tetapi jika insiden seperti ini terjadi lagi, saya akan menggunakan metode yang berbeda.” Sei berbisik ke Damme dengan suara yang menusuk tulang. Damme tahu bahwa jika insiden seperti ini terjadi lagi, dia akan segera mati.

Dia tersenyum saat Damme bergetar hebat di hadapannya. “Oh, penjaga lokal datang. Dida, serahkan dia pada mereka. “

“… Apakah itu benar-benar baik-baik saja?”

“Ya.” Sei mengangguk saat Dida menyerahkan Damme ke penjaga. Dia tidak melawan atau bahkan berjuang, malah menatap Sei dengan mata redup dan tak ada semangat.

ASPSD 80. Keyakinan Sei 3
ASPSD 82. Pelanggaran Sei

Author: RandomAlex

support us by reading this book only at translateindo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.