ASPSD 49. Perasaan yang rumit

Featured Image

[Iris]

“Aku minta maaf, sepertinya aku sudah terlalu mabuk.”

Tepat saat kupikir mengejutkan Kakek berada di sini pagi-pagi sekali, sepertinya dia membawa pulang Ryle dan Dida. Karena Kakek adalah peminum yang kuat, tidak bisa terbantu jika harus mengantarkan mereka kembali ke rumah.

“Tanya. Tolong pastikan keduanya minum banyak air.”

“Tentu.”

Setelah aku mengajukan permintaan ku ke Tanya, aku duduk di kursi depan Kakek.

“Kakek, biarpun itu kakek, tidak peduli berapa banyak minum mu, minum berlebihan tidak baik untuk tubuh. Lebih baik Kakek menahan diri dari terlalu banyak minum alkohol. “

“Ugh …”

Kakek mengalihkan tatapannya sambil tampak sedikit cemas. Dia adalah penggemar minuman keras.

“Jadi, berapa tepatnya kakek minum kemarin?”

“Aku sedang minum bersama orang-orang dari Pasukan Ksatria dan Militer. Nah … karena aku tidak bisa menahan kebahagiaanku karena minum, kami bertiga pergi untuk babak lain.”

“Apakah begitu…”

Jadi alasan sebenarnya adalah yang terakhir. Dari jalan kembali, ketika Kakek mengatakan kepada mereka berdua untuk ‘minum dan mengetahui batasmu’ dan membawa mereka keluar minum, tapi keduanya akan kembali pingsan setiap saat. Karena Kakek suka minum dengan mereka berdua, dia terus minum tanpa berpikir, atau begitulah aku di beritahu.

“…Permisi.”

“Oh, Tanya. Apakah ada masalah?”

“Ludius-sama telah tiba untuk menjemput Gazelle-sama.”

“…Apa katamu?”

Kakek tiba-tiba menjadi sangat kebingungan. Aku tertawa melihat kejadian yang tidak sering aku lihat.

“Tolong katakan padanya aku tidak ada di sini.”

“…Tentang itu…”

Sebelum Tanya bisa menyelesaikan apa yang ingin dia katakan, Ludius tiba-tiba tiba di belakangnya.

“Kakek, aku dengar semuanya. Fakta bahwa kakek minum banyak alkohol lagi.”

“Tidak, tentang itu …”

“Berapa kali aku memintamu untuk menahan diri? Lagi pula, kakek adalah tokoh terkenal di Kerajaan ini. Meskipun mungkin damai saat ini, tapi jika kakek tiba-tiba diserang saat sedang mabuk, itu akan menjadi tidak layak dipandang. Aku memohon padamu, tolong jangan minum terlalu banyak saat kakek di depan umum!”

Dengan argumen suara Ludius, rasanya tubuh Kakek semakin kecil dan kecil. Ludius adalah putra kakak laki-laki ibuku. Dengan kata lain, dia adalah sepupu ku dan pewaris rumah Marquis Anderson saat ini. Kebetulan, paman ku, Marquis Anderson saat ini, mengatakan bahwa dia tidak sekuat Kakek dan karenanya tidak berafiliasi dengan Pasukan Kesatria atau Militer.

Sedangkan untuk Ludius, dia juga tidak berafiliasi dengan satupun dan telah mempelajari berbagai hal untuk menjadi penerus yang tepat. Meski aku tidak tahu apa yang sedang dia pelajari. Walau begitu, seperti yang diharapkan dari cucu kakek. Gerakannya mirip dengan Ryle dan Dida dan dia terlihat atletis meski tubuhnya langsing.

“Sudah lama sekali, Ludy.”

“Sudah lama, Iris. Ah, aku minta maaf. Meski sudah lama sekali sejak kita saling bertemu, maaf sudah bertemu dengan cara ini. “

Karena dia dua tahun lebih tua dari ku, aku berada di akademi bersama dia hanya dalam waktu satu tahun. Meski begitu, karena kami berada di kelas yang berbeda, sulit untuk berhubungan dengannya. Dan sejak aku dikeluarkan dari akademi … tak usah dikatakan lagi.

“Tidak apa-apa dengan cara ini. Aku juga mengatakan kepada Kakek agar jangan terlalu banyak minum alkohol.”

“Aku melihat itu. Aku bersyukur Iris juga telah memperingatkan kakek. Meski kakek tidak mendengarkan kata-kataku, dia memang mendengarkan Iris.”

“Tidak ada hal seperti itu. Ah, apakah Ludy juga ingin minum teh?”

“Meskipun kau meluangkan waktu untuk mengundang ku, aku minta maaf untuk mengatakan bahwa aku telah membuat beberapa rencana. Nah, sekarang, kakek, ayo pulang.”

“Ugh …”

“Kakek, terima kasih banyak telah membawa pulang Ryle dan Dida. Saat Kakek pulang, ingatlah untuk mengistirahakan tubuh mu. “

“Ughhh … aku akan tetap di sini.”

Kakek menyatakan demikian saat aku bertanya-tanya mengapa dia mengerutkan alisnya.

“Apa maksud kakek!? Sekarang, ayo kita pulang.”

Ludius dengan tegas menembak harapannya. Seperti biasa, sangat menarik untuk melihat percakapan antara keduanya.

“Iris. Aku akan datang lagi, jadi mari kita bicara dengan santai kapan waktunya tiba.”

Setelah Ludius mengatakan itu, dia menarik kakek pergi. Aku bertanya-tanya, di mana dia menyembunyikan kekuatan sebesar itu di tubuh rampingnya?


Saat badai telah berlalu, ruangan itu kembali tenang sekali lagi.

“… Tanya. Bisakah aku minum secangkir lagi? “

“Tentu.”

Mari kita bersantai sejenak lagi … itulah yang kupikirkan saat, kali ini, Berne memasuki ruangan.

“Apakah bisa diterima jika aku menemanimu?”

“Tentu saja. Ayo, duduklah di sana.”

Sebelum aku menyelesaikan apa yang aku katakan, pelayan terbaik ku, Tanya, meletakkan cangkir teh; yang tidak aku ketahui dari mana asalnya, di depan Berne.

“Ini juga sudah lama sekali sejak aku berbicara dengan Berne seperti ini.”

Sejak pesta Hari Raya Kerajaan, aku tidak sering melihatnya. Sementara aku sibuk melakukan hal-hal yang telah aku jadwalkan untuk diri ku sendiri, Berne juga sibuk bekerja sama dengan Ayah.

“Ya, sepertinya begitu.”

Berne mengatakan dengan setuju dan minum teh herbal. Ekspresinya rileks saat dia meminum tehnya, rasanya sesuai dengan seleranya.

“Aku pikir kau akan kembali ke wilayah sebentar lagi.”

“Betul. Karena aku telah jauh dari wilayah untuk beberapa lama, sudah saatnya aku kembali. … Apa yang terjadi belakangan ini Berne?”

“… Aku telah menyertai ayah di sana-sini, dan aku telah belajar banyak darinya. Aku harus menebus waktu yang hilang saat aku terlalu santai.​​”

“Aku tidak berpikir kau sedang bermain-main atau apa, jadi tidakkah itu baik-baik saja? Ada banyak hal yang hanya bisa kau alami sebagai siswa.”

Itulah yang aku alami di kehidupan ku sebelumnya. Waktu yang aku habiskan di sekolah sangat berharga. Orang akan berpikir begitu, bahkan lebih lagi, saat mereka mulai bekerja. Orang-orang pada usia yang sama berkumpul bersama, belajar di tempat yang sama, membuat banyak teman dan berdebat satu sama lain. Meskipun orang mungkin mengalami masa-masa sulit, ini juga menjadi bagian dari saat-saat yang bersinar. Kaula muda, aku akhirnya mengerti arti sebenarnya dari kata ini hanya setelah aku lulus dari menjadi seorang siswa.

“… Meskipun begitu, aku telah mengambil waktu yang berharga itu dari mu.”

“…?”

Karena Berne mengatakannya dengan suara yang sangat lembut, aku tidak dapat mendengar kata-katanya. Karena wajahnya berubah sangat pucat, aku mengerti bahwa subjeknya adalah sesuatu yang tidak menyenangkan.

“…Kakak. Izinkan aku untuk mengambil momen ini untuk meminta maaf kepada mu. “

“Dan di sini aku berpikir apa yang akan kau katakan … Apa sebenarnya yang kau pintai maaf?”

Berbicara tentang permintaan maaf, bahkan jika aku tidak mendengar apa masalahnya, aku dapat menyimpulkan bahwa ini tentang pengusiran ku dari akademi.

“… Tentang itu, ini menyangkut pengusiran dari akademi.”

Meski aku sudah tahu jawabannya, aku masih ingin mendengar apa yang ingin dia pintai maaf.

“Jika menyangkut pengusiran ku dari akademi, tidak perlu meminta maaf. Itulah hasil ku bergerak setelah terbebani dengan emosi. Dengan kata lain, itu adalah kesalahan ku sendiri.”

“Jika aku tidak salah, kakak telah menyebutkan hal yang sama sebelumnya. Namun, aku tidak berpikir itu semua hanya untuk itu. Aku, diriku sendiri, juga, pada waktu itu, aku menyukainya … dan karena itu, aku bergerak berdasarkan perasaanku. Aku bergerak berdasarkan emosi ku, aku sama sekali tidak memikirkan konsekuensinya.”

“Dengan kata lain, sebagai seseorang yang ingin menjadi Perdana Menteri, kau ingin dengan tulus mengungkapkan tekad mu dengan meminta maaf kepada ku …”

Sungguh, aku merasa seperti aku mendengarnya berkata ‘Aku tidak akan terpengaruh oleh emosi ku lagi.’ Dia mungkin sampai pada keyakinan ini setelah menjalani pelatihan di bawah Ayah.

“Ada juga itu. Namun, itu bukan alasannya. “

“… apakah ada yang lain?”

“Aku sangat terpikat olehnya sehingga aku bergerak hanya berdasarkan perasaan itu dan oleh karena itu, aku buta terhadap kekurangan ku sendiri dan gagal memahami bahwa kakak juga terpengaruh oleh emosi. Kakak juga memiliki perasaannya sendiri, dan walaupun itu masalah, aku gagal memahami bahwa kakak telah disakitinya, karena itulah kakak melakukan apa yang kakak lakukan. Karena itulah, sebagai anggota keluarga, sangat penting bahwa aku mohon maaf kepada kakak.”

“…”

Setelah mendengarkan penjelasan Berne, aku kehilangan kata-kata. Meski aku merasa kesal karena dia menyadarinya baru sekarang, aku masih merasa sedikit bahagia.

Sejak ‘adegan akhir game’ itu, aku berhenti menganggap Berne sebagai anggota keluarga. Karena pada saat itu, dia sudah memilih putri Baron, Yuri.

‘Iris’ terdahulu mungkin akan merasa ” Tidak dapat terbantu jika dia ingin mengambil sisi dari orang yang dia sukai”. Sebaliknya, ketika aku menggantikan ‘iris’, kepalaku mendingin, dan Iris yang menjadi ‘diriku’ terus bertanya: “Mengapa, mengapa”, “Mengapa kau tidak mengerti?”, “Aku hanya menyukai orang itu. Bahkan Berne ingin meninggalkan ku!” Dan seterusnya. Karena itu adalah perasaan ku sendiri, aku lebih memahaminya daripada orang lain dan aku dapat bersimpati dengan kata-kata yang dengan putus asa menangis di hati ku.

Sejujurnya, ketika sampai di Dorsen atau Van, karena aku tidak memiliki hubungan dengan mereka, aku tidak peduli apakah mereka hadir atau tidak.

Namun, berbeda dengan Ed-sama dan Berne. Sebagai seseorang yang bertunangan dengan Ed-sama, keinginan untuk dicintai ada di sana. Dan Berne adalah anggota keluarga yang penting. Oleh karena itu, ketika kedua orang ini memilihnya dari pada diriku dan kenyataan bahwa mereka bisa menyingkirkanku dengan seketika membuatku kecewa. Selanjutnya, aku menderita penghinaan di tangan mereka.

Di depan kerumunan besar, mereka menahan ku dan mengutuk ku. Aku beruntung dan menemukan kembali kenangan akan kehidupan ku sebelumnya, namun, jika aku tidak mendapatkannya kembali pada waktu yang tepat, aku pasti akan mengalami kepanikan.

Pada saat itu juga, ‘Iris’ berjanji pada diri ku untuk tidak pernah jatuh cinta lagi. Selain itu, untuk tidak pernah benar-benar percaya dan mengandalkan orang lain. Karena bahkan keluarga pun bisa membuang anggotanya. Dengan alasan bahwa dia mengambil bagian dalam acara yang memaksa ku mengubah nilai-nilai ku, “Ya, itu benar,” dan karena itu aku tidak dapat memaafkannya.

Bagian keras dari ‘Iris’ berpikir ‘Apa yang kau katakan di saat telat begini,’ tapi bagian lain dari ‘diriku‘ ingin berdamai dengan adik laki-laki ku dan mereka saling menolak.

“… aku akan menerima permintaan maafmu. Namun, aku tidak bisa segera memaafkan mu.”

Gadis itu … Jika itu dia, anak perempuan Baron, Nona Yuri, aku ingin tahu apakah dia akan mengatakan bahwa dia akan memaafkannya? Semacam spekulasi tak berarti itu melayang di dalam kepalaku.

“Meski begitu, itu cukup untukku.”

Terlepas dari tanggapan ku, Berne merasa puas dengan hal itu dan menerimanya dengan senyuman.

ASPSD 48. Hasil Pertarungan
ASPSD 50. Peringatan Ayah

Author: RandomAlex

support us by reading this book only at translateindo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.