Chapter 02

Featured Image

Chapter ini diterjemahkan oleh remi7noor

.

.

Ketika aku terbangun keesokan paginya, langit masih agak gelap.

Aku selalu tidur larut dan bangun pagi, dan ini adalah salah satu hal yang membuat Gao Fei tidak senang denganku. Karena ketika aku pertama kali menikahinya, aku masih seorang anak egois yang bertindak dengan sengaja tanpa berpikir tentang bagaimana tindakanku akan mempengaruhi orang lain.

Karena aku tidak terbiasa tidur di tempat tidur, karena kebiasaan, ketika aku meninggalkan tempat tidur setiap pagi, gerakanku kikuk dan berisik. Setiap kali Gao Fei terbangun olehku, dia akan berbalik untuk menatapku. Tatapannya tajam seperti pisau dan suaranya dingin seperti panah, seolah-olah takut sebagian dari diriku akan melarikan diri dari ketidaksenangannya.

Dia berkata, “Jika kau tidak ada urusan di rumah sepanjang hari, bisakah kau tidak mengganggu tidur orang lain?”

Ketika dia mengucapkan kata-kata ini, aku tetap tersenyum, senyumku cerah. Aku sangat yakin bahwa senyumku bisa melebihi pancaran sinar matahari pagi, kecuali seberapapun lebarnya aku tersenyum, aku tidak pernah bisa menghangatkan hati Gao Fei.

Aku memeluknya dan berkata, “Apa aku membangunkanmu? Aku akan mengingatnya di masa depan. Kau beristirahatlah dengan tenang – aku akan membuat sarapan,” lalu aku memberinya ciuman pagi hari. Setiap kali aku melakukan itu, Gao Fei akan menutup matanya, menyeka bekas ciumanku, sebelum memalingkan kepalanya untuk terus tidur.

Mungkin karena gerakanku tenang hari ini sehingga Gao Fei tidak bangun. Dia masih tidur, lengannya yang telanjang tersampir di selimut, kembali disajikan ke arahku. Dengan hati-hati, aku duduk, mencondongkan tubuhku untuk mengamatinya. Saat aku menatap wajahnya, aku tidak bisa mengendalikan diri, membungkuk untuk mencium lembut di wajahnya. Namun di dalam hati, aku berteriak, Gao Fei, aku mencintaimu. Di dunia ini, tidak akan ada yang mencintaimu sama sepertiku.

Setelah mencuri ciuman, hatiku puas.

Aku meninggalkan tempat tidur untuk menyiapkan sarapannya.

Gao Fei suka mie kedelai. Semangkuk mi dan beberapa saus adalah hal yang dibutuhkan untuk membuatnya bahagia. Aku ingat pertama kali aku mengundangnya keluar sebagai teman, aku telah memesan meja di restoran terbaik di kota, berharap untuk makan bersamanya.

Tapi Gao Fei-ku sangat menggemaskan dan sopan serta pengertian. Dia tidak bertindak superior.

Dia berdiri di depanku, mengenakan kemeja putih dan celana kasual, sederhana dan rapi. Saat pandangannya bergeser, melihat aula di bagian dalam restoran, dia tertawa ringan, lalu berkata, “Nona He, kita tidak boleh makan di sini.”

Aku mabuk dalam tawanya, tetapi salah mengartikan kata-katanya sebagai upaya untuk menghindari makan malam kami, jadi aku buru-buru berkata, “Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” aku sangat cemas.

Tapi Gao Fei melanjutkan, “Kenapa kau harus menghabiskan begitu banyak uang ketika kau tidak mentraktir bosmu untuk makan? Makanan ini akan menghabiskan setengah gaji bulanan kita. Aku lebih suka tempat yang lebih sederhana. Tentu saja, jika Nona He mengusulkan makanan ini sebagai perjanjian bisnis, maka aku akan menerimanya.”

Ah, kau tahu, Gao Fei, bagaimana bisa hatiku tetap tidak tersentuh? Tahukah kau bahwa orang yang berdiri di depanmu memiliki kekayaan yang dibutuhkan untuk membiarkanmu makan makanan mewah dalam tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun? Jadi, Gao Fei, kau juga harus menanggung sebagian tanggung jawab karena membuatku jatuh cinta padamu.

Jika saja kau tidak begitu berhasil dan berbakat, jika saja kau lebih materialistis, sama seperti semua pria lain di dunia ini, bagaimana aku bisa jatuh cinta kepadamu? Untuk alasan apa aku terpaksa menggunakan cara yang tidak bermoral untuk mendapatkan hatimu?

Mie kecap itu sederhana dan enak tapi sulit dibuat. Pada awalnya, ketika baru belajar memasak, bisa dibilang aku telah menghabiskan lebih dari lima puluh kilogram mie. Setiap hari, meneliti cara memasak hidangan favorit Gao Fei menjadi satu-satunya hobi yang aku miliki.

Semua orang mengatakan latihan bisa membuat sempurna. Untungnya, Surga tidak mengecewakan seseorang yang gigih sepertiku. Meski Gao Fei tidak pernah memuji mie yang aku buat, aku masih bisa membedakan dari ekspresi kecil yang dia tunjukkan bahwa dia puas.

Untuk membuat mie kecap, ada dua hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, mie harus kenyal, dan kedua, kecap harus mempertahankan rasa aslinya – mereka harus harum tetapi tidak berminyak. Meskipun aku menggunakan mie terbaik, durasi merebus dan intensitas nyala api adalah faktor yang harus aku pelajari. Memasak mie secara berlebihan akan membuat mie menjadi lembut seperti tepung, tapi jika kurang matang mie akan menjadi terlalu keras.

Adapun kecap, untuk memaksimalkan kesegaran mereka, aku selalu membuatnya sendiri. Menggunakan api sedang saat memanaskan panci, aku lalu menambahkan beberapa minyak dan mengupas kacang, aduk-aduk hingga sebagian besar kacang berubah menjadi cokelat keemasan. Bersama dengan gula dan minyak wijen, aku akan mencampurnya dan terus mengaduknya sampai sausnya mencapai tekstur yang konsisten.

Setiap kali aku memasak, aku tidak merasa seperti hanya membuat semangkuk mie. Sebaliknya, itu terasa seperti sebuah karya seni bagiku, merangkum dalam bentuk yang paling sederhana dari cintaku yang kuat untuk Gao Fei. Tanpa adanya obrolan, selain mengatakan pada Gao Fei aku mencintainya berulang kali, ini adalah satu-satunya hal lain yang bisa kulakukan untuk mengungkapkan perasaanku.

Ketika tiba waktunya, piring yang dilapisi hiasan bunga emas sudah terasa hangat dengan mi kecap, aromanya melayang di seluruh ruangan. Tidak ada hiasan pada mie, karena Gao Fei tidak suka bawang merah atau bawang putih, dan bahkan tidak mengambil bawang hijau cincang.

Aku meletakkan piring itu dan kembali ke kamar tidur untuk mengambil cangkir air. Ketika aku kembali, Gao Fei sudah berdiri di ruang makan, tangan kirinya memperbaiki kancing lengan bajunya. Dia tidak menatapku, matanya menatap semangkuk mie. Kemudian dia menarik kursi dan duduk.

Aku meletakkan cangkir air di depannya, berharap dia akan mengucapkan sepatah kata pujian. Di seluruh kota ini, dia adalah satu-satunya orang yang bisa membuatku rela masuk ke dapur dan mengorbankan tidurku.

Sebenarnya, aku tidak perlu melakukan semua ini. Dari hari aku menikah dengannya, ayah menghabiskan sejumlah besar uang untuk menyewa beberapa pembantu rumah tangga. Di dalam dan di sekitar rumah, mereka ada di sana untuk mengurus semua pekerjaan rumah tangga kami. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun hidupku, aku meninggalkan rumah, jauh dari kenyamanan terlindung yang disediakan ayah untukku, jadi bagaimana bisa ayah membiarkanku melakukan sebuah pekerjaan rumah tangga?

Tapi aku hanya menggelengkan kepala saat itu, memecat semua pelayan yang disewa.

Gao Fei, kau adalah satu-satunya orang yang aku inginkan di dunia ini, dan aku bersedia menjadi seorang He Yujin yang akan kau cintai.

Gao Fei, apa kau pernah menyadari bahwa aku melakukan semua ini hanya karena aku ingin mendapatkan pujian darimu?

Tapi Gao Fei tidak pernah mengatakan kata-kata seperti itu kepadaku. Saat dia melihatku menatapnya, dia meletakkan sumpitnya dan berkata dengan tidak senang, “Nona He, apa ada yang kau butuhkan dariku di pagi hari ini?”

Dalam beberapa hari terakhir, beberapa kali dia berbicara denganku secara resmi dan semakin sering. Tanpa alasan, kepanikan ada di dalam hatiku, dan aku mati-matian menggelengkan kepalaku, menahan air mataku. Aku segera duduk di kursi menghadapnya, tersenyum sebelum aku mengangkat kepalaku lagi.

“Tidak, Gao Fei, apa kau merasakan sesuatu yang berbeda dengan mie hari ini?”

Dia menatapku, sebelum menggelengkan kepalanya karena kesal. “Tidak!”

Aku bergumam mengiyakan.

Hari ini, aku menambahkan cuka bukannya kecap, jadi bagaimana bisa kau tidak merasakan sesuatu yang berbeda? Apa hidup denganku membuat seluruh hidupmu begitu tidak berwarna sampai-sampai bahkan makanan yang kau makan semuanya terasa hambar?

Segera, Gao Fei menghabiskan makanannya, dan kembali ke kamar tidur untuk berpakaian. Aku tidak peduli dengan mangkuk mieku sendiri dan mengikutinya di belakang. Ketika aku membuka pintu, Gao Fei kebetulan mengganti celananya, dan seluruh tubuhnya hanya mengenakan sepasang celana dalam putih. Dia menatapku. Untuk sesaat, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu, tapi dia segera berbalik, membelakangiku.

Tapi aku tahu apa yang ingin dikatakan Gao Fei, karena dia sudah mengatakannya padaku beberapa kali sebelumnya.

Dia bilang bahwa dia tidak menyukai caraku melihatnya saat dia berpakaian.

Dia bilang bahwa dia tidak menyukai caraku menatapnya saat kami b******a. Entah dia sembrono, kasar, saat dia membawaku, sampai, akhirnya, aku menutup mataku, atau dia akan menutup mataku dengan telapak tangannya, meninggalkanku dalam kegelapan.

Tapi aku seperti anak muda yang tidak pernah bisa dinasehati. Ketika dia mengucapkan kata-kata itu, aku hanya tertawa. Tidak berdaya, dia hanya bisa membiarkanku melakukan apa yang aku suka.

Aku pergi ke lemari dan membantunya mengambil kembali bajunya. Lalu aku menyerahkan dasinya.

Betul. Aku hanya melakukan hal-hal konyol seperti itu untuk mendapat kesempatan membantu dia mengikat dasinya.

Dalam menghadapi keras kepalaku, tidak ada yang bisa dilakukan Gao Fei. Seringkali, terlepas dari kebencian, satu-satunya emosi lain yang dia rasakan terhadapku adalah ketidakberdayaan – ketidakberdayaan yang terukir ke dalam tulangnya, kelemahan yang ingin dihilangkan dari hidupnya.

Dan aku – aku berpegang pada ketidakberdayaannya untuk mendapatkan sebagian dari perhatiannya.

Dengan hati-hati, aku membantunya memperbaiki dasinya, merapikan lipatannya. Saat aku mengangkat kepala untuk melihat Gao Fei, tidak mengherankan, aku melihat bahwa dia tidak menatapku. Melihat bahwa aku sudah selesai, dia mundur satu langkah dan menuju ke ruang belajar untuk mengambil kopernya.

Gao Fei berangkat kerja, dan ruangan ini langsung berubah menjadi rumah yang sunyi. Matahari yang melayang melewati lengkungan jendela Prancis tidak memberi kehangatan apa pun ke ruangan ini. Aku memandangi meja sarapan yang sudah kusiapkan, dan karena aku tidak berselera, aku membuang semuanya.

Kalau boleh jujur, Lanlan benar.

Untuk alasan apa aku ingin tinggal di rumah sebesar itu? Dan untuk alasan apa aku ingin hidup dengan pria seperti itu?

Kalimat Lanlan yang paling biasa dia ucapkan adalah: He Yujin, kau sebenarnya sangat cantik. Bahkan jika seorang Kaisar tidak mempedulikanmu, kau tidak perlu mencari cendikiawan malang yang memperlakukanmu dengan dingin. Kau dilahirkan sebagai seorang puteri, dan seharusnya kau menjalani hidup dalam kecemburuan orang lain.

Setiap kali dia mengucapkan kata-kata ini, aku tidak bisa menahan tawa.

Lanlan adalah satu-satunya teman yang aku miliki, tetapi jangan salah sangka bahwa dia adalah orang yang menilai seseorang dengan status kelas. Dia tidak berasal dari latar belakang keluarga yang baik, dan termasuk kelas pekerja. Biaya universitasnya dibayar oleh usahanya sendiri, dan keluarganya bahkan tidak bisa dibandingkan dengan Gao Fei.

Dia hanya mengatakan kata-kata ini karena dia merasa tidak adil atas namaku. Aku mencintai Gao Fei dengan sepenuh hati, tapi Gao Fei tidak pernah mengakuiku, memilih untuk menutup telinga dan menutup mata terhadap cinta ini. Mekrasakannya, tetapi tidak pernah menikmatinya; menerimanya, tetapi tidak pernah mengembalikannya.

Aku ingat, suatu hari, ketika Lanlan terlalu banyak minum, dia mengaku di telingaku, “Ah Yu, jika ada seseorang yang mencintaiku seperti caramu mencintai Gao Fei, aku akan mengikutinya tanpa penyesalan.”

Lanlan mengatakan seperti itu karena dia sangat ingin dicintai, selama orang itu akan memberikan secercah kasih sayang yang samar-samar, bahkan jika semua yang tersisa hanyalah kepahitan dan kesedihan, dia masih akan mampu menanggungnya.

Ada pepatah: selama kau bersedia mengambil satu langkah ke depan, biarkan aku yang berjalan sembilan ratus sembilan puluh sembilan langkah.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, temanku satu-satunya telah mengaku padaku harapan terdalamnya. Aku tertangkap basah, tetapi setelah memulihkan pikiran, aku kemudian mulai menggunakan semua cara untuk memaksa pria yang dicintainya untuk mengambil langkah pertama ke depan.

Hanya saja, sebelum pria yang dicintai Lanlan melakukan langkah pertama, Lanlan sendiri telah mengambil langkah maju untuk memutuskan semua hubungan denganku.

Dia berdiri di depanku sembari berteriak, “He Yujin, apa kau gila! Apa kau pikir semua orang sama kejamnya denganmu, menggunakan uangmu untuk mendapatkan apa pun yang kau inginkan? Aku akhirnya mengerti mengapa Gao Fei tidak akan pernah mencintaimu – kau layak mendapatkannya!”

Aku membeku. Aku tidak tahu harus berkata apa, memperhatikan saat dia berbalik untuk pergi, berjalan keluar dari kehidupanku selamanya.

Aku hanya ingin kamu bahagia. Lanlan, hanya itu yang aku harapkan.

Ketika aku kembali ke rumah, untuk pertama kalinya, aku menangis di depan Gao Fei. Saat air mataku jatuh melewati pipiku, aku tidak menginginkan apapun selain memeluk diriku sendiri ke dalam pelukannya, tetapi Gao Fei hanya menatapku, ekspresinya tidak bergerak.

Dia berkata, “Kau layak mendapatkannya.”

Lalu dia masuk ke kamar mandi.

Dalam rentang satu hari, dua orang paling penting dalam hidupku telah berkata kepadaku, He Yujin, kau pantas mendapatkannya.

***

Setelah Gao Fei berangkat kerja, aku tidak punya pekerjaan, tapi aku tidak ingin berkeliaran di rumah tanpa tujuan.

Jadi, pada pukul 08.30, aku meninggalkan rumah. Di kota ini, selain dari rumah yang aku tinggali bersama Gao Fei, masih ada satu tempat lagi untuk aku kunjungi.

Tempat ini sebenarnya tidak bisa dianggap panti asuhan. Juga bukan panti asuhan yang hanya menerima anak-anak yang sakit parah. Ketika aku memperkejakan Lewis untuk mendesain tempat itu, aku bilang bahwa aku tidak berharap ini menjadi tempat berlindung, karena aku berharap itu akan menjadi rumah.

Tentu saja, Lewis mengerti apa yang aku maksud. Dengan lembut, dia mencium dahiku, dan berkata dia mengerti.

Sekarang, ada lima puluh enam anak di sini. Mereka semua muda, tubuh mereka rapuh dan kurus kering. Tapi ketika mereka melihatku, mereka segera cerah, dan berteriak, Bibi Yujin.

Di sini, ada orang-orang yang secara khusus dipekerjakan untuk mengurus urusan sehari-hari di tempat ini. Meskipun gaji mereka tidak tinggi, banyak dari mereka adalah sukarelawan yang bergairah dalam perjuangan mereka. Selain mereka, ada dokter dan perawat lain yang mengurus anak-anak.

Bibi Yu adalah direktur di sini. Awalnya, ia mengelola urusan perumahan keluarga He, tetapi setelah ayahku meninggal, aku memecat semua pelayan lain dan hanya menahan Bibi Yu dalam membantuku mengelola panti asuhan.

Bibi Yu adalah wanita yang baik dan lembut. Dia juga satu-satunya orang yang mencintaiku setelah ayahku meninggal.

Dia sering mengelus rambutku saat dia berkata, “Yujin, kamu adalah orang yang paling layak mendapatkan cinta di dunia ini.”

Tapi aku hanya tersenyum ketika aku berkata, “Bibi Yu, anda berpikir terlalu tinggi tentangku.”

Apa He Yujin layak untuk dicintai atau tidak adalah pertanyaan yang sepenuhnya tergantung pada apa yang dipikirkan Gao Fei.

Tapi Gao Fei selalu bilang, “He Yujin, aku membencimu, dan aku akan membencimu sampai hari kita mati – aku akan selalu membencimu.”

Bagaimana mungkin seorang Yujin yang sangat dibenci oleh Gao Fei pantas mendapatkan cinta?

Di sore hari, Gao Fei tidak pulang untuk makan. Dia bekerja sebagai karyawan biasa di dewan investasi pemerintah di dalam distrik bisnis. Ketika ayahku masih hidup, pernah ada desas-desus bahwa Gao Fei akan dinobatkan sebagai penerus perusahaannya, perusahaan yang dibangun ayah dengan susah payah.

Ayah pernah mencari melalui banyak pria dalam memilih suami yang sempurna untukku dan juga memilih orang terbaik yang dapat dia percayakan kepada perusahaannya.

Tapi ayah tak berdaya di hadapan seorang anak yang tidak berbakti sepertiku. Sejak muda, aku dimanjakan olehnya, dan hal yang paling sering aku lakukan adalah membuat ulah.

Melihat kekeraskepalaanku, ayah tidak punya pilihan selain mengizinkan aku menikahi Gao Fei. Tapi Gao Fei-ku juga keras kepala dan sombong. Dia tidak peduli dengan aset ayah, jadi perusahaan ayah tidak memiliki penerus.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.