ASPSD 258. Medan Perang Lain

Featured Image

[Iris]

 Aku kembali bekerja keesokan harinya.

Tanya dan Merida mengatakan mereka mengkhawatirkan diriku dengan penuh air mata. Di sisi lain, orang-orang lain tidak mengetahui rinciannya; tetapi mereka sama-sama khawatir bahwa aku pingsan karena kerja keras ku. Dan para pejabat penuh dengan air mata bahagia saat aku kembali.

Aku masih merasa sedih dan tidak terlalu ingin, tapi setiap hari aku masih mengerjakan apa yang harus ku kerjakan. Luka hati tidak dapat disembuhkan, dan aku tidak bisa melupakan keberadaannya. Tidak peduli seberapa banyak aku terkubur dalam pekerjaan… tidak akan pernah bisa.

Kami menghabisakan waktu bersama di kediaman ini. Sementara masih terkubur dalam pekerjaan, ia masih berbicara tentang mimpi masa depannya.

Ketika kami menemukan ide baru, kami sama-sama senang.  Ketika aku mendapat hambatan, kami sama-sama mendiskusikan.

… Walau mengatakan dia hanyalah ‘kenangan masa lalu’, kediaman ini memiliki terlalu banyak kenangan dengannya.

Jadi, aku tidak memiliki pilihan lain. Dan, tu bukan sesuatu yang bisa ku lakukan, karena aku masih berpikir … aku mencintainya.

Berpikir tentang hal seperti itu di sudut kepalaku, aku menangani pekerjaan yang terakumulasi. Kemudian, hari-hari berlalu, dan berangsur-angsur mendapatkan kembali intuisi yang telah diolah sebelum kehancuran.


 

Hari negosiasi dengan Kerajaan Akasia, yang merupakan pekerjaan besar bagi ku, telah tiba. Tanya berdiri di belakangku dan Ibuku ada di sampingku. Keduanya terlihat sama seperti biasa, tetapi tampaknya dipersenjatai. Siap bergerak jika sesuatu terjadi.

Ryle dan Dida tidak ikut menjaga ku kali ini, dan tinggal di belakang; karena aku meminta mereka untuk ‘menjaga kediaman’.

Meskipun ini adalah negosiasi damai, tapi kami mempertimbangkan untuk membuat penjagaan secara rahasia di samping.

Pada saat aku memikirkan hal itu, Tanya mendatangi ku.

“… Nona, sudah tiba.”

Pada perkataan Tanya, aku merasa lebih segar.

“Selamat datang, Tuan Kadir.”

Aku menyapa pria yang datang sambil tersenyum. Kadir, yang mengenakan pakaian kerajaan Akasia, juga memiliki senyum lembut … Kupikir itu senyum yang terlalu santai, tapi Kadir akan berpikir sama.

“Aku ingin mengungkapkan kegembiraan yang tulus untuk melihatmu.”

Kadir meraih tangan ku dan mendaratkan bibirnya. Aku tersenyum lelah pada gerakannya.

“Senang bertemu dengan mu Tuan Kadir.”

Kadir juga tersenyum pahit pada kata-kataku … ini adalah bagian pertama dari pertempuran ini. Setelah ini, kau akan berpura-pura memberi ku sedikit kelowongan kan? Tampaknya, goyahnya pikiran ku tersampaikan.

Dia ingin menjaga cerita bahwa dia belum pernah ke sini sebagai Hafiz sebelumnya. Dengan pemikiran itu, dia menekankan bahwa ini pertama kalinya kita bertemu.

“Silahkan, Tuan Kadir. Duduk di sebelah sana.”

Aku mempersilahkan dia untuk duduk, dan duduk di depannya. Aku menatapnya. Menahan senyum tanpa takut. Wajahnya yang bersih; elegan dan penuh wibawa. Ini pertama kalinya aku merasakan kesan martabat seorang Raja.

” … Ini adalah wilayah yang bagus. Rakyat sejahtera, dan tidak ada ketidakstabilan politik.”

“Yah… Terimakasih.”

Ada perasaan marah di hati ku. Tentu saja, aku tidak akan menunjukkan hal itu. “Tapi sampai baru-baru ini, wilayah ini dilanda situasi yang mengerikan.”

Sementara membuatnya menjadi titik balik, ia berani untuk mengucapkan nada sedih. “Yah…”

Aku merasa matanya bersinar.

“Rakyat negara lain telah menyerang wilayah ku.”

“Itu… sayang sekali.”

“Ya, sangat di sayangkan. Aku tidak menyangka kita akan diserang oleh negara yang meminta pernikahan dari kita.”

Detik keheningan pun datang. Aku memikirkan dia akan membawa ini ke mana, dan sepertinya dia memikirkan bagaimana melanjutkan percakapan.

“Jika kau ingin mencari alasan, itu karena mantan Raja membuat perjanjian rahasia dengan negara Towair. Itu bukan tujuan ku.” Katanya.

Aku menghela nafas, dia memutuskan untuk mengakuinya saja.

“Bukankah itu tujuan mu? … apakah ada tujuan lain? Tapi, Kenyataan bahwa kerajaan Akasia menyerang wilayah ku tak dapat di sangkal. bagaimana kau akan bertanggung jawab atas negara mu?”

Dia tertawa … Dalam situasi di mana tanggung jawab ini sedang di tanyakan. Aku merinding sejenak.

“… Maaf. Alasannya adalah perasaan pribadi … Aku tidak ingin dibenci oleh mu. Apakah itu tujuan ku atau tidak, sebagai Raja, aku pertama-tama harus mengungkapkan pandangan ku. Saat itu mantan Raja dan beberapa orangnya sedang berada di luar kendali. Negara sebenarnya tidak ingin menyerang wilayah mu.”

“Yah… mengganti penulisnya bukan berarti mengganti artinya.”

“Ini, hal yang menyakitkan.” Tuan Kadir tersenyum pahit sambil berkata begitu. “Sepertinya aku sadar … Karena orang yang berharga bagiku diserang.”

“…Aku takut.”

“Ah… Apakah aku memiliki wajah yang menakutkan?” tanya Kadir.

“Tidak, tidak. Ini menakutkan karena tidak muncul ekspresi sama sekali. Kau tidak terbawa oleh emosi. Mereka yang memiliki perasaan seperti itu akan tenggelam dalam waktu singkat jika mereka kehilangan akal mereka.”

Aku tidak bereaksi terhadap kata-kata itu, tetapi itu menyentuh hati ku. Dan, ini suatu hal yang sulit untuk di lakukan.

“Sekarang, negaraku telah menyiapkan sumbangan yang tepat bagi mereka yang menderita kerusakan sebagai kompensasi atas keributan ini. Isinya semua ada dalam buku induk … yang harus kau lakukan hanyalah menandatanganinya.”

Pria tua yang berdiri di belakang kadir memberi ku semua dokumennya. Aku mengambilnya dan memeriksa isinya.

“… Ini tidak cukup.”

Membacanya dengan singkat, aku bergumam.

“…Ah?”

Kadir menajamkan matanya pada ku. Suasana seperti ini membuat ku lebih tegang dibandingkan dengan pertemuan-pertemuan manapun sebelumnya.

“Tuan Kadir … Sebenarnya, Jarral, pangeran pertama negaramu, mencari perlindungan di negara kami.”

Tekanan intimidasi darinya semakin meningkan dengan setiap kata yang keluar dari ku.

ASPSD 257. Senyum 2
ASPSD 259. Medan Perang Lain 2

Author: RandomAlex

support us by reading this book only at translateindo.com

One thought on “ASPSD 258. Medan Perang Lain”

Leave a Reply

Your email address will not be published.