AGTP: Chapter 12

Featured Image

Chapter ini diterjemahkan oleh Kak Siska /LadyYueZhen

Editor: June ; Proofreader: Kak Glenn

Happy reading!

.

.

Ketika aku melakukan itu, Putri Sheng’an sedikit menghindar tetapi tetap berdiri di tempatnya, membiarkanku mengambil kuncup bunga yang masih berada di samping telinganya.

Dia melihat kain yang terbentang di atas meja batu itu, juga ke arah kuncup bunga yang ada di atas tanah, menatapku seraya tak mengerti: “Yang Mulia, ini….”

“Walaupun ini masih masa berkabung, kau juga tidak perlu menyematkan kuncup bunga, kau cukup mirip dengan itu, kau masih sangatlah muda, sementara kau juga memiliki kemungkinan yang terbatas. Masalah tentang ayahmu, aku merasa bersalah juga malu, tetapi itu pun merupakan usaha terakhirku saat dia mengancam nyawaku. Aku hanya mampu bertindak demikian… kau adalah pertimbanganku, tetapi aku juga tidak dapat menjamin… nyawa seorang warga, aku berharap kau lebih menghargai dirimu sendiri, jangan biarkan dirimu berada dalam bahaya.”

Aku mengakhiri perkataanku seraya aku menatap penuh arti pada kain yang ada di atas meja, aku menghela napas dan berkata: “Kau pergilah.”

Sheng’an berdiri diam di tempatnya, menatapku kosong. Tiba-tiba saja mengendurkan tangannya yang menyebabkan payungnya terjatuh ke atas tanah, mencipratkan air, dia bergegas maju bersamaan dengan bunga mekar yang ada di telinganya, dia bersandar sepenuhnya dalam pelukanku. Dia menguburkan kepalanya di pundakku, ada beberapa tetes air mata yang menetes pada diriku, meskipun cuacanya dingin, terasa panas bagiku, juga dikarenakan suaranya yang tampak putus asa.

“Kakak Qing, Kakak Qing…” dia berteriak, menangis kencang. “Kakak Qing, mengapa kau begitu baik padaku, kau jelas-jelas tahu kalau aku akan kemari untuk membunuhmu!”

“Uh….” Nona, bukannya aku ingin bersikap baik padamu, tetapi Pangeran Wumin ingin aku berpura-pura bersikap seperti itu.

Tanganku kaku selagi aku akhirnya meletakkannya di punggung Putri Sheng’an saat aku menepuknya lembut dan tidak tahu kata-kata lainnya yang harus kukatakan—Pangeran Wumin hanya mengajariku untuk mengakhirinya dengan kalimat, “Kau pergilah” dan tidak tahu apa perkembangan selanjutnya, dan sebenarnya, ini di luar kendaliku, hanya dia menangis begitu menyayat hati sekian lama, hujan yang turun perlahan semakin membesar rasanya seperti kacang menghantam wajahku. Sejak awal, aku merasa simpati pada si putri, tetapi sekarang berubah jadi tak berdaya. Hatiku juga samar-samar mulai membenci Pangeran Wumin.

Bagaimana mungkin dia tidak mengingatkanku, bahwa ada sebuah tempat berlindung di sekitar koridor untuk berlindung dari angin dan hujan.

Pada akhirnya, setelah Putri Sheng’an menangis terlalu banyak, pelan-pelan dia menarik tubuhnya dan membuka mulutnya, berkata bodoh: “Yang Mulia, mohon maafkan saya, orang hina ini baru saja menyinggungmu.”

Aku berkata kaku: “Bukan apa-apa….”

Siapa yang menyangka kalau Sheng’an mendadak berlutut. Garis pandangku ikut menurun bersamaan dengan figurnya selagi aku melihat sedikit dari sepasang sepatu putih bersulamnya yang telah terwarnai keabuan, gaunnya juga sudah kotor terkena lumpur dan basah oleh hujan.

Aku kebingungan: “Kau, ini….”

“Menjawab pada Kaisar, orang hina ini mengakui kesalahannya padamu!” Dia mengatakan itu dengan lantang, “Orang hina ini sebenarnya ingin membunuh sang Kaisar, benar-benar pantas menerima jutaan kematian!”

Aku bilang: “Uh, itu bukan apa-apa, kau, bangunlah….”

Shengan menggelengkan kepalanya, berkata: “Bukan hanya ini kasusnya, kenyataannya, klan kami juga ingin membunuh Kaisar malam ini… kali ini kami mengirimkanmu sebuah jarum beracun yang sebenarnya tidak akan mampu untuk membunuh Kaisar karena itu terlalu mudah diketahui. Kami berencana untuk membiarkan Kaisar berpikir bahwa itu hanya akan menjadi percobaan, untuk membuat Kaisar merasa tenang di malam hari dan ketika waktunya tiba, kau akan bertemu dengan pembunuhan lainnya….”

Aku terkejut. Sheng’an benar-benar mengejutkanku. Biarpun tidak ada seorang pun yang mengajariku ini, aku tahu apa yang harus kukatakan. Aku berkata setelah berdeham: “Aku tidak menyalahkanmu. Bangunlah.”

Suara tetesan air begitu lembut.

Sheng’an masih menangis: “Aku tidak mampu bangkit, Yang Mulia, sesungguhnya aku telah mencurigai bahwa kaulah yang membunuh ayahku. Aku benar-benar idiot. Dekrit kekaisaran jelas-jelas menyatakan bahwa kaulah Kaisarnya. Ada apa sebenarnya dengan ayah? Kau tidak seharusnya membunuhnya seperti itu tetapi kau adalah Kaisar, ah…. Aku sungguh seorang yang idiot. Bagaimana bisa aku mempercayai orang-orang itu? Sampai sungguh ingin membunuhmu….”

Aku terdiam beberapa saat. Tepat ketika aku baru saja akan berbicara, mendadak terdengar suara di belakangku, dengan nada yang sedikit sedih, berkata: “Kakak, kau memang bodoh.”

“….”

Kalau aku tidak salah, bukankah itu suaraku? Pangeran Wumin…. Dia memanggil Sheng’an dengan sebutan apa? Kakak…?!

Aku memutar kepalaku dan melihat ke belakang dalam diam untuk menatap Pangeran Wumin. Dia, menatap Shengan dengan mata sedih yang dipenuhi dengan emosi, bahkan matanya pun punya sedikit jejak air mata. Melihatnya muncul secara tiba-tiba, Sheng’an pun terkejut, ingin mengutarakan sesuatu ketika Pangeran Wumin, yang perlahan mendekat ke sisinya, berjongkok di sebelahnya untuk membantu memungut payungnya, berkata: “Kakak You, Aku adalah Putri ChangYi, kau pastinya mengetahui siapa aku.”

Wajah Sheng’an dingin dan kembali berubah menjadi ekspresi aslinya yang arogan: “Humph! Apa? Kau ingin menertawakanku?”

Pangeran Wumin menggelengkan kepalanya: “Bukan, bukan, bukan begitu….”

Mengapa saat Pangeran Wumin mengatakan hal seperti itu, aku benar-benar ingin muntah?

Pangeran Wumin kemudian perlahan melihat ke arahku, dan berkata: “Chenqie menyapa Kaisar.”

“Uh, oh….”

Pangeran Wumin menganggukkan kepalanya, dan juga melihat ke arah Putri Sheng’an, “Kakak You, waktuku mengenal sang Kaisar baru sekitar sepuluh hari, bagaimana mungkin bisa ada cinta di antara kami? Meskipun aku selalu berada di sisi Kaisar, aku sering merasa bahwa Yang Mulia sangat sedih. Aku tahu bahwa hati Kaisar telah memiliki orang lain, aku juga tahu bahwa orang itu adalah….”

Pangeran Wumin menghentikan ucapannya, melihat ke arah Sheng’an tanpa ada maksud yang dalam. Sheng’an tidak mampu mempercayai perkataannya, selagi dia menatapku, dia menggigiti bibirnya dan melihat ke bawah.

Aku lelah…. Pada akhirnya, apa tujuan Pangeran Wumin? Membiarkanku bertindak di tempat, untuk membuatku muntah? Ataukah untuk menghancurkan dadaku dengan sebuah batu besar?

“Namun, demi kepentingan warga kedua Kerajaan dan rakyat jelata serta negara itu sendiri, kami harus bersama-sama. Dibandingkan dengan kebaikan Kerajaan, apa artinya sebuah urusan pribadi? Aku tahu kalau Kaisar telah mengorbankan banyak hal, aku pun demikian….”

Pangeran Wumin mengambil napas yang sangat dalam, tidak membiarkan air matanya mengalir, dia melanjutkan: “Terlebih lagi, karena masalahnya sudah mencapai titik ini, aku tahu kalau kalian berdua memiliki jalinan persahabatan yang panjang, tetapi Kakak You, pernahkah kau berpikir, bahwa karena sekarang kau sudah memberitahukan semua rencana klanmu pada Kaisar, Kaisar sudah pasti akan menyiapkan sebuah tindakan balasan. Klanmu pastinya akan mengetahui bahwa kaulah orang yang membocorkan rencana itu pada sang Kaisar. Pada saat itu, kau, sebagai pengkhianat keluarga, aku takut… mereka tidak akan bertindak lembut padamu. Lagipula, mereka adalah orang-orang yang membiarkanmu datang di garis terdepan, mereka juga tahu kalau kau tidak ada di dalam hati Kaisar, kau akan mati!”

Pangeran Wumin tidak hanya mampu untuk menganalisa situasi dengan cakap, tetapi juga meneliti dengan cermat mengenai hubungan Putri Sheng’an dengan klannya, sangat tidak tahu malu.

Pangeran Wumin dengan santai melihat ke arahku dan aku langsung mengetahui maksudnya: “Tidak masalah, tidak masalah. Aku tidak akan mengambil langkah pencegahan apapun.”

“Bagaimana bisa kau melakukan itu!” Putri Sheng’an berteriak. “Kakak Qing, kau harus mencegahnya! Aku… Aku tidak masalah, aku tidak punya niat untuk mengikuti mereka. Ayahku sudah meninggal. Sebenarnya, ada sebuah properti yang tidak disita, aku tahu dimana tempatnya, tetapi mereka tidak mengetahuinya dan mereka terus saja menanyaiku. Mereka juga berbohong padaku untuk membuatku datang membunuhmu. Aku bisa kembali ke properti itu, pergi sendirian ke Kerajaan Wen Selatan. Aku telah menjadi seorang putri sekian lama, aku kira aku mengetahui segalanya, pada akhirnya aku tidak tahu apa-apa. Aku… Aku telah menjalani kehidupan tanpa menyadarinya sampai-sampai aku jadi dungu.”

Dibawah petunjuk berlanjut dari Pangeran Wumin, aku berjongkok dan ragu-ragu menjawab Sheng’an : “You-er, kalau begitu, kau sudah teraniaya.”

“Aku tidak teraniaya!” Putri Sheng’an meninggikan suaranya selagi matanya menatapku dengan lembut. “Yang Mulia, You-er bersedia melakukannya!”

Dia menyelesaikan ucapannya saat dia mendesah: “Sayang sekali, sekarang aku tidak akan pernah bisa bersama-sama dengan Yang Mulia.”

Sejujurnya, apa yang dikatakannya sedikit banyak mengandung makna tersembunyi. Jika aku sungguh menyukainya, mana mungkin aku tidak memikirkan sebuah solusi? Namun, aku berpura-pura bingung, tapi dengan tenang berkata: “Jika kita ditakdirkan, di kehidupan selanjutnya….”

Pangeran Wumin menggenggam tanganku dan tertawa: “Jangan bilang kehidupan selanjutnya. Di masa depan yang dekat pun, kalian pasti akan memiliki kesempatan itu.”

Sheng’an menatapku, menganggukkan kepalanya, berkata: “Kuharap begitu….”

Matanya sangat melankolis dan penuh kesedihan, juga mengandung harapan terhadap masa depan yang tidak diketahui. Aku tidak mampu melihat mata itu, aku hanya memberikannya sebuah senyuman, lalu tidak melihat ke arahnya lagi.

Pangeran Wumin menginterupsi: “Bagaimana kalau begini, Kakak You? Kau pergilah ke ruang baca terdekat, tuliskan sesuatu untuk diberikan pada Kaisar. Hm, kemudian biarkan Kaisar menyimpannya sebagai sebuah kenang-kenangan.”

Aku tidak tahu tujuan macam apa yang dimiliki oleh Pangeran Wumin, aku hanya bisa berkata: “Jangan memaksa You-er.”

Sheng’an mendengar apa yang baru saja kukatakan, dia tersenyum: “Tidak, aku juga bersedia melakukan ini.”

Setelahnya, Putri Sheng’an menuliskan tiga karakter: Yuan Jung An.

Tidak lama setelah itu, Sheng’an meninggalkan istana. Dia menaiki sebuah kereta sederhana keluar dari istana. Selama masa itu, dia terus saja memandangiku melalui celah tirai. Aku sungguh tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Sheng’an sudah pergi. Hujannya jadi sedikit ringan dan menolak untuk reda, tetapi tak seorangpun dengan bunga yang sama di telinga mereka yang memiliki penampilan menarik seperti Sheng’an hari itu.

Semuanya tetaplah sama, selain dari payung yang jatuh di atas tanah dan kuntum bunga terbuang yang telah jatuh ke dalam lumpur.

AGTP: Chapter 11
AGTP: Chapter 13

Leave a Reply

Your email address will not be published.