AGTP: Chapter 17

Featured Image

Chapter ini diterjemahkan oleh penerjemah baru kami, Kak Mirai / _Akihitomirai

Editor: Kak June; Proofreader: kak Glenn

Happy reading!

.

.

Ketika aku dan Pangeran Wumin meninggalkan gang, kami memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang mengikuti kami. Ketika kami yakin kami berjalan melalui jalan lain dari sisi gang yang berbeda. Ketika kami keluar dari gang, kami mendengar suara tepuk tangan.

Aku dan Pangeran Wumin melihat satu sama lain dan berjalan menuju kerumunan orang. Setelah mendorong orang-orang di depan aku berjalan menuju pusat kerumunan dan melihat seorang gadis kecil yang tampaknya berumur sekitar 10 tahun. Wajahnya bulat dan ia mengikat rambutnya dengan dua cepolan bulat. Kepala bercepolan bulat, kulit putih dengan rona merah muda seperti wajah yang seperti dipahat dari giok, dia terlihat sangat manis. Dia mengenakan pakaian pria -sebuah jubah hijau muda yang menyapu tanah. Kedua tangannya terlalu pendek, dan lengan bajunya terlalu panjang. Tangannya tak terlihat, tetapi tersembunyi di dalam. Lengan bajunya memegang seekor hewan berbulu putih bersih yang terlihat seperti tikus atau sejenisnya.

Hewan kecil itu semanis pemiliknya, dengan mata gelap yang besar. Dia melihat sekitar dengan mata yang berbinar. Hewan kecil itu menatap setiap orang dengan semangat. Dia berbalik dan melompat ke bahu si gadis kecil.

Gadis kecil mengulurkan tangan kirinya dan mengibaskan lengan bajunya. Hewan kecil itu juga mengulurkan tangan kirinya dan mengibaskannya. Gadis kecil manis dan hewan kecil itu melakukan aksi yang sama. Hal itu membuat orang-orang merasa sangat takjub. Tidak ada seorangpun yang tidak bersorak.

Kemudian si gadis kecil mengangkat hewan kecil itu dan melemparnya ke udara dengan kekuatan penuh. Tak seorangpun tidak menahan napas. Tetapi ketika hewan itu dilempar ke udara, hewan itu menghilang tanpa jejak. Kejadian berikutnya, si gadis kecil mengeluarkannya dari lengan bajunya. Pemilik dan peliharaan itu menatap setiap orang yang tertawa gembira.

“Saya membawa Bao Zi (T/N: nama si hewan kecil) turun dari gunung untuk mencari seorang suami, saya tidak memiliki uang, saya hanya dapat menjual kemampuan saya. Saya harap setiap orang berkenan membayar. Tidak memiliki uang…-ah terima kasih sudah membayar.” Ucap si gadis kecil dengan suara ceria sembari terus membungkuk ke arah orang-orang. Hewan kecil di bahunya juga melakukan hal yang sama nampak sangat manis.

(T/N: Baozi adalah sejenis roti kukus. Di Indonesia lebih umum dikenal dengan nama pao / bakpao)

Seseorang dengan segera mengeluarkan uang dan melemparkannya ke dalam kotak kayu di sebelah.

Semua itu tampak menyenangkan dan sedikit sulit dipercaya bagiku. Gadis ini berumur tidak lebih dari 10 tahun. Bagaimana bisa… dia menuruni gunung untuk mencari suami….

Jika dipikirkan, dia sangat manis hingga orang-orang tidak bisa menolaknya. Aku mengeluarkan seratus untaian uang, maju dan melemparkan semua koin tembaga ke dalam kotak.

Pangeran Wumin mengangkat sebelah alis, berbisik:

“Hei, perempuan….”

Aku mengabaikannya, melempar uang ke dalam kotak. Uang itu jumlahnya lumayan besar yang membuat si gadis terkejut dan memfokuskan perhatiannya padaku. Aku tersenyum ramah padanya. Si gadis kecil dengan malu-malu berkata: “Tuan muda, saya… saya tidak bisa menjadi istri Anda.”

“….”

“Hahahahahaha!” Tawa Pangeran Wumin menyembur dengan dilebih-lebihkan.

Senyumku menjadi sedikit kaku. “Gadis kecil, aku… tidak berniat menjadikanmu sebagai… um istriku. Kamu bisa tenang.”

Si gadis kecil berbicara malu-malu : “Sungguhkah…. Guruku berkata, jika ada pria hebat yang tersenyum ke arahmu, umumnya orang itu menginginkanmu menjadi istrinya, dan harus berhati-hati….”

“Oh, perkataan gurumu cukup masuk akal,” aku hanya bisa berkata, “singkatnya, aku….”

Aku mendorong Pangeran Wumin, “Aku memiliki istri.”

“Oh!” Si gadis kecil mengangguk gembira.

Pangeran Wumin: “….”

Dengan kata lain, si gadis kecil kemungkinan berkata bahwa dia menuruni gunung untuk menemukan gurunya, bukan suaminya.

Si gadis kecil melihat ke kiri dan ke kanan, melihat bahwa hampir semua orang sudah pergi, dia berkata padaku dan Pangeran Wumin “Terima kasih ah, nama saya Situ Youqing. Qing seperti di hari yang cerah!”

“Oh, aku….” Sementara ini aku tidak dapat menggunakan namaku, kemudian berbicara dengan santai “Namaku Tian Wei.”

Pangeran Wumin :”….”

Situ Youqing tidak bermasalah dengan namaku, hanya berbicara dengan suara lirih: “Kalian akan menghadapi bencana berdarah malam ini, berhati-hatilah!”

‘Bao Zi’ di bahunya juga bersuara “Chi, Chi!” sambil menggetarkan bulu kecilnya untuk menunjukkan rasa takut.

“….” Aku terdiam. “Baik, terima kasih.”

Situ Youqing mengangkat kotak kayu kemudian mengerling ke arahku, “Terima kasih la! Sampai jumpa lain waktu! Ingatlah, aku tidak makan mie dengan daun bawang!”

(E/N: Nama samaran Tian Wei yang dipakai oleh Putri Changyi artinya adalah sejenis bawang yang sudah busuk / bau (kemungkinan karena diacar atau difermentasi) yang biasanya dicampurkan dalam makanan seperti mi)

Bao Zi: “Chi, Chi, Chi!”

Kacau sekali.

Pangeran Wumin tertawa hingga terjatuh, akhirnya setelah tawanya mereda, dia berkata padaku sembari mengusap perutnya: “Yun Jiao, tidakkah kamu menemukan sesuatu?”

“….”

“Jujur saja, terlihat bahwa bahkan Bao Zi lebih berotak dibandingkan dengan dirimu hahahahahahaha….”

“….”

Masalah mencari seorang ahli segera dibatalkan — aku menarik telinga Pangeran Wumin dan menyeretnya kembali ke istana secara paksa.

***

Setelah kembali ke istana bersama Pangeran Wumin, kemudian masing-masing dari kami pergi ke ruangan kami di Istana Qin dan bersikap seolah tidak ada yang terjadi.

Aku tidak tahu apapun yang terjadi di pihaknya, namun aku… mendapat sekelumit situasi disini.
Karena saudari keduaku, Putri Changhe, sebenarnya diminta untuk menemuiku.

Aku memiliki tiga kakak perempuan, seorang adik perempuan dan seorang adik laki-laki. Changhe adalah kakak keduaku. Aku dan Changhe tidak pernah akur, tidak ada alasan khusus, dia hanya terlalu disukai dan tidak pernah memperhatikanku dengan baik. Meskipun bukan hal buruk seperti menertawakan dan mengejek, pada dasarnya masih terlihat bahwa ia tidak menganggapku sebagai adik perempuannya.

Pada satu waktu ketika aku jarang bertemu dengan Ibu Suri yang sekarang. Pada saat itu Permaisuri niang-niang (E/N: Niang-niang adalah sebutan hormat untuk wanita bangsawan. Kalau di Inggris setara dengan istilah lady) mengundangku untuk datang ke taman Chunyou. Aku berumur tiga belas di tahun itu dan tidak mengetahui apapun. Aku tidak memiliki pakaian dan perhiasan bagus. Pada akhirnya, aku hanya bisa memakai pakaian lama ke taman dengan dua jepit rambut berwarna hijau tua di kepala.

Kakak tertua, kakak ketiga dan adik kelima berpakaian dengan cantik. Secara mengejutkan selir-selir istana bahkan lebih indah lagi. Bunga-bunga yang mekar sangat berwarna. Mungkin hanya diriku sendiri yang dianggap seperti rumput, hanya bisa… oh dianggap seperti noda hitam.
Setiap orang melihatnya tetapi tidak mengatakan apapun. Kakak tertua yang cukup baik memarahi orang yang bertanggung jawab menata perhiasan untukku, kakak ketiga tetap diam namun di depan umum, kakak kedua melepas jepit rambut emas di kepalanya lalu menyerahkannya kepadaku.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan apa itu rasa persaudaraan. Ketika aku hampir tidak bergerak, ia berkata dengan lirih “En, sebuah penghargaan untukmu.”

“….”

Aku sangat marah hingga melemparkan jepit rambut tepat ke alis matanya. Beruntungnya, aku terlalu marah pada saat itu hingga tanganku bergetar. Jika tidak, dengan kekuatan tanganku, aku takut dia mungkin benar-benar ditusuk sampai mati.

Setelah itu, aku tidak pernah mengikuti acara-acara besar maupun kecil istana.

Aku tidak bisa membuat wajah ramah pada Changhe, tetapi, bukan hal bagus untuk menolaknya, jadi aku membiarkannya masuk.

Setelah dia datang, aku hanya bisa memandangnya kaku.

Mungkin karena rona wajahku sangat buruk, Changhe mendekat dan memberi salam tampak agak malu dan berkata “Xi Huang….”

Empat negara, timur, barat, selatan dan utara. Penguasa dua negara Xi (bagian barat) dan Bei (bagian Utara) dipanggil Huang. Sementara penguasa Dong (bagian selatan) dan Nan (bagian timur) dipanggil Di. Aku tidak tahu kapan sebutan ini dimulai tetapi umumnya orang-orang pribumi menolak Huang Di sebagai sebutan penguasa. Jadi, mereka disebut “Bi Xia” atau “Huang Shang”. Sebutan Xi Huang semacam ini, sebenarnya sudah lama tidak kudengar.

“Oh.” Jawabku tidak peduli “Kamu…?”

Changhe menjadi semakin malu: “Saya adalah kakak perempuan Changyi. Putri Changhe, yang baru saja bertemu dengan Xi Huang kemarin.”

(T/N : kupikir maksudnya adalah WM baru bertemu dengannya pada saat perjamuan pada saat ia memperkenalkan diri sebagai pasangan CY)

“Oh.” Aku berpura-pura seperti baru mengingatnya. Changhe tersenyum dan mengangguk, aku mengubah nada suaraku dan berbicara “Apa masalahnya?”

Changhe berkata: “Sebenarnya, itu bukan sesuatu yang besar….”

“Oh, kalau begitu kamu boleh pergi.” Aku mengangguk.

“Sebenarnya, ini juga bukan masalah sepele.” Changhe terbata-bata.

Meniru sikap Pangeran Wumin, aku merasa hal ini sangat bagus tetapi merasa sedikit terganggu untuk tampak seperti ini di depan Changhe, berbicara singkat: “Intinya, apa masalahnya?”

Changhe menundukkan kepalanya, setelah beberapa saat, dengan sangat malu-malu dia berkata: “Changhe ingin bertanya, Entah apakah di dalam Istana Belakang Xi Huang, akankah ada tempat…?”

(T/N: Tempat bagi Changhe memasuki harem Wumin, tak tahu malu -_-)

Glosarium :
1. Niang-niang : digunakan untuk selir kekaisaran di istana
2. Huang : Kaisar, Xi artinya barat. Jadi maksudnya untuk menunjukkan Wu Min Jun sebagai penguasa daerah barat.
3. Di : Kaisar
4. Bu Xia : Yang Mulia; keagungannya.
5. Huang Shang : Sang Kaisar; Yang Mulia Kaisar; keagungan kekaisarannya.
6. Chen qie : Saya; bawahan ini (sebutan diri wanita berpangkat lebih rendah)
7. Jie jie : kakak perempuan.
8. Hou gong : Harem.

AGTP: Chapter 16
AGTP: Chapter 18

Leave a Reply

Your email address will not be published.