AGTP: Chapter 11

Featured Image

Chapter ini diterjemahkan oleh Kak Fitri / Anis_Mush

Editor: June ; Proofreader: Kak Glenn

Happy reading!

.

.

Pada hari berikutnya, aku sibuk hingga ke titik ingin runtuh.

Aku dulu tidak pernah terlibat dalam masalah pemerintahan, dan sekarang mereka semua tiba-tiba bergegas padaku. Untungnya, aku selalu bisa mengatur untuk membawa Pangeran Wumin bersamaku. Dia cukup berguna. Sayangnya, dalam masalah yang berkaitan dengan upacara, aku harus pergi ke dalam pertempuran sendirian. Ini tak terelakkan jadi sakit kepala yang ekstrim bagiku. Dengan kesulitan besar, upacara kenaikan berlalu dan hari ketika kami melakukan perjalanan ke Yuan Timur mendekat.

Tiga hari terakhir ketika Pangeran Wumin dan aku dipisahkan, tepatnya adalah waktu di mana seluruh keluarga Pangeran Xiuyi diturunkan menjadi status rakyat biasa. Dengan gerimis dari hujan musim gugur, seluruh Istana Yang Barat dipenuhi dengan kabut. Aku membuka payung dan berpikir tentang semua macam perbedaan dari masalah yang akan terjadi segera sesudah aku kembali ke Negara Yuan Timur. Aku tidak tahu metode apa yang Putri Sheng’an gunakan, tetapi dia datang dalam tandu, dan samar-samar bersopan-santun di sisiku. “Yang Mulia.”

Tangan yang aku gunakan untuk memegang payung segera menjadi agak goyah setelah melihat badannya yang lembut berpegangan pada sebuah payung di tengah gerimis. Dia tanpa riasan dan rambutnya terurai, dan juga memakai jubah polos putih, membuatnya tampak bercampur dengan kabut tebal di belakangnya.

Dia agak berbeda dengan dirinya yang sebelumnya. Wajahnya menampilkan keseriusan yang tenang yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Kuduga dia tidak merasakan apa-apa lagi pada Pangeran Wumin. Sebagai sesama wanita, melihatnya dikhianati oleh kekasihnya dan menjadi yatim piatu, hingga kemudian diturunkan menjadi rakyat biasa dari seorang putri, aku merasa agak tak berdaya. Oleh karena itu, aku berkata, “Kau boleh bangun.”

Hanya ketika Putri Sheng’an perlahan mengangkat kepalanya aku mendapati bahwa ada pucuk bunga berwarna putih di atas telinganya. Ini agak aneh karena orang-orang biasanya mengenakan bunga, bukan kuncup bunga.

Putri Sheng’an tertawa ringan ketika melihatku menatap pada kuncup bunga, “Yang Mulia, di akhir musim gugur ini, yang mana bukan musimnya bagi bunga untuk bersemi, kuncup bunga ini yang tidak bisa membedakan antara kebenaran dan kebohongan, dengan bodohnya mencoba membuka menjadi sekuntum bunga. Tapi dengan lingkungan saat ini, bagaimana dia mungkin bisa bertahan? Sehingga pelayan rendahanmu ini tidak bisa menanggungnya dan hanya memetiknya.”

Dia berbicara tentang kuncup bunga, tapi kenapa aku merasa bahwa dia sebenarnya sedang berbicara tentang dirinya sendiri? Tapi saat ini, aku tidak bisa menghiburnya. Terlebih, penampilan dan nada suaranya saat ini anehnya terdengar ganjil, membuatku dengan serius berpikir bahwa dia kerasukan… jadi aku hanya bisa dengan enggan berkata, “Sheng’an, kau berpikir terlalu banyak….”

Putri Sheng’an berhenti sejenak, lalu berkata, “Pelayan ini tidak dipanggil Sheng’an lagi. Itu adalah gelar yang dianugerahkan pada hamba oleh Kaisar terdahulu. Saya sekarang adalah seorang rakyat biasa … jika Yang Mulia berkehendak, saya akan suka kalau Anda memanggil saya You’er lagi.”

“….” Karena ini adalah permintaan terakhirnya, tak ada alasan kenapa aku tidak harus memenuhinya. Aku berdeham, dan berkata, “You’er….”

Putri Sheng’an tertawa, dan berkata, “Terima kasih, Yang Mulia.”

“….”

Setelah dia memberi hormat padaku, dia mengeluarkan kain, lalu membentangkannya. Di dalamnya ada jarum-jarum yang Pangeran Wumin dan aku secara tidak sengaja menusukkannya ke kepala Sheng’an hari itu….

Err, jangan bilang kalau Putri Sheng’an akan melakukan perhitungan sekarang?

Aku jadi agak waspada sambil melihatnya, tapi dia benar-benar hanya tertawa kecil, dan perlahan memberiku kain itu. “Yang Mulia, jarum adalah tanda putusnya ikatan, tampaknya Anda telah menunjukkan bagaimana perasaan Anda hari itu….”

“…'” Tampaknya aku terlalu banyak berpikir….

Dia melanjutkan, “Akan lebih baik kalau pelayan ini mengembalikan jarumnya pada Yang Mulia. Saya berharap Yang Mulia tidak akan menyalahkan kekasaran pelayan ini di masa lampau….”

Aku merenung saat menerima kain dan balik menyerahinya payung kertas minyak, “Kau gunakanlah.”

Tandunya masih ada di luar, dan ada cukup jarak dari sini ke luar. Dia sudah basah kuyup dari kepala hingga kaki, sehingga payung itu sebenarnya tak banyak membantu. Ini hanya perihal aku memberikannya padanya, bisa dipertimbangkan sebagai cara untuk menghiburnya.

Putri Sheng’an menatap kosong, tertawa, dan menerima payung kertas minyak. “Terima kasih Yang Mulia.”

Aku mengangguk.

“Pelayan ini… akan undur diri.”

Aku mengangguk lagi.

Putri Sheng’an mengangkat payung hijau itu dan perlahan berjalan menuju ke luar. Saat sosoknya mulai semakin tidak  jelas di bawah rinai hujan, sinar emas dari bagian atas kain di tanganku sangat tidak nyaman bagi mataku. Aku tak bisa tidak menaikkan suaraku pada siluet Putri Sheng’an, “Err, sebenarnya, emas di jarum emas ini semuanya asli. Kau bisa menyimpannya, dan menggunakannya jika kau tidak punya uang lagi….”

Putri Sheng’an tersandung, dan dengan kaku berbalik. “Saya berterima kasih pada Yang Mulia atas niat baiknya, tapi tidak perlu….”

Aku berkata canggung, “Mm, pergilah kalau begitu.”

Putri Sheng’an perlahan pergi sekali lagi dengan postur anggun. Aku menghela napas dan menatap dengan kosong pada kain itu.

Aku tidak yakin berapa lama waktu telah berlalu hingga suara samar seorang gadis tiba-tiba datang dari belakangku. “Apa, kau membenciku sebegitunya sampai kau akan membuatku kebasahan di bawah hujan.”

Aku berbalik, dan melihat Pangeran Wumin yang sebenarnya. Dia sedang memegang payung hijau dan menggunakan sedikit usaha untuk mengangkatnya supaya menutupiku. Aku segera mengambil payungnya dan berkata, “Tidak, aku hanya melihat Putri Sheng’an tadi. Dia mengenakan jubah putih berkabung dengan sekuncup bunga di telinganya, dan menggunakan analogi bunga untuk mengatakan sesuatu….”

Sebelum aku bahkan memiliki waktu untuk mengekspresikan keterkejutanku padanya terkait transformasi besar Putri Sheng’an, Pangeran Wumin menyipitkan matanya dan membuang kain di tanganku ke tanah.

“Apa yang kau lakukan?” Aku menatap kosong.

“Shengan memberikanmu itu?” dia menatap pada jarum-jarum emas di kain, “mungkin beracun.”

Terkejut, aku berkata, “Tidak mungkin….”

Pangeran Wumin melirik sekilas padaku dengan ketidakpedulian, membungkuk, dan menggunakan lengan bajunya untuk menggenggam sebatang jarum untuk ditusukkan pada tangkai bunga terdekat. Permukaan tangkai dengan cepat melayu, lalu berserakan di tanah. Satu yang di depan tengah mekar dengan bangganya, satu yang di belakang, seperti daun layu. Dua kontras itu luar biasa menyedihkan.

“….” Aku tidak tahu apa yang harus diucapkan untuk sejenak dan Pangeran Wumin mengangkat kain itu sambil mendesah. “Ini adalah ‘Kebajikan Tertinggi’, dan tak ada yang bisa dilakukan tentangnya. Jika kita membuangnya lagi, ini bisa membahayakan orang lain. menguburnya di tanah akan membuatnya gersang, jika kau membakarnya, orang yang menciumnya akan mati ….”

Aku tak mampu berkata-kata. “Seberacun itu?”

Pangeran Wumin berkata, “Mn, seorang tabib terkenal menelitinya beberapa waktu yang lalu, racun ini tidak memiliki penawar.”

“Benda ini seberacun itu, namun masih disebut ‘Kebajikan Tertinggi’….” Aku menggelengkan kepalaku, dan tak bisa tidak memikirkan tentang Kebajikan Tertinggi itu.

Pangeran Wumin mengerutkan bibinya dan berkata, “Nama tabib itu adalah Chang Yuji, dan telah mengalami kekejaman Kebajikan Tertinggi di masa lalu. Racun ini untuk memperingati perasaan di antara dua orang. Dia mengambil satu kata dari dua temannya yang mati untuk menamainya.”

… Benda ini sebenarnya berkaitan dengan sebuah kebajikan tertinggi!

Aku berkata dengan tercengang, “Aku punya ide di mana untuk melemparkannya.”

“Eh? Di mana?”

“Lubang pupuk.”

“….”

“Ide bagus.” Bahu Pangeran Wumin sedikit bergetar saat dia memberikanku kain itu. “Suruh pelayan untuk membuangnya ke lubang pupuk. Hati-hati untuk tidak menyentuhnya.”

Aku mengangguk, namun tidak bisa tidak bertanya, “Kau… hanya akan membiarkan Sheng’an lepas?”

Pangeran Wumin berkata dengan acuh tak acuh,”Meskipun Sheng’an impulsif, dia tidak sebodoh itu. Karena dia melakukannya dalam cara yang begitu jelas, pasti ada makna yang dalam di baliknya. Dia masih belum berjalan terlalu jauh… pergi beritahu pengawal kerajaan untuk memanggilnya kembali.”

Aku berkata dengan ragu-ragu, “Apa?”

Pangeran Wumin membisikkan beberapa kata di samping telingaku. Aku terus-terusan terkejut dengan isi dan makna yang mendalam di dalam kata-katanya, tapi melihat ekspresi tenang Pangeran Wumin, aku hanya bisa pergi dan mengirimkan pelayan untuk mencari Sheng’an. Pangeran Wumin tertawa, menyambar payung, dan perlahan berjalan ke sudut. Beberapa kedipan mata kemudian, dia menghilang tanpa jejak.

Ini benar-benar dimainkan sesuai harapan Pangeran Wumin. Tak lama kemudian, Sheng’an kembali. Takmpaknya seolah-olah dia berjalan dalam langkah yang sangat lamban, menungguku untuk memanggilnya balik.

Dia memegang payung saat berjalan, dengan langkah kaki yang tidak setenang sebelumnya. Wajahnya juga penuh dengan penderitaan, seakan dia tidak berjalan ke arahku, tapi ke regu eksekusi. Dan bagiku, Pangeran Wumin memang adalah regu eksekusinya Putri Sheng’an.

Putri Sheng’an berjalan ke depanku, dan dengan lembut memberi hormat, “Yang Mulia.”

Aku mengangguk. “Alasan kenapa aku memanggilmu ke sini karena aku tiba-tiba memikirkan sesuatu.”

“Mn.”

Dia hampir tidak memberikan jawaban. Aku menduga bahwa dia sedang menungguku memberinya beberapa macam hukuman kriminal yang tak terampunkan, tapi aku hanya mengerutkan bibirku dan berbalik untuk memetik bunga embun beku putih. Lalu, aku mengambil kuncup bunga dari telinga Putri Sheng’an dan menggantinya dengan bunga yang mekar.

AGTP: Chapter 10
AGTP: Chapter 12

Leave a Reply

Your email address will not be published.