ASPSD 113. Meyakinkan

Featured Image

[Seorang Pejabat]

Gereja baru itu benar-benar bangunan yang khusyuk. Seakan mencoba memamerkan kekuatan wilayah, dihiasi dengan dekorasi mewah, atau penjelasan itu sedikit memaksa? Memikirkan pikiran-pikiran yang mencela diri sendiri ini, aku tersenyum pada diri ku sendiri.

Ini adalah kunjungan pertamaku ke tempat ini. Alasan ku tidak pernah berkunjung sebelumnya adalah alasan mengapa membangun gedung ini. Untuk memprotes aktivitas Wakil Tuan Wilayah terhadap gereja, aku telah meninggalkan pekerjaan ku dan menjadi pertapa di rumah – dengan semua rekan ku yang lain.

Jika aku menempatkan mood ku pada saat itu ke dalam kata-kata, mungkin akan disebut ‘amarah’. Iris meninggalkan gereja. Ini menunjukkan kepada kita cara yang benar untuk melanjutkan … Aku percaya bahwa keadilan ada di pihak ku. Itu sebabnya aku bertindak.

Meskipun aku tahu bahwa sebuah gereja baru telah dibangun, aku memandang ini sebagai cara Iris untuk menutupi kesalahannya dan menolak untuk mengunjungi gereja.

… Bahkan setelah dinyatakan bahwa dia tidak bersalah.

Tidak, tepatnya karena itu dinyatakan. Itu menyebabkan rasa penyangkalan yang lebih dalam– “Kita sudah sampai sejauh ini!”

Pada saat itu, aku meninggalkannya dalam peran sebagai Wakil Tuan. Memang benar. Meskipun aku tidak berada di pihak orang-orang dari gereja yang menjadi korbannya secara langsung, aku berdiri di sisi yang menolaknya.

Tidak … itu karena meskipun aku berdiri di sampingnya, aku masih meninggalkannya sehingga tindakanku bahkan lebih keji. Itulah yang aku pikir, paling tidak – ketika semuanya menjadi kacau, jika aku benar-benar mengutuknya, aku seharusnya tidak bersembunyi di rumah ku, tetapi menasihatinya secara langsung …

Meskipun mungkin akan menarik kemarahan dari pemimpin pengganti, aku seharusnya menggunakan kata-kata ku untuk berbicara menentangnya, daripada meninggalkan semuanya di awal karena aku merasa bahwa kata-kata ku tidak dapat mengungkapkan apa yang harus aku katakan …

Tetapi dengan bagaimana semuanya berubah, semua sudah terlambat.

Itu sebabnya aku mempertahankan sikap ku. Tak lama lagi aku harus mengundurkan diri dari posisi ku. Bahkan jika aku tidak melakukannya, aku akan dipecat …

Saat itulah undangan tiba, dari Wakil Tuan Wilayah yang sama … Iris Lana Armelia. Itu bukan undangan, tapi panggilan kelompok; begitu aku melihatnya, aku tersenyum pahit.

Ini mungkin terkait dengan apakah aku akan tinggal atau pergi. Meskipun tidak terbilang jelas, itu cukup mudah ditebak. Satu-satunya pertanyaan yang masih tersisa adalah: mengapa dia menempatkan tempat pertemuan di gereja?

Sudah waktunya untuk mengemukakan semuanya.

Iya. Aku memompa diri dengan keberanian yang cukup, untuk datang ke sini hari ini.

Melihat sekeliling, aku melihat bahwa gereja perlahan dipenuhi dengan orang-orang yang telah meninggalkan posisi mereka seperti ku.

Aku tahu beberapa dari mereka. Tetapi karena suasana yang berat, tidak ada dari kami yang berencana untuk saling mengobrol, membuat suasana semakin hancur.

“Terima kasih telah datang hari ini.” Seakan membelah suasana ini, dia … Iris, muncul. Dengan senyum hangat di wajahnya, dia melihat sekeliling. “Meskipun beberapa belum tiba, waktunya telah tiba. Ijinkan aku memulai.” Suaranya bergema di seluruh gereja, terngiang di benakku.

“Semua orang di sini meninggalkan pekerjaan mereka sebagai pejabat ketika aku diancam dengan pengusiran. Hari ini, meskipun aku datang ke sini untuk berkomunikasi dengan kalian semua … apakah ada di antara kalian yang ingin mengatakan sesuatu kepada ku?”

Tidak ada yang mengatakan apa pun. Meski begitu, aku bertanya-tanya apakah aku harus berbicara, mengumumkan bahwa aku berhenti. Tapi nada suaranya yang berat membuatku diam.

“Lalu izinkan aku bertanya pada semua orang. Apa itu pejabat?” Ekspresinya tidak berubah. Masih tersenyum. Tapi entah bagaimana, ini memberi tekanan lebih besar pada semua orang.

“Kau, di sana.” Mungkin merasa sedikit tidak sabaran terhadap kami semua yang tetap diam, dia mulai memanggil orang-orang.

“Iya. Pejabat penting sebagai tangan dan kaki untuk penguasa suatu wilayah, dalam membantu mereka menangani masalah.”

Orang yang menjawab memiliki senyum di wajahnya yang sepertinya berkata, ‘Aku sudah menunggu begitu lama’ dan memberi jawaban contoh teladan.

“Begitukah … lalu, bagaimana denganmu?” Dia menunjuk seseorang yang mengerutkan dahi karena jawaban itu.

Orang yang menunjuk mulai bergidik. “Saya … saya juga berpikir begitu.”

“Jika itu yang terjadi, maka dalam kerusuhan ini, tidak ada dari kalian yang menjadi pejabat lagi.” Sama seperti wanita bangsawan lainnya, dia menutup mulutnya dengan kipasnya dan mulai terkekeh

“Karena, bukankah itu yang kau lakukan? Kau mengkhianati ku, yang menjadi otak, menjadi pikiran. Mengabaikan pekerjaan mu sebagai pejabat. Jika mendengarkan perintah otak adalah pekerjaan mu, maka aku tidak membutuhkan anggota badan yang tidak taat. Bukankah itu benar?”

Warna terkuras dari kedua wajah mereka

“Kalau begitu izinkan aku menanyakan pertanyaan yang berbeda. Mengapa dalam kerusuhan ini, kalian meninggalkan pekerjaan kalian dan tinggal di rumah dalam protes? Kau di sana, bisakah kau menjawab ku?”

Akhirnya dia menunjuk ku. Aku tidak bisa berpaling … meskipun aku tahu itu, aku tidak bisa menahan diri untuk menghindari tatapannya karena tekanan yang diberikan kehadirannya.

“… Permintaan maaf atas pelanggaran apa pun yang mungkin saya sebabkan, tapi bolehkah saya bertanya satu pertanyaan pada anda? Apa itu pemimpin wilayah?” tepat ketika aku telah mengumpulkan semangat ku dan ingin menjawab, aku berencana untuk menjawab dengan cara yang tidak akan membuatnya marah, tetapi aku akhirnya berbicara dengan nada tuduhan. Bahkan aku terkejut melihat betapa kurang ajarnya itu.

“Aku tidak suka ketika orang menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.”

“Tapi untuk jawaban saya, tanggapan anda penting.” Mungkin itu adalah ide yang terlalu kuat, tertanam terlalu dalam di pikiran ku untuk ditarik kembali.

Tidak ada hubungannya dengan kebanggaan atau hal lain. Seperti yang dia katakan, ketika aku meninggalkan pekerjaan ku sebagai pejabat, kami sudah kehilangan itu. Yang bisa kita lakukan adalah bertindak seperti ini dalam upaya untuk menyabotase diri.

“Tugas seorang pemimpin adalah untuk tetap bangga, melindungi warga, baik dan berbelaskasihan, mendorong wilayah untuk menjadi kaya dan subur untuk pertumbuhan, menjamin kualitas hidup tertentu untuk rakyat mereka, mempunyai rasa tempat bernaung di wilayah mereka, memimpin tetapi juga dituntun… inilah yang aku pikir seharusnya tugas seorang pemimpin.”

“Persis. Tepat karena itulah yang membuat seorang pemimpin menjadi pemimpin, saya meninggalkan pekerjaan saya.”

“Itu bukan penjelasan yang sangat bagus.” Seakan sangat tidak puas, dia mengerutkan kening.

“Permisi. Saya juga … Saya juga berpikir bahwa seorang pemimpin harus memimpin dan melindungi rakyat. Itulah mengapa saya meninggalkan pekerjaan saya karena kerusuhan ini. Gereja adalah dukungan untuk batin kita, dan seseorang yang dituduh oleh gereja tidak dapat memimpin orang-orang. Memimpin reformasi dan itu baik-baik saja. Tetapi seluruh peristiwa itu sudah cukup untuk membuat orang bertanya dan meragukan kepemimpinan … dengan kata lain, reformasi anda. Jadi, saya mengundurkan diri ke rumah saya untuk memprotes tindakan anda.”

“Sulit dipercaya, bahwa kau masih bisa mengatakan hal seperti itu. Bukankah kau orang yang yang cakap?” Kata-katanya memicu nyala di hati ku. Sebelum aku bisa terus berdebat, dia terus berbicara.

“Apakah kau berani mengatakan bahwa tidak ada apapun di dalam hatimu yang hanya membenci diperintah oleh seorang gadis kecil seolah dia tahu segalanya yang harus diketahui?” Tapi apa yang dia katakan selanjutnya mendinginkan nyala api di hatiku.

Jauh di lubuk hatiku, di mana bahkan aku tidak memperhatikan… tidak, di tempat yang pada awalnya aku tidak ingin perhatikan … telah dia bongkar.

Itu benar. Aku tidak dapat menyangkal apa yang dikatakannya.

Aku selalu menentangnya dari mengambil posisi sebagai Wakil Tuan Wilayah. Kenapa dia yang keluarga kerajaan perhatikan, namun tidak hukum? Dan bagaimana dia masih menjadi pemimpin setelah itu? Aku pikir ini pasti menjadi keinginan pemimpin kami, untuk memberinya posisi dekoratif.

Dia mulai terus ikut campur dalam politik teritorial. Meskipun pada awalnya aku sangat tidak senang dengan ini, wilayah kami menjadi lebih berkembang setelah itu. Ketika aku mengetahui bahwa dia telah dipuji oleh Ratu, aku menahan ketidakpuasan ku.

Ketidakpuasan ini muncul kembali di tengah-tengah kerusuhan, dan aku bergabung dengan yang lain yang keras kepala tinggal di rumah.

Tapi…

“Saya tidak dapat menyangkal bahwa saya telah memiliki pemikiran itu sebelumnya. Tapi apa yang saya katakan benar-benar benar, tanpa pretensi penipuan.”

“Begitukah … lalu, apa itu pejabat untukmu?”

“Anggota tubuh pemimpin dalam melindungi orang-orang dan memperkaya pengembangan wilayah.”

Hu ~ dia menghembuskan nafas. Aku merasakan bahwa sebagai tanggapan atas reaksinya, bahu ku mulai bergidik. Aku melihat ekspresinya dengan gemetar.

Wajah tanpa emosi, tanpa ekspresi. Tetapi pada saat berikutnya, dia mengungkapkan senyum yang paling mempesona dari seluruh pertemuan ini.

Senyumnya yang sebenarnya sudah cukup indah untuk menginspirasi perasaan yang mendalam. Tapi pada saat itu, bukannya cantik, aku merasa bahwa senyumnya besar, luar biasa, lebih besar dari kehidupan … Aku tidak bisa tidak mulai sedikit gemetar.

“Jadi begitu. Jadi begitu. Maka kau seharusnya tidak memiliki alasan untuk terlihat seperti itu, seolah-olah kau akan dijatuhi hukuman mati.” Hanya setelah dia menunjukkan itu, baru aku menyadari itu adalah ekspresiku.

“Para pejabat adalah anggota badan. Jika mereka mengkhianati ku, sang kepala, mereka tidak akan diampuni. Tetapi tidak merefleksikan dan merasakan penyesalan atas orang-orang adalah dosa yang bahkan lebih besar dari itu. Dalam hal ini, kau harus merasa bangga karena memprotes ku. Tidak perlu merasa malu. Tetapi lebih baik mengatakan bahwa dengan tetap tidak aktif sekarang, menyebabkan lingkup politik dan ekonomi wilayah jatuh dalam kekacauan, kau tidak melindungi orang-orang sebagaimana seharusnya. Jika kau adalah pejabat yang ada demi rakyat, itu, jika ada, adalah dosa mu.”

“Tapi … saya … anda tidak salah, dan saya …”

“Dengan semua yang terjadi, tolong jangan menyimpan emosi yang tidak berguna seperti penyesalan karena telah menuduh ku. Jika kau masih bergantung pada perasaan seperti itu setelah sekian lama, kau benar-benar menyebabkan lebih banyak masalah bagi ku. Karena sejak awal, aku tidak pernah memandangmu sebagai rekan.”

“Lalu kita ini apa?” Kata-katanya mengejutkan.

“Aku tidak mencari kesetiaan dari mu. Yang aku inginkan adalah buah dari pekerjaan mu.” Dia mengatakan ini seolah-olah bernyanyi.

“Jika kau percaya kau hidup untuk rakyat, maka bekerjalah untuk mereka. Bukan untuk ku, tetapi untuk mereka. Posisi mu saat ini bukan hanya yang dilindungi; tapi yang berdiri di sisi melindungi rakyat. Berbanggalah dengan itu.” Kata-katanya menjadi semakin kuat.

Seolah-olah mereka melompat ke arahku.

Hatiku membengkak, panas mendidih. Api telah menyala, yang benar-benar berbeda dari yang sebelumnya.

Tidak, aku bisa melihat itu di belakangnya juga.

Aneh sekali. Seorang wanita langsing seperti dirinya, begitu rapuh sehingga tampaknya embusan angin akan menjatuhkannya — di mana dia menyembunyikan semua energi itu? Aku tidak bisa tidak mencoba memecahkan misterinya.

“Aku tidak menginginkan kesetiaan mu. Jadi aku tidak akan terus menyelidiki insiden ini. Kembalilah dan mulai bekerja.”

“Apakah anda mengatakan bahwa anda telah memaafkan kami?” Seorang pria lain menanyakan ini dengan sangat sopan. Itu adalah pertanyaan tanpa arti – aku tidak bisa tidak meragukan diri ku sendiri karena memiliki pikiran itu.

“Memaafkan atau tidak … aku tidak menuntut kesetiaan kalian, jadi itu pertanyaan yang tidak berarti. Mereka yang bertindak karena marah terhadap ku, atau hanya mengikuti arus tindakan orang lain … tidak peduli apa pun yang kalian pikirkan, tidak penting. Selama kalian tidak mengkhianati wilayah, mengkhianati rakyat; itu saja yang aku tanyakan. Sekarang, kalian semua berdiri di sini, aku berasumsi adalah yang pertama … jadi, aku mengundang kalian kembali. Jika tidak…”

“Jika tidak…” Mendengar itu, dia tertawa.

Aku ingin tahu, tetapi pada saat yang sama aku benar-benar tidak ingin.

“Tidak perlu kau ketahui. Atau, apakah kau ingin mengalaminya sendiri?” Semua orang di sana segera mulai menggelengkan kepala mereka.

“Apakah begitu? Itu bagus. Lalu, kembalilah bekerja. Waktu kita terbatas.”

 

ASPSD 112. Sesuatu yang Tidak Tergoyahkan
ASPSD 114. Persiapan

Author: RandomAlex

support us by reading this book only at translateindo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.