3LV – Chapter 1: Aku Akan Pergi Ke Dunia Manusia untuk Merayu Dia (2)

Featured Image

Pergelangan tanganku merupakan bagian vital dari tubuhku. Pada saat ini, dia hanya butuh untuk sedikit mengeluarkan kekuatannya dan menekan pergelangan tanganku untuk membuatku mati kesakitan. Wajah buruk si kecil Jia dan si kecil Yi menjadi semakin pucat dari sembelumnya. Jia cepat-cepat memohon, “Tuanku! Tuanku! Nona Sansheng telah tinggal di sini di tepi sungai Wangchuan sepanjang hidupnya. Alam baka ini hanyalah tempat yang sederhana; nona muda tidak mengerti tentang etika. Aku mohon agar Tuan memaafkan nona.”

“Sansheng? Nama yang cukup aneh, namun menarik.”

Aku masih memandangnya. Aku tidak merasa takut karena tidak ada niat untuk membunuh yang terpancar dari matanya.

Dia memperhatikanku dari atas sampai bawah untuk beberapa saat, lalu melepaskan pergelangan tanganku, lalu menarik tanganku agar aku dapat berdiri. “Sungguh luar biasa bagi sebuah batu dari alam baka untuk dapat melahirkan sebuah jiwa. Kamu tidak tahu siapa aku, akan tetapi kamu menyembahku dengan sungguh-sungguh.”

Aku tiba-tiba mengerti. Ternyata bukannya aku kurang tulus dalam usahaku, namun aku melakukannya dengan terlalu berlebihan. Aku berkata dengan jujur kepadanya, “Anda begitu rupawan, sehingga membuat ku ingin….” aku tiba-tiba sadar atas ucapanku yang membuatku malu. Dengan panik aku aku menuturkan kata-kata yang bahkan aku sendiri tidak tahu kapan kata-kata itu ada di dalam benakku: “Aku ingin merayumu.”

Si kecil Jia menatapku dengan tatapan seolah-olah dia berkata “Anda benar-benar payah”

Dia terkekeh. “Sungguh makhluk yang sangat jujur.”

Aku merasa senang, berpikir bahwa itu adalah sebuah pujian.”Lalu, bolehkah saya merayu Anda?” aku cepat-cepat bertanya kepadanya.

Dia berkata dengan sedikit pertimbangan, “Saya datang ke tempat ini untuk menghadapi ujian saya, saya tidak akan tinggal lama di alam baka.”

Yang dia maksud adalah ‘tidak’. Aku menurunkan tatapanku, aku merasa sedikit kecewa.

“Apakah kamu selalu duduk di tepi sungai Wangchuan?” tiba-tiba dia betanya.

Aku mengangguk

“Apakah kamu ingin pergi keluar untuk melihat-lihat?”

Mataku bersinar; aku mengangguk dengan penuh semangat.

Dia tersenyum kecil dan menepuk kepalaku. “Karena saya telah menerima beberapa sembahan darimu hingga kamu berdarah, saya tidak ingin kamu menyembahku dengan sia-sia. Karena kamu ingin meninggalkan alam baka, saya akan berjanji kepadamu tiga kehidupan yang penuh dengan kebebasan. Tiga kehidupan yang saya jalani sebagai ujian saya juga merupakan tiga kehidupan yang kamu dapat untuk kebebasanmu. Setelah saya kembali dari ujian saya, kamu juga harus kembali dengan patuh ke sungai Wangchuan, bagaimana menurutmu?”

Tidak ada yang salah dengan apa yang dia janjikan. Aku mengangguk setuju.

Dia memberikan segel emas di pegelangan tanganku. “Sebagai makhluk spiritual, kamu harus belajar untuk menjadi lebih pintar. Setelah ini, kamu harus menjaga portal vital kamu.” dia menambahkan, “Mereka yang lebih kuat tidak selalu berbaik hati sepertiku.”

Dua setan kecil, Jia dan Yi, mengerutkan muka mereka sambil mengawalnya pergi. Aku menyentuh segel emas di pergelangan tanganku.

“Moxi!” aku berteriak memanggilnya

Berdiri di depan Jembatan Naihe, dia mengambil air yang terlupakan di tangannya dan menoleh ke arahku.

“Bolehkah aku datang ke dunia manusia untuk merayumu?”

Pertanyaanku datang dari hatiku sampai-sampai Si Tua Meng yang sedang mengaduk sup amnesiknya mengeluarkan suara tawa yang mengerikan.

Bibir Moxi juga berubah menjadi senyuman. “JIka kamu dapat menemukanku, maka silahkan saja.” dengan kata-kata terakhirnya, dia meneguk sup itu dengan sekali tegukan.

Tanpa berbalik arah, dia masuk jauh kedalam alam baka. Aku tetap memandangnya sampai dia pergi, dan tetap tidak memalingkan pandanganku meskipun dia sudah tidak terlihat lagi. Si kecil Yi kembali dari Jembatan Naihe dan melambaikan tangannya yang pucat di depanku, sambil memanggil: “Nona Sansheng!”

“Huh?”

“Nona Sansheng, apakah kamu menaruh perasaan untuknya?”

Aku akhirnya berpaling dan melihat ke arah Yi dan bertanya dengan penuh keseriusan, “apa maksudnya menaruh perasaan?”

Yi sedikit memiringkan kepalanya sambil berpikir dalam-dalam. ”Meskipun kau tidak tahu, bukankah di dalam semua buku yang Anda baca selalu mendeskripsikan antara pria dan wanita di dalam buku itu selalu “menaruh perasaan”?

Aku berpikir sejenak. Di dalam buku-buku yang sering aku baca, sang pria akan bertemu dengan sang wanita, lalu sang wanita bersikap anggun dan elok, lalu keduanya akan saling bertukar satu dua kata, dan lalu mereka mulai melakukan ooh ah ah karena mereka tidak bisa menahan diri mereka lagi. Aku tidak pernah berpikir untuk melakukan ooh ah ah dengan Moxi, jadi aku pikir aku tidak menaruh perasaan kepadanya.

Aku dengan tegas menggelengkan kepalaku. “Tidak, aku belum menaruh perasaan apapun padanya.”

Yi lalu menghela nafas panjang dan bergumam pada dirinya sendiri, “Benar juga, bagaimana mungkin sebuah batu bisa mempunyai perasaan? Aku terlalu banyak berpikir.”intinya adalah, ini adalah yang terbaik bagi nona untuk tidak menaruh perasaan kepadanya! Di dunia ini, tidak ada yang lebih menyakitkan dari kata ‘cinta’. Aku tidak mengatakan bahwa nona Shansheng tidak bisa menyukai seseorang. Namun, karena Tuan Moxi adalah seseorang yang tidak boleh dicintai oleh gadis manapun.”

“Eh, kenapa seperti itu? Dia orang yang paling sopan dan paling tampan yang pernah ku lihat.” aku berhenti, kemudian menambahkan, “dan dia juga memiliki suara yang merdu untuk didengarkan.”

“Tepat sekali. Karena segala sesuatu tentangnya itu sangat sempurna makanya Anda jangan sampai jatuh hati kepadanya! Tuan Moxi adalah Dewa Perang dari alam surga. Meskipun tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, dia hanya peduli tentang kesejahteraan dunia ini. Jika hatinya sudah dipenuhi oleh para rakyat biasa, mungkinkah ada tempat di hatinya untuk rasa cinta?”

Apakah Moxi memiliki tempat di hatinya untuk rasa cinta itu tidak penting buatku, namun hal yang pertama yang dikatakan oleh Moxi memberikanku sebuah jeda untuk berpikir. “Bagaimana mungkin orang seperti dia diposisikan sebagai dewa perang yang brutal? Jelas-jelas dia bukanlah orang yang seperti itu.”

Yi hampir memuntahkan darah. “Baik? Aku tidak benar-benar percaya akan hal itu, kan?”

Ketika dia melihatku mengangguk, Yi menggelengkan kepalanya dan berkata dengan putus asa, “ketika klan setan menyerang surga dengan 100,000 pasukan, Tuan Moxi memimpin 30,000 pasukan surga dan menyapu bersih semua pasukan setan. Setelahnya, dia memimpin pasukanya turun ke ibukota para setan dan membantai seluruh klan setan tersebut; darah mengalir bagaikan air pada saat itu. Dalam beberapa dekade terakhir, tidak ada pegerakan apapun dari bangsa setan. Itu karena semua setan yang berumur tiga tahun lebih telah dibantai.”

Aku sepertinya mengingat tentang kejadian ini. Selama kejadian tersebut, alam baka menjadi sangat penuh sesak. Suara jeritan hampir membuat istana Yangwang meledak; Jembatan Naihe hampir runtuh karena banyaknya jiwa yang berada di atasnya. Meskipun semua setan dibunuh oleh Moxi, namun perang faktanya adalah situasi untuk bertahan hidup dengan membunuh atau dibunuh. Moxi sebagai dewa perang memenuhi tugasnya yang memaksanya memakai kekerasan untuk menumpas para pemberontak. Kesetiaannya terletak pada klannya sendiri. Kekejaman yang mutlak merupakan hal yang wajar dalam pertempuran.

Aku menepuk pundak Yi. “Terima kasih telah mengatakan semua hal itu padaku. Aku akan kembali ke batu untuk berkemas-kemas sekarang.”

Yi menjadi bingung. “Nona, kemana kau akan pergi?”

Aku menyengir. “Aku akan pergi ke dunia manusia untuk merayunya.”

3LV - Chapter 1: Aku Akan Pergi Ke Dunia Manusia untuk Merayu Dia (1)
3LV - Chapter 2: Biarkan Aku Mendengarmu Memanggilki Kekasih (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published.