AMASP 59. Jadi, Dia Harus Sangat Sangat Waspada dan Berhati-hati. (1)

Featured Image

Ye Zhen menderita, tapi dia bahkan tidak bisa mengeluhkannya. Hanya dengan berdiri menguping disini, dia terlibat masalah orang lain.

Dengan lengan Lu Beichuan di sekeliling pinggangnya, sekujur tubuh Ye Zhen kaku. Seperti boneka, dia membiarkan dirinya dibawa ke kamar Lu Beichuan.

Dia baru keluar dari kamar mandi, jadi rambutnya belum kering, dan ada panas yang tersisa di tubuhnya. Kulit yang tak tertutup piyamanya memerah karena mandi air panas. Lu Beichuan membawakan pengering rambut dan menawarkannya padanya. Ye Zhen tidak langsung menerimanya.

“Hmm? Apakah kau ingin aku mengeringkan rambutmu?” Lu Beichuan tersenyum secara misterius.

Dia pasti bercanda, kan?

Ye Zhen segera mengambil pengering rambut darinya. Duduk di depan meja rias, dia memiringkan kepalanya untuk mengeringkan rambut.

Lu Beichuan menatapnya sebentar. Segera, dia pergi ke kamar mandi.

Suara air mengalir berasal dari kamar mandi. Ye Zhen melirik pintu kamar mandi yang tertutup. Pikirannya berputar.

Segalanya terlihat sangat masuk akal. Namun, ketika dia memikirkannya dengan cermat. Bukankah segalanya terlalu kebetulan?

Kamar Lu Beichuan bukan di lantai dua, tapi dia kebetulan muncul di lorong ketika dirinya menguping percakapan Ye Qing dan Lin Zhan. Terlihat kebetulan, dia memakai piyama yang bergaya sama dengan Ye Qing, itu benar bahwa di bawah cahaya redup, sulit untuk membedakannya dan Ye Qing.

Tapi, ketika ada terlalu banyak kebetulan pada saat bersamaan, maka itu mungkin bukan kebetulan.

Disamping itu, dia masih belum mengetahui ada apa dengan Lu Beichuan. Bagaimana bisa dia begitu linglung mengikutinya ke kamar? Jika dia menetap lebih lama lagi, dia akan berakhir di ranjang bersamanya.

Sekarang ini, Lu Beichuan sedang mandi. Itu akan jadi kesempatan bagus untuknya pergi.

Berpikir tentang ini, Ye Zhen meletakkan pengering rambut, tapi dia tidak mematikannya. Dia tidak mau memperingatkan Lu Beichuan bahsa dia meninggalkan ruangan, jadi dia dengan hening berjinjit ke arah pintu. Ketika dia melewati kamar mandi, dia melihat sosok tinggi Lu Beichuan di pintu kaca buram kamar mandi. Dia jelas berada di dalam kamar mandi, tapi Ye Zhen merasa seakan dia menatap lurus ke arahnya.

Memikirkan semua yang terjadi setelah dia dibawa kesini dari bandara, itu terlihat seakan semuanya berada kukuh di bawah kendali Lu Beichuan.

Jantung Ye Zhen melompat. Dia entah kenapa merasa bersalah. Menggertakkan giginya, dia diam-diam berjalan melewati pintu kamar mandi.

Menahan nafasnya, dia dengan ringan meletakkan tangannya di gagang pintu. Dengan begitu pelan, dia memutar kunci pintu. Dia berusaha untuk membuka pintu dengan pelan agar tidak memperingatkan Lu Beichuan bahwa dia pergi.

Masih ada udara panas yang berhembus dari pengering rambut dan air mengalir di kamar mandi, tapi deritan kecil ketika dia perlahan membuka pintu terasa sekeras petir bagi Ye Zhen.

Ketika pintu terbuka, dia melihat kepala pelayan tua berdiri disana memegang segelas susu. Itu seakan ia telah menunggu disana untuk waktu yang lama.

“Selamat malam, Nona Ye.”

Benar-benar tidak bersiap, Ye Zhen terlalu terkejut untuk mengatakan apapun selama beberapa saat.

Pada saat bersamaan, air dimatikan di kamar mandi. Lu Beichuan mungkin akan mendengar ada sesuatu yang terjadi di pintu. Ye Zhen hanya bisa tersenyum canggung dengan pahitnya. “Selamat malam. Lu… Beichuan masih mandi. Apakah anda memerlukan kehadirannya?”

Kepala pelayan tua tersenyum. “Tuan Muda memerintahkan saya untuk membawakan susu untuk anda. Ini masih hangat. Anda harus meminumnya sebelum dingin. Susu hangat akan membantu anda tertidur.”

Begitu dia melihat segelas susu, Ye Zhen memikirkan susu yang diracuni sebelumnya. Namun, dia mengerti bahwa kepala pelayan tua memiliki niat baik dan tidak ingin menyebutkan masalah itu untuk membuatnya kecewa.

Pintu kamar mandi terbuka. Rambut Lu Beichuan masih menetes dengan air. Ia hanya memakai sebuah jubah mandi putih. Setengah dadanya terlihat, dan otot dadanya nya dengan mudah dapat terlihat. Dia melirik Ye Zhen dengan datar, kemudian mengambil segelas susu itu dari si kepala pelayan tua.

“Terimakasih karena mau repot-repot. Tidak ada lagi yang kubutuhkan. Anda harus beristirahat.”

Si kepala pelayan tua tersenyum ramah dan berkata, “Kalau begitu saya akan pergi. Selamat malam, Tuan Muda dan Nona Ye.”

“Selamat malam.”

Pintu kamar ditutup.

AMASP 58. Dia Tidak Berani Bergerak (7)
AMASP 60. Jadi, Dia Harus Sangat Sangat Waspada dan Berhati-hati (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published.