ASPSD 151. Pesta Teh 2

Featured Image

[Iris]

“Hm? Apakah Tanya yang membuat ini? ”

“Aku tidak percaya kau bisa tahu hanya dari rasanya.”

Dia tersenyum malu.

“Saya tebak. Ngomong-ngomong, kenapa anda memanggil saya?”

“Aku punya laporan. Tidak benar-benar sebuah laporan, tetapi sesuatu yang harus aku katakan padamu.” Aku menghabiskan teh dan meletakkan cangkir ku. Ketika aku melihat kembali ke Dida, dia duduk di tepi tempat duduknya. “Kau tidak perlu begitu kaku.”

“Yah, andalah yang membuat ekspresi itu.”

“Ah ha…” Aku tertawa pada Dida yang menunjukkan kekuranganku. Menurut apa yang dia katakan, aku sepertinya telah mempererat ekspresiku karena kebiasaan.

“Maaf. Apa yang akan aku katakan kepada mu adalah bahwa Dorusen telah meninggalkan ordo ksatria.”

Dida sepertinya telah menemui Dorusen beberapa kali ketika dia bersama kakek ku. Selama acara Boltique, dia juga ditangkap di sampingnya.

“…Jadi begitu.” Dida bereaksi jauh lebih tenang daripada yang ku bayangkan.

Sepertinya tindakan Dorusen sudah jelas.

“Kau lebih tenang daripada yang ku kira. Apakah kau … sudah tahu?”

“Tidak, tidak tahu. Tapi saya tidak bisa tidak memiliki firasat tentang itu.”

“Mengapa?”

“Sebelum meninggalkan rumah, dia bertanya kepada saya: ‘Apa, sebenarnya, yang disebut ksatria?'”

“Dia, ksatria, bertanya padamu, yang bukan ksatria sama sekali?”

“Dia berkata, ‘Kau dan Ryle cocok dengan deskripsi mentalku tentang seorang ksatria lebih baik daripada diri ku’. Jadi saya tidak benar-benar mengerti apa yang dia katakan dan menjawab bahwa saya tidak tahu tentang hal semacam itu. ”

“Ah…”

“Dia mengatakan bahwa dengan berfokus pada reputasi dan kebanggaan, dia akhirnya lepas dari ketenangan yang harus dimiliki seorang ksatria.”

“Bagaimana kau menanggapi itu?”

“Apa yang dimaksud dengan ketenangan yang harus dimiliki seorang kesatria? Itu yang saya tanyakan. Karena tidak peduli seberapa keras anda bekerja, anda hanya bisa menjadi diri sendiri. Saya pikir pertanyaan yang lebih baik adalah ‘Untuk mencapai tujuan saya, apa yang harus saya lakukan, apa yang harus saya kerjakan dengan keras?’ Dari dia, saya tidak dapat merasakan bahwa dia mencoba melakukan apa pun untuk dirinya sendiri, atau bahwa dia mencoba untuk menjadi versi dirinya yang kuat. Sebenarnya, perasaan yang saya dapatkan darinya adalah bahwa dia mengejar idealisme tanpa memahami posisinya sendiri. Itu sebabnya dia begitu terobsesi dengan gelar kesatria, dan bangga dengan kelasnya sendiri. Tetapi itu memang sudah merupakan apa yang kebanyakan anak bangsawan lakukan.”

“Sungguh keras. Apakah kau memberitahunya semua itu?”

“Pada dasarnya. Setelah itu, dia berkata, ‘Setelah datang ke sini, aku sudah memikirkan segala macam hal. Aku telah melakukan dosa besar. Karena aku tidak bisa membalik masa lalu, maka dosa ku akan meluas ke masa depan tanpa batas. Jika itu hanya diri ku sendiri maka aku tidak akan terlalu peduli, tetapi aku bahkan mencemarkan gagasan tentang kesatria itu sendiri. Itu sebabnya aku harus menebusnya. Ketika aku akhirnya selesai melakukan itu, aku akan mengingat harapan ku sendiri, jenis ketenangan yang aku harapkan, dan berangkat untuk menemukannya lagi.’ ”

“Oh … ya, kedengarannya bagus.”

“Nona, anda cukup tenang menghadapi semua ini. Saya pikir baginya, itu adalah keputusan besar.”

“Itu karena aku tidak terlalu peduli tentang itu.” Kataku.

“Sungguh dingin.”

“Itulah yang ku pikirkan tentang diri ku juga. Tetapi itulah satu-satunya cara bagiku untuk mengekspresikannya. Mendengar bahwa dia mengungkapkan cita-citanya … jadi apa? Selama dia tidak melakukan apa pun terhadap ku atau wilayah ini, aku tidak peduli apa yang dia lakukan. Karena, untuk mengatakan yang sebenarnya, aku berpikir bahwa segala sesuatu di masa lalu tidak menjadi masalah lagi.”

“Jadi anda memaafkannya?”

“… Aku tidak bisa berpura-pura bahwa semua itu tidak terjadi. Aku telah berubah karena semua itu juga, baik dalam arti positif maupun negatif. Tapi itu juga di masa lalu. Daripada membiarkan diriku dibatasi oleh itu, aku memiliki hal-hal yang lebih penting untuk dilakukan.”

Di setiap hari yang sibuk, semua itu tampak seperti masa lalu yang sangat jauh. Seperti terjadi pada orang lain.

Dibandingkan merasa dibatasi oleh sesuatu seperti itu, sesuatu yang jauh lebih penting menungguku di masa depan.

… Tapi seluruh kejadian itu masih meninggalkan bekas yang dalam di hatiku.

Meskipun aku sudah sembuh, masih ada luka, semacam trauma psikologis.

 

 

ASPSD 150. Pesta Teh
ASPSD. 152 Pesta Teh 3

Author: RandomAlex

support us by reading this book only at translateindo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.