3LV – Chapter 2: Biarkan Aku Mendengarmu Memanggilki Kekasih (1)

Featured Image

Setelah aku selesai berberes dan menyelesaikan semua urusanku di alam baka, Yanwang menempatkan tiga segel di belakang kepalaku secara pribadi, masing-masing segel yang ditempatkan merepresentasikan satu kehidupan dalam dunia manusia. Setelah tiga segel itu menghilang, maka, aku harus kembali ke alam baka dan berdiri mematung di tepian sungai Wanchuang lagi.

Dengan tatapan mata iri dari makhluk spiritual yang berada di sekitar, aku terbungkus pakaian serba putih yang terbuat dari katun dan pergi ke dunia manusia.

 Dunia manusia yang sebelumnya hanya ku ketahui melalui buku-buku ternyata lebih ramai dan padat dari apa yang ada di dalam bayanganku, dan juga jauh lebih menarik dan juga….. Lebih berbahaya.

Di hari ke tigaku di Bumi, saat aku sedang berjalan keliling untuk mencari Moxi, aku melewati sebuah kuil dan menemukan bahwa kuil tersebut didedikasikan kepada Ksitigarbha Bodhisattva. Aku dengan rasa ingin memuja masuk ke dalam kuil it, berpikir untuk memanjatkan pujaan bagi beliau. Aku baru saja berlutut, belum selesai menundukkan kepala, ketika seorang bikustua yang terlihat lincah tiba-tiba berdiri di depanku sambil menggenggam silet di tangannya. Dia tersenyum ramah kepadaku: “Amithabha, wahai sang penderma, untuk mengetahui kesalahan Anda dengan mencari belas kasih Buddha, sama saja Anda berbuat baik kepada dunia.”

Huh? Belum saja aku memiliki waktu untuk memikirkan makna dibalik kata-katanya, tiba-tiba saja dia mengarahkan siletnya ke rambutku.

Aku adalah batu – Sang Batu Shansheng. Dari atas sampai kaki, hal yang paling sulit untuk tumbuhkan adalah rambutku. Aku telah memandangi rambutku selama ribuan tahun sebelum akhirnya rambutku tumbuh menjadi lebih panjang, dan tiba-tiba, si keledai tua ini berani sekali untuk mencukur rambutku! Aku mendengus dan menendangnya. Tak ku sanggka, ternyata sang biksu adalah seorang ahli bela diri. Dia dengan mudahnya menghindari tendanganku.

Dia menghapus senyuman ramah dari wajahnya. “Apa yang ingin Anda lakukan?”

“Heh, botak, aku yang seharusnya bertanya seperti itu.” aku menjawabnya.

Dia mencibir. “Wahai setan, Saya berpikir bahwa Anda ingin mengikuti ajaran Sang Buddha untuk menebus dosa-dosa Anda. ternyata Anda datang ke sini hanya untuk membuat masalah!”

“Hah? Setan? Kau salah, aku bukan….”

“Hmph, aku telah mencium bau amis kegelapan yang mengikutimu dari jarak tiga mil (4,8 KM) jauhnya. Kamu tidak bisa meyakinkaku dan lari dari sini!”

Aku mencium diriku dari kanan dan kiri, namun aku tidak mencium bau amis di badanku. Ikan-ikan yang berada di sungai Wangchuan jauh lebih amis daripada aku dulu! Si biksu tua ini tidak mau mendengarkan penjelasanku. Dia mengayunkan siletnya ke arahku lagi. Keinginanku untuk membunuh dia mulai tumbuh di hatiku, namun, peringatan dari Yangwang yang tiada akhir tiba-tiba terbesit di dalam pikiranku bahwa aku tidak boleh menyakiti siapapun.

Aku menarik kembali seranganku, dan mulai berbalik arah dan kabur.

Sang biksu tetap mengejarku keliling gunung, memaksaku berlari sampai aku kehabisan napas. Aku hanya ingin memberikan sebuah pukulan kepada keledai botak ini dan mengirimnya tidur untuk selamanya.

Namun secara tiba-tiba, semerbak bau harum melayang ke dalam penciumanku. Aku tidak pernah mencium bau harum seenak ini sebelumnya di alam baka. Perhatianku langsung terpikat oleh bau harum ini. Saat aku mendekat, lautan bunga merah tampak memenuhi pandanganku.

Para manusia menyebut musim ini sebagai musim dingin, dan mereka menyebut benda putih yang menutupi bunga-bunga merah ini sebagai salju. Namun, aku belum mengetahui nama bunga-bunga merah tersebut. Setelah melalui lautan dahan bunga yang harum ini, aku menemukan sebuah halaman yang berada di seberang.

Sambil merasa penasaran, aku membuka gerbang dan masuk ke dalam. Baru saja aku melangkahkan kakiku ke dalam halaman, segel emas yang ditinggalkan Moxi di pergelangan tanganku tiba-tiba menyala. Hatiku berdetak sangat kencang ketika aku dengan perlahan mendekati rumah utama di halaman. Tiba-tiba aku mendengar suara wanita yang lembut: “tenanglah anakku, diatas pohon, ketika angin bertiup, ayunan pun mulai bergoyang.”

Aku perlahan-lahan membuka pintu dan diam-diam mengintip ke dalam. Seorang wanita muda yang sedang duduk di kasur sambil menggendong seorang bayi di tangannya. Aku melihat lebih dekat dan tersenyum. Wajah itu, hidung itu, bibir itu, bukankah ini Moxi versi buntelan daging!?

Aku tidak mengeluarkan jerih payah sama sekali!

Namun, sekarang dia hanya sebuah buntelan daging. Dia sudah lupa dengan kehidupan lalunya dan tidak mengenal orang lain. Bagaimana mungkin aku bisa merayunya? Ataukah aku tinggal saja di sisinya dan menjadi pelindungnya sampai dia tumbuh dewasa? Dalam hal ini aku tidak bisa membiarkan wanita atau pria lain untuk mengambil keuntungan darinya ketika dia masih kecil.

Tiba-tiba, sebuah teriakan kencang yang memekakkan telinga dari arah belakang mengganggu pikiranku: “Dasar Iblis, Kemana kau mencoba untuk kabur?!”

Aku terkaget, dan buru-buru menghidar ke kiri dan menabrak pintu sampai terpental ke dalam rumah. Silet yang dipegangnya bergerak dengan sangat cepat dan aku melihat beberapa helai rambut jatuh di depan jidatku.

Dengan sedih, aku terbaring di lantai, memandang kosong pada helaian rambut hitam yang berjatuhan.

“AH!”

Suara teriakan wanita tadi seperti terdengar jauh, dan peringatan Yangwan yang dari tadi berputar-putar di kepalaku tiba-tiba hilang melayang seperti awan di langit

3LV - Chapter 1: Aku Akan Pergi Ke Dunia Manusia untuk Merayu Dia (2)

One thought on “3LV – Chapter 2: Biarkan Aku Mendengarmu Memanggilki Kekasih (1)”

Leave a Reply

Your email address will not be published.