AF 83. Membeli Tanah untuk Memperluas Rumah

Featured Image

“Kalian bertiga bekerja sama tetapi tidak bisa menahan musuh? Aku berani mengatakan, semakin lama kau hidup, semakin buruk dirimu,” Lin Si Yao duduk di samping meja tidak jauh dari tempat tidur besar. Dia menuangkan secangkir air untuk dirinya sendiri, mengejek dengan acuh tak acuh. Dia bahkan tidak peduli untuk bersikap sopan kepada Si Luo yang duduk bersila di tempat tidur untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

“Kami ceroboh …” Si Shan berkata, suaranya sedikit tertekan, “Kami tidak menyangka ‘Duet Maut Koridor Barat’ menjadi sekuat dan seberani itu. Pantas…”

“Feng Qingya tampaknya aneh …” Si Tuo, yang telah lama terdiam, tiba-tiba memberikan komentar yang dingin dan tidak jelas, tetapi entah bagaimana itu mengguncang orang-orang yang hadir di ruangan ini.

“Ha …” Lin Si Yao mencibir dingin, “Musuh ada di luar sana dan kita memiliki masalah internal untuk dipecahkan juga … Aku pikir kalian sebaiknya mengikuti ku dan menjadi petani petapa saja …”

“Si Ling …” Si Tuo terdiam, menatapnya. “Kau adalah … orang yang sudah mati. Itu sebabnya Feng Qingya tidak mendatangi mu. Tapi kita … ” Tentu saja, tidak perlu dikatakan, karena mereka ingin meninggalkan Pengadilan Feng Yao, Feng Qingya tidak akan membiarkan mereka pergi. Di mana pun mereka bersembunyi, mereka tidak akan tetap aman dan sehat.

(pengingat: Si Ling = Ah Yao; namanya ketika masih menjadi pembunuh.)

“Aku pikir kita dapat mempertimbangkan saran Si Ling …” Si Shan merenung sejenak kemudian melanjutkan, “Hari ini, Pengadilan Feng Yao telah menghapuskan peraturan yang telah ditetapkan Tuan Tua kita dulu tahun itu. Hmmph…, jika kita masih bekerja untuk Feng Qingya, kita tidak lagi menjadi pembunuh. Kita adalah hantu.”

“Aku setuju …” Si Luo membuka matanya saat dia selesai menyembuhkan lukanya. Dia melanjutkan kata-kata Si Ling, matanya tajam dan dingin, “Pikirkan tentang itu. Di antara sekitar enam ratus orang dari Pengadilan Feng Yao, ada banyak orang yang memiliki kungfu yang lebih baik daripada kita bertiga. Mengapa mereka mendesak kita untuk pergi ke Koridor Barat? Jika mereka tidak ingin mengubur mayat kita di sana, menurut mu apa yang mereka inginkan?”

Dia langsung menemukan niat jahat Feng Qingya terhadap mereka, terutama setelah insiden Si Ling. Jumlah rekan di ‘Kelompok Si’ mereka, yang diketuai oleh kelompok Si Tuo, tidak sedikit. Jika dia tidak salah, Feng Qingya ingin mengubah kepemimpinan sepenuhnya. Bukan begitu? Si Ling setahun yang lalu. Dan sekarang, mereka bertiga … Para anggota Kelompok Si yang biasa mengikuti Tuan lama akan tersapu dalam tiga setengah tahun ke depan!

Lin Si Yao merasa tak bisa berkata-kata karena tiga lainnya benar-benar menganggap saran bagai leluconnya sebagai kemungkinan.

“Oke, buat saja keputusan kita. Setelah Si Luo relatif pulih, kami akan kembali ke Pengadilan untuk menyelesaikan masalah lainnya. Kemudian, kita akan membahas ini … ” Si Tuo menenggak minuman keras di cangkirnya dan dengan santai memutuskan.

“Benar. Kita mendapat cukup banyak penghasilan. Bahkan jika kita rakus, kita tidak akan kelaparan. Selain itu, kita masih memiliki uang yang akan diberikan Si Ling kepada kita. Oh hei… Si Ling, maukah kau menepati kata-katamu?” Si Luo menyeringai, wajahnya mendapatkan kembali warna yang menyembunyikan fakta bahwa dia terluka parah.

“Kita akan menjadi tetangga Si Ling pada saat itu. Meskipun seseorang akan memperlakukan kita dengan dingin, kita tidak tahu cara memasak nasi atau tumis sayuran tanpa dia. Haha … ” Si Shan menambahkan tanpa rasa takut.

“Oke, Si Ling, kami mengandalkan mu untuk barang-barang perumahan kami. Jika kami dapat menyelesaikannya dengan cepat, kami akan kembali setelah tiga bulan. Jika kami melakukannya dengan lambat, akan memakan waktu satu tahun. Kita akan menjadi tetangga …”

Jika wajah Si Tuo tidak sedingin dan setenang biasanya, Lin Si Yao ragu jika dia benar-benar sudah berubah. Apakah kata-kata itu terlihat seperti keluar dari mulut seorang pembunuh tanpa ampun?

“Jangan lupa apa yang aku minta kau lakukan …” Dengan enggan, Lin Si Yao memandangi tiga orang yang memutuskan masa depan mereka dalam waktu lima belas menit. Diri saat ini tidak bisa datang ke Pengadilan Feng Yao, yang berjarak ribuan mil dari sini. Jadi, jika dia ingin mengambil barang-barang yang telah dia dapatkan selama paruh pertama hidupnya, yang dia sembunyikan di sana, dia harus meminta ketiganya untuk melakukan itu. Meskipun hanya seperempat yang akan kembali kepadanya, itu sudah cukup baginya untuk melakukan banyak hal di Desa Fan Hua kecil ini.

Ketika dia ingin memperluas rumahnya dan Si Tuo dan dua lainnya memintanya untuk membantu mereka dengan perumahan mereka, segera setelah dia kembali ke Desa Fan Hua, dia langsung membuat rencana untuk membeli lebih banyak tanah dan membangun rumah.


 

 

“Apa? Kau ingin membeli enam hektar tanah kosong di Barat?” Wang Geng Fa, tetua desa kota kecil itu, menatap Lin Si Yao dengan heran.

Meskipun gurun di bagian barat kota itu tidak dimiliki, dibutuhkan puluhan perak untuk membeli enam mu. Kenapa dia harus menghabiskan banyak uang untuk membeli tanah kosong?

(Mu= hektar; dalam perhitungan China.)

Bangun lebih banyak rumah? Hanya ada mereka berdua. Mengapa mereka membutuhkan rumah besar? Mengolah sawah? Mengapa mereka membutuhkan begitu banyak bidang tanah? Dua sawah dan rumah itu cukup bagi mereka untuk bertahan hidup.

Wang Geng Fa memikirkannya berulang-ulang, tetapi dia tidak tahu mengapa Lin Si Yao ingin membeli enam mu lahan kosong.

“Saya punya beberapa teman yang ingin pindah ke Desa Fan Hua. Mereka meminta saya untuk membantu mereka dengan rumah-rumah. Yah, tidak ada seorang pun di kota yang ingin menjual rumah mereka. Apalagi Shuilian sedang hamil sekarang. Kami perlu memperbesar rumah kami. Jadi, saya ingin membeli lebih banyak tanah dan membangunnya sendiri … ” Lin Si Yao jarang mengatakan kata-kata tulus seperti itu.

Sebenarnya, dia ingin membeli semua tanah dari dua bidang sawahnya ke arah Barat. Itu sekitar sepuluh hektar tanah.

Namun, dia takut bahwa penduduk desa lainnya akan menyuarakan ketidaksetujuan mereka, jadi Lin Si Yao memutuskan untuk membeli enam hektar terlebih dahulu. Dia akan mengambil dua untuk rumahnya sendiri dan empat lainnya akan digunakan untuk membangun rumah besar untuk tiga lainnya. Dan, kemudian jika mereka memiliki keluarga sendiri dan ingin membangun lebih banyak, itu bukan urusannya. Dia bukan orang tua mereka. Kenapa dia harus peduli dengan mereka saat mereka menikah, kan?

Sejujurnya, dia ragu bahwa dia bukan dirinya sendiri, dia yang dulu. Setidaknya, bukan Si Ling sebelumnya.

Coba pikirkan, satu tahun yang lalu, Si Tuo dan dua lainnya masih mengejarnya di bawah perintah. Setahun kemudian, dia harus peduli dengan rumah mereka seperti seorang ibu tua. Dia merasa dianiaya! Namun, setiap kali dia berpikir bahwa karena mereka, dia memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Shuilian dan membangun keluarga kecilnya yang hangat dan santai, dia menjadi tenang. Setiap perubahan berakhir dengan solusi. Penyebab dan akibat, itu adalah cara hidup berputar.

“Jadi, apakah dia baik-baik saja dengan itu?” Su Shuilian terkikik ketika dia memeras air dari kain basah untuk suaminya.

Ini pertengahan Juni, dan matahari di siang hari begitu menyilaukan.

Lin Si Yao telah berlatih seni bela diri dan perjalanan ke rumah tetua dewa tidak membuatnya berkeringat. Namun, Su Shuilian telah membentuk rutinitas memberinya kain lembab untuk membersihkan dan mendinginkan wajahnya setelah ia memasuki rumah.

“Ya, dia tidak punya alasan untuk tidak setuju. Lahan kosong itu akan tetap menjadi gurun tidak peduli berapa lama mereka membiarkannya. Lebih baik menjual tanah kepada kita,” Lin Si Yao menyeka wajahnya, lalu dengan santai meletakkan kain di gantungan. Lalu, dia memeluk Su Shuilian, membawanya ke ruang tamu.

“Bagaimana kabarmu hari ini?” Dia bertanya dengan lembut.

“Cukup bagus,” Su Shuilian dengan penuh kasih mengusap perutnya yang agak bundar.

Seperti yang Bibi Lao katakan padanya, perut yang mengandung anak kembar jauh lebih besar daripada yang hamil normal. Meskipun dia belum mencapai bulan keempat, perutnya sudah menonjol. Dia bertanya-tanya seberapa besar itu ketika waktunya tiba.

Dan, pikirkan tentang hal ini, Desa Fan Hua dan keduanya yang berdekatan, Desa Qing Tian dan Desa Luo Shui, belum pernah memiliki anak kembar. Dengan demikian, bahkan wanita yang tidak dikenal oleh Shuilian telah mencoba mencari alasan untuk mengikuti Bibi Lao dan Bibi Tian untuk mengunjunginya. Su Shuilian tidak tahu harus tertawa atau menangis; itu seperti dia adalah seekor burung dalam sangkar untuk dilihat orang.

(penerjemah: menurut China kuno; memiliki anak kembar itu berkah besar.)

Hari ini, Lin Si Yao akhirnya menerima sertifikat kepemilikan untuk tanah seluas enam mu dari Sun Yumao. Kemudian, dia pergi menemui Tian Dafu untuk berbicara tentang pekerjaan konstruksi.

Tentu saja, ia memutuskan untuk membangun rumah untuk tim Si Tuo terlebih dahulu.

Pertama, Su Shuilian sedang merawat bayi-bayi mereka. Dia akan segera melahirkan. Sangat sulit untuk merawatnya. Jika dia tinggal di dekat lokasi konstruksi yang bising, dia akan sangat terganggu.

Kedua, Si Tuo mengatakan bahwa setelah tiga bulan, mereka akan menyelesaikan hal-hal di Pengadilan Feng Yao dan datang ke sini untuk menetap. Dengan demikian, ia harus menyelesaikan rumah mereka terlebih dahulu, yang akan menyelesaikan masalah di mana mereka akan datang mengganggunya di rumahnya sendiri setiap hari!

Kemudian, Tian Dafu membawanya untuk melihat kontraktor paling terkenal dari tiga kota dan beberapa pekerja dan tukang kayu, termasuk tim Fang Da Sheng, yang biasa membuat furniturnya.

Mereka berkumpul di rumah Tian Dafu, membahas metode konstruksi untuk membangun rumah besar di atas empat hektar tanah di Barat. Ketika mereka mendengar bahwa seluruh rumah besar hanya akan menampung tiga orang, mereka tercengang. Segera, mereka menduga bahwa beberapa orang kaya ingin pindah. Jika tidak, mengapa mereka membutuhkan seluruh empat mu tanah untuk membangun rumah?

“Lebih baik memisahkan kamar tidur dan studi. Mereka akan berbagi ruang tamu dan dapur. Hmm, tentang daerah yang tersedia, ekstra, hanya menanam beberapa pohon bambu,” Lin Si Yao memberi mereka persyaratan umum.

Setelah memberikan permintaan minimum, Lin Si Yao bangun dengan tujuan pulang.

Sedangkan untuk sisa desain, diserahkan kepada Tian Dafu. “Setelah desain awal selesai, hitung semua bahan yang dibutuhkan, dan beri aku harga perkiraan. Aku akan membayar setengah dari jumlah itu sebelum kalian mulai. Setengah sisanya akan dibayar setelah selesai.”

Setelah dia menyelesaikan kata-katanya, Lin Si Yao menganggukkan kepalanya pada Tian Dafu yang mengindikasikan dia akan bertanggung jawab atas pengambilan keputusan. Dan dengan itu, Lin Si Yao keluar dari Rumah Tian dan berjalan pulang untuk menyiapkan makan siang.

“Da … Dafu. Apakah niat Rumah Lin itu untuk memberi kita semua wewenang dalam menentukan harga dan membayar kita setengah sebelum memulai pekerjaan?” Tidak dapat menekan keraguan batin mereka, para tukang batu berkumpul dan berdiskusi di antara mereka sendiri.

“Oh ya, Dafu, kau dan keluarganya kenal dengan baik, apakah itu yang dia maksudkan?” Sambil menyatukan tangan mereka, beberapa individu dengan gembira menghitung keuntungan mereka.

“Sudah cukup kawan. Ingat dia adalah Shifu anak ku. Bisnisnya juga bisnis ku. Sekarang cepat dan hitung jumlah yang dibutuhkan agar aku bisa memberi tahu dia. Hanya perkiraan yang baik dan jangan mencoba menipu dia. Kalian semua tahu bahwa dia adalah seniman bela diri yang terampil, jangan membawa masalah untuk dirimu sendiri.”

Tian Dafu melirik kerumunan dan memberi peringatan ringan.

“Aiyo, kita hanya berbicara, jangan mengingat ini. Ya ya ya, Dafu, mari kita hitung berapa biayanya. Kami tidak akan menjual terlalu mahal padanya, tetapi kami juga tidak dapat membayar terlalu rendah, kan?”

“Dafu, ada satu hal penting lagi … kau juga harus bertanya padanya jika perhitungannya ternyata kurang, akankah kita dikompensasi untuk yang kurang?”

Di antara kerumunan orang-orang ini, Tian Dafu tidak perlu menjelaskan, seperti yang lain, selain Fāng Dasheng, Wang Shuifa, dan Feng Lao Liu yang sudah membantu Lin Si Yao dengan proyek-proyek sebelumnya, mereka tahu bahwa dia tidak akan merugikan mereka.

Ada beberapa tukang batu, yang telah mendengar tentang kemurahan hati Lin Si Yao, yang mencoba memeras penghasilan sedikit lebih banyak.

Musim panas dan musim dingin memiliki jumlah permintaan paling sedikit untuk jenis pekerjaan ini. Beruntung bagi mereka untuk mendarat di proyek besar seperti itu, jadi mencoba untuk mendapatkan sedikit lebih banyak dengan resiko yang sangat besar itu tidak sepadan.

Jadi, perkiraan harga pada akhirnya masih adil di mata Tian Dafu.

 

 

 

 

AF 82. Persiapan Pra-Melahirkan
AF 84. Situ Yun

Author: RandomAlex

support us by reading this book only at translateindo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.