ASPSD 107. Kekhawatiran Tanya

Featured Image

[Tanya]

“Fiuh …” Menyisir rambut yang aku biarkan lepas, aku menghela nafas.

Waktu sudah hampir pada saat halaman kalender akan dibalik, menandakan akhir dari hari. Setelah aku selesai mempersiapkan semua hal-hal kecil yang perlu dilakukan sebelum tidur, aku juga akan pergi tidur.

Meskipun banyak orang bertanya, “Apakah anda benar-benar tidur?” Dengan cara setengah bercanda, aku juga manusia. Tentu saja, tidur itu perlu. Ditambah, ini sepertinya pertanyaan yang lebih cocok untuk Tuan Sebastian daripada aku. Dia tampak seolah tidak akan pernah lelah, selalu dengan ekspresi lembut di wajahnya. Betapa mengagumkan.

Aku harus memperlakukannya sebagai panutan ku, dan terus meningkatkan diri ku untuk mencapai tujuan itu.

Saat aku memikirkan satu demi satu, aku tiba-tiba mengambil pita di atas meja. Yang satu set dengan Merida, Nona, dan Rehme.

… Kapan itu? Aku ingat itu kembali ketika aku masih berlatih sebagai gadis pelayan.

Ketika ayah nona mengundang seorang teman pedagang, dan nona ditanya apakah ada yang dia inginkan, dia memilih pita rambut ini.

“Itu saja? Bagaimana dengan batu permata ini? ” Melihat Nona memilih pita di antara koleksi barang-barang mewah dan mahal, ayahnya terlihat agak ragu … ibunya juga mencoba meyakinkannya untuk memilih sesuatu yang lain.

“Ya, ini sudah cukup. Boleh saya minta empat lembar?”

Dan kemudian, Nona membawa pita itu kepada kami bertiga.

“Semua orang sama.” Mengatakan ini, dia tersenyum.

Meskipun itu adalah barang berharga mahal bagi kami … tetapi untuk nona, yang merupakan putri dari keluarga duke, seharusnya itu adalah sesuatu yang murah.

Tapi baginya, mereka adalah harta.

“Jika kalian tidak menyukainya, aku minta maaf. Tapi aku berpikir bahwa akan sangat bagus jika kita bisa mendapatkan semuanya dalam satu set. Jika kalian bersedia mengambilnya, aku akan sangat senang.”

Aku merasa bahwa hari itu, aku sangat bahagia. Senang bahwa aku dibawa ke tempat itu, pada hari itu, oleh Nona. Jika tidak, aku mungkin akan mati di suatu tempat.

Aku tidak ingat kapan aku mulai tinggal di sana. Tapi aku mungkin ditinggalkan oleh orang tua ku.

Yang aku ingat adalah bahwa aku ada di sana, sendirian — di permukiman kumuh ibu kota. Muda dan tidak mengerti apa-apa, aku kelaparan setiap hari dan secara bertahap mulai memburuk. Setiap hari, aku duduk di gang, dan menatap langit.

Terkadang, aku melihat anak-anak bergandengan tangan dengan orang tua mereka. Aku tidak tahu mengapa, tetapi itu membuat ku menangis. Jadi ini adalah takdirku, mati sendiri … ya, tak lama, bahkan aku kehilangan keinginan untuk hidup. Bahkan, aku ingin menghilang secepat mungkin.

Dan kemudian suatu hari, dua pria yang aku tidak tahu mulai berbicara kepada ku. Apa yang mereka katakan tidak jelas. Aku tidak ingat lagi. Tetapi senyuman kotor mereka membuat ku mengerti secara insting bahwa mereka bukan orang baik.

Meskipun aku sudah putus asa untuk bertahan hidup, tubuh ku masih bereaksi terhadap bahaya dari naluri. Aku ingin melarikan diri, jadi aku mulai berlari.

Berlari, berlari … tetapi seorang anak tanpa stamina tidak bisa berharap untuk lari dari orang-orang ini. Aku akan ditangkap.

Nona-lah yang berdiri waktu itu dan menyelamatkanku.

Aku telah berlari dengan seluruh kekuatan ku. Untungnya bagi ku, rute yang aku tempuh mengarah ke jalan utama – aku berlari di depan keretanya.

“Apakah kau terluka?”

Pertama kali saya melihatnya, saya ingat berpikir – mengapa dunia tempat ku dan dia berada sangat berbeda? Aku menggelengkan kepala.

“Itu bagus … hei, kau punya tempat tujuan?” Menanggapi pertanyaan itu, aku menggelengkan kepala lagi.

“Begitukah … kalau begitu, apakah kau ingin ikut dengan kami?”

Setelah itu, meskipun pelayannya mencoba untuk menghentikannya, dia masih membawa ku bersama … dan jadi aku diselamatkan.

“Aku terus merasa bahwa dia sedang dikejar oleh seseorang. Aku akan memberi tahu ayah ku tentang orang-orang yang mengejarnya.”

Kemudian aku menemukan bahwa orang-orang itu keluar untuk menangkap anak-anak yatim piatu dan menjualnya di pasar dengan harga murah.

Karena mereka melihat ku dijemput oleh Nona dan pelayannya, mereka memutuskan untuk menyerah mengejar ku. Dan kemudian, menurut saran dan laporan para pelayan, mereka semua ditangkap.

“Mulai hari ini dan seterusnya, mari kita tinggal di sini bersama. Nama mu?”

“… Saya tidak tahu.”

“Apakah begitu. Lalu, bagaimana dengan Tanya? Itu nama yang muncul di dongeng, nama Putri yang cerdas.” Mengambil tangan ku di bawah sinar matahari, itulah yang dia katakan dengan senyum di wajahnya.

Tangan hangat itu mengingatkan ku pada keluarga yang aku lihat di gang … air mata mengalir di wajah ku.

“A-apa kau tidak suka? Bagaimana dengan nama lain …” Melihat aku bereaksi seperti itu, Nona duduk dengan tergesa-gesa, terlihat prihatin. Itu pemandangan yang sangat lucu, tetapi air mataku masih menolak untuk berhenti.

Aku telah diselamatkan – dengan dua cara berbeda.

Aku baru saja diselamatkan dari situasi berbahaya; Nona baru ku telah memberi ku tujuan untuk bertahan hidup, aku yang sudah menyerah untuk bertahan hidup.

Jadi aku tidak ingin dia terganggu atau sakit. Aku ingin melindunginya dari semua masalah dan rasa sakit sebisaku.

Sejak dia tiba di ibu kota, dia belum benar-benar tersenyum sekalipun. Tidak peduli kapan, dia selalu terlihat lelah di wajahnya. Tentu saja, kami datang ke ibukota awalnya untuk menenangkan kerusuhan, tetapi itu bukan hanya itu. Karena ada begitu banyak hal yang harus diselesaikan, negosiasi harus dilakukan, wajar untuk tegang setiap saat.

Meskipun itu wajar … tetapi bahkan di waktu yang seharusnya hanya miliknya sendiri, ekspresi Nona selalu suram.

“Nona, apakah ada yang salah?”

Ketika kami menghantarkan Dean dan saudara perempuannya, Dean menanyakan pertanyaan ini kepadanya. Bahkan seorang pria yang hanya muncul sesekali dalam hidupnya telah memperhatikannya. Tentu saja, aku dan semua orang yang melayaninya di kediaman duke juga menyadari hal itu.

Tetapi bahkan setelah menyadarinya, tidak ada yang bisa kami lakukan. Benar-benar membuat frustrasi. Ini karena kami bahkan tidak tahu apa alasan kemuraman itu. Tapi, meskipun itu hanya sedikit … Aku merasa bahwa apa yang merusak hati Nona, mungkin adalah tempat ini.

Baginya, ini adalah tempat di mana hal buruk itu terjadi. Kali ini, sesuatu juga terjadi yang menyiksanya di dalam … tak terhindarkan bahwa dia akan membenci tempat ini.

Meski begitu, pada dasarnya … aku tidak tahu mengapa, tetapi di tempat ini, dia tidak tampak seperti dirinya sendiri. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi dia sepertinya menyamar sebagai penjahat.

Sebagai putri keluarga duke, tidak semua tindakannya bersinar terang seperti ketika dia lebih muda.

Dia dewasa … itu tidak terhindarkan.

Bahkan sebagai pelayan, aku merasakannya. Tinggal di masyarakat kelas atas, di mana semuanya adalah perangkap dan rencana licik, dia tidak bisa tetap seperti dulu lagi. Jika dia melakukannya, orang-orang bejat yang ingin mengambil keuntungan darinya hanya akan berkumpul dan mengerumuni dia.

Mempertahankan ketenangannya, menekan emosinya untuk membuat keputusan sulit adalah hal yang perlu dilakukan untuk menjadi seorang tuan.

Tetapi aku tidak tahu mengapa, di ibu kota, sisi itu tampak lebih menonjol. Senyumnya yang cerah hilang, digantikan oleh senyum dingin yang menyembunyikan emosi aslinya. Sepertinya dia mencoba untuk memainkan penjahat dalam setiap gerakannya. Mungkin dia menyadari itu juga, di alam bawah sadarnya sendiri.

Aku merindukan hari ketika dia bisa kembali ke wilayah itu, tetapi masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan … sepertinya begitu.

Ingin kembali sesegera mungkin, urgensi kerinduan itu — mungkin Nona, yang berdoa untuk hari itu datang juga, lelah oleh segalanya, semuanya.

Yang bisa aku lakukan adalah juga berdoa untuk hari ketika kami kembali ke wilayah kami.

 

ASPSD 106. Negosiasi 3
ASPSD 108. Pertemuan Rahasia di Malam Hari

Author: RandomAlex

support us by reading this book only at translateindo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.